Friday
Jul 21, 2006
10:58 pm
Akan saya sambung lagi cerita mengenai “sejarah” hidup saya di sini.
Kerusuhan di tahun 1997 membuat saya harus meninggalkan rumah saya dan (menumpang) tinggal di rumah saudara saya. Karena sesuatu dan lain hal, saya benar-benar tidak betah dengan status “menumpang” tersebut. Untuk itu saya putuskan untuk kost di tingkat akhir masa perkuliahan saya. Karena kost dan hidup tidak jauh dari kampus, membuat saya sering mendapatkan informasi yang lebih cepat dan akurat mengenai sesuatu yang ada di kampus bila dibandingkan dengan anak lain. Tahun 1999, saya mendapatkan informasi “rahasia” bahwa APT berkesempatan mengirimkan sejumlah mahasiswa dalam jumlah yang cukup banyak untuk melewati industrial training program di Belanda. Memang ini bukan tahun pertama kerja sama dengan Belanda, tetapi baru pertama kali itulah jumlah yang dikirimkan cukup “banyak”.
Suatu hal yang sangat menggembirakan hati saya karena ternyata saya mendapatkan “prioritas” lebih dari kampus untuk ikut serta dalam seleksi pengiriman trainee ke Belanda ini. Mungkin pihak kampus masih merasa sedikit “bersalah” karena tidak berhasil “mengirim” saya ke Singapore di semester 4. Selain itu memang prestasi saya cukup “lumayan” dan termasuk “aktifis” juga kok, karena daripada tidak ada kesibukan sudah terlanjur kost dekat kampus.
Dan saya menjadi jauh lebih gembira lagi setelah pada akhirnya saya benar-benar diberangkatkan ke Belanda untuk industrial training program ini dan beberapa teman dekat saya di kampus pun ikut berangkat.
Sekembalinya dari Belanda, sambil menunggu proses sidang KTA, saya iseng kirim e-mail ke agen recruitment untuk kapal pesiar. Prosesnya benar-benar cepat dan tiba-tiba saya sudah diterima dan harus berangkat ke tempat kapal itu melakukan dry dock di Piraeus, Yunani. Padahal saya ingat sekali kalau saat itu saya benar-benar cuma iseng kirim e-mail karena iklannya cuma iklan baris dan saya belum sidang KTA. Akibatnya, setelah diterima dan mengetahui tanggal keberangkatan, dosen penguji dan kajur di APT berhasil saya “paksa” untuk mempercepat masa sidang saya karena toh sebenarnya KTA itu sudah selesai dibuat dan di-ACC oleh dosen pembimbing setahun sebelumnya saat saya akan berangkat ke Belanda. KTA itu memang cuma saya buat dalam waktu 2 minggu dan bisa cepat selesai dari hasil proses “memaksa” juga ke dosen pembimbing supaya bisa selalu memeriksa bagian per bagian dari KTA saya dengan cepat.
Saya tidak mau saat balik dari Belanda masih ada pending paper yang harus saya selesaikan. Makanya terkadang saya heran kalau mendengar ada orang yang memerlukan waktu sampai setahun atau lebih untuk menyelesaikan KTA atau skripsi. Sayangnya saya tidak berhasil memaksa para pembesar kampus untuk melaksanakan sidang KTA saya sebelum saya berangkat ke Belanda..
Proses cruise recruitment sampai saya akhirnya bekerja di kapal pesiar itu pun cukup menarik. Agen meminta saya untuk memilih antara 2 posisi, cabin stewardess atau bar waitress. Hm.. between housekeeping dan F n B.. lagi-lagi saya tidak tau mana yang harus saya pilih. Hati saya condong untuk memilih bar, tetapi akhirnya saya serahkan kepada agen untuk menentukan pilihan. Agen memilihkan posisi cabin stewardess untuk saya karena menurut mereka kesempatannya jauh lebih besar.
Setelah melalui berbagai proses dan penundaan keberangkatan, akhirnya saya berangkat bersama sekitar 18 orang lainnya dari Indonesia. Wah, sampai di Yunani ternyata kami belum seharusnya diberangkatkan. Agen nekad mengirim kami karena penundaan yang terlalu lama. Mungkin mereka pikir, kalau sudah diberangkatkan mau tidak mau pihak cruise harus menerima dan sudah bukan tanggung jawab mereka lagi. Ternyata pihak cruise sangat tegas, kami dipulangkan lagi ke Jakarta setelah menginap 2 malam di Yunani dan semua kerugian dibebankan ke agen.
Setelah akhirnya benar-benar diberangkatkan, ternyata baru setengah dari kami yang bisa berangkat. Saya termasuk yang berangkat karena ternyata cabin stewardess termasuk yang diperlukan di sana. Tidak saya bayangkan sebelumnya, ternyata kondisi kapal itu benar-benar parah. Kapal itu harus menjalani waktu sekitar sebulan untuk wet dock dalam rangka perbaikan, pembersihan, dan renovasi di Piraeus sampai akhirnya bisa berlayar menyeberangi Lautan Atlantik untuk menuju Caribbean yang menjadi rute cruise tersebut. Berlayarlah kami selama hampir 1 bulan lagi dari Yunani menuju Dominican.
Yang menjadi keprihatinan saya yang terbesar adalah setengah dari kami yang belum berangkat itu ternyata tidak jadi diberangkatkan karena kondisi cruise yang tidak terlalu baik. Agen menghilang tanpa mengembalikan uang mereka yang tidak jadi berangkat. US$1700, bukan jumlah yang kecil.. 90% dari yang tidak berangkat itu adalah para pelamar posisi bar waitress. Saya berpikir, seandainya saya membiarkan diri saya yang menentukan pilihan dan memilih posisi di bar.. mungkin saya termasuk bagian dari mereka.
Bekerja sebagai cabin stewardess di kapal yang kondisinya cukup parah menjadi pengalaman pahit buat saya. Sering saya mengeluarkan air mata diam-diam sambil bekerja dan berpikir.. lulusan D3 kampus yang (katanya) cukup terkenal pun akhirnya hanya mampu bekerja membersihkan kamar dan toilet.. berapapun gajinya.
Kondisi cruise tidak terlalu baik, passanger tidak terlalu banyak, sementara pihak cruise beberapa kali harus membayar denda karena ada kebocoran minyak di perairan Jamaica. Akibatnya uang gaji dan service pun seringkali terlambat dan terhambat. Galley (kitchen) crew yang tadinya didominasi oleh Egyptian mulai mogok kerja dan akhirnya minta dipulangkan. Saya melihat sebuah peluang di sana untuk terlepas dari rutinitas pembersihan toilet yang saya lakukan setiap hari.
Begitu senangnya hati saya saat permintaan saya untuk transfer ke galley dipenuhi. New chef dari Philippine menempatkan saya di cold kitchen dan saya harus mengajarkan beberapa orang Cuba yang baru masuk.. padahal, jujur saya sendiri baru belajar.. Mereka saja yang tidak tau..
Rekan-rekan cabin stewardess (sebagian besar Rumanian) mengatakan saya bodoh karena permintaan transfer itu. Mereka mengatakan bahwa uang yang akan saya dapat dari galley yang hanya berupa gaji pokok mungkin hanya seperempat dari apa yang akan mereka dapatkan dari uang tips dan service charge di cabin. Tapi saya masa bodoh, tidak mau tau.. Persetan dengan uang! Ilmu dan ego harga diri saya di dapur akan jauh lebih banyak daripada di toilet, itu saja yang saya pikir.
Kondisi kapal makin memburuk. Crew yang tidak tahan dengan “kerja rodi” di kapal mulai mogok kerja atau pulang satu persatu. Saya sendiri mencoba bertahan meskipun kadang harus berdiri dan bekerja nonstop dari jam 6 pagi sampai jam 1 malam. Bayangan uang sejumlah US$1700 yang telah (orang tua) saya keluarkan itu saja yang menyebabkan saya mampu bertahan. Saat itu sempat terlintas di otak saya suatu pikiran, sampai kapan pun saya tidak akan pernah mau lagi bekerja di cruise apapun di manapun. Bahkan timbul pikiran yang lebih parah bahwa saya tidak mau lagi menyentuh dunia F n B maupun dunia perhotelan.
Beberapa crew yang punya hubungan luas mulai tidak sabar. Akhirnya ITF (organisasi internasional yang punya kuasa besar untuk membela hak para crew kapal pesiar) pun dilibatkan dan bertindak. Hasil akhirnya, 80% crew kapal dipulangkan dengan diberikan pesangon 3x gaji pokok. Jumlah yang cukup besar buat saya untuk dibawa ke Jakarta bila dirupiahkan. Beberapa rekan cabin stewardess berbalik memuji saya, mengatakan saya hebat dalam “meramalkan”. Pesangon itu yang jadi patokan mereka.. Gaji pokok saya 4x lipat gaji pokok mereka yang hanya mengandalkan uang tips dan service. Apalagi di saat-saat terakhir, passanger pun tidak banyak dan akibatnya uang tips + service mereka pun tidak mampu mengalahkan gaji pokok saya. Saya tidak merasa bangga dengan pujian itu. Hanya bersyukur, itu saja.. bahwa jalan saya memang sudah diatur begitu adanya. Bahwa akhirnya saya bisa pulang tanpa harus menahan perasaan lebih lama lagi sampai kontrak saya habis dan saya tetap bisa membawa hasil yang lumayan.
Cukup banyak sudah perjalanan hidup saya yang sudah saya ceritakan. Tetapi itu belum habis, masih ada lanjutannya.. Kalau sempat saya sebutkan tadi bahwa saya tidak berminat lagi dengan dunia F n B maupun perhotelan, dan ternyata saat ini saya masih berkecimpung di bidang itu.. tentu saja masih ada ceritanya. Akan saya sambung lagi di blog berikutnya. Anyway, saya janji kok kalau blog tentang ini tidak akan sampai lewat dari part 3
Tenang saja, saya selalu berusaha menepati janji saya dan tidak menjanjikan apa yang tidak bisa saya usahakan. Janji itu kata yang cukup sakral untuk saya kok. Hm.. mungkin suatu saat akan saya buat juga blog tentang “janji”.. Tapi saya tidak janji loh..
Thursday
Jul 20, 2006
4:37 pm
Menginjak usia saya yang sekarang, saya sering melihat ke belakang dan sekedar mengenang apa saja yang sudah saya lewati sampai saya mencapai hidup yang seperti sekarang ini. Setelah saya renungkan, saya tidak pernah mencita-citakan apa yang telah saya lewati atau saya raih. Semuanya berjalan begitu saja tanpa saya rencanakan dengan seksama, seakan-akan sudah ada yang mengaturnya begitu rapi.
Kalau saya mulai bercerita dari saat saya duduk di bangku SD, sepertinya terlalu jauh dan terlalu panjang. Lebih baik langsung saja saya mulai dengan apa yang telah saya lewati saat saya sudah ada di bangku SMA (sekarang sudah jadi SMU).
SMA kelas 1 semester 2, saya diminta mulai menentukan penjurusan untuk naik ke kelas 2. Dengan mudahnya saya pilih jurusan A3 (ekonomi). Ini saya pilih bukan karena nilai saya tidak cukup atau tidak mampu untuk masuk ke A1 (fisika) atau A2 (biologi). Orang tua dan beberapa teman saya pun menyayangkan mengapa saya mengambil A3 padahal nilai (dan mungkin otak) saya lebih dari cukup untuk masuk ke A1. Tetapi dengan enteng saya menjawab mereka.. Ah, untuk apa sih ceweq ambil A1 kalau akhirnya saat kuliah pun jurusannya tidak jauh dari ekonomi, akuntansi, atau sejenisnya.. karena jujur saya tidak berminat dengan mesin dan anti dengan kedokteran. Padahal saat itu saya benar-benar belum tau jurusan apa yang akan saya ambil saat saya kuliah nanti dan apa cita-cita saya. Waktu SD sih, kalau ada yang bertanya apa cita-cita saya, langsung saya jawab.. mau jadi guru.
Tapi cita-cita itu hilang dengan sendirinya saat saya makin besar.
Saat hampir lulus SMA, saya masih belum yakin jurusan apa yang harus saya ambil di bangku kuliah. Untungnya di saat saya bingung begitu, sekolah mengadakan psikotest untuk semua siswa kelas 3 untuk membantu kami menentukan penjurusan. Entah dari mana psikotest itu menilai saya.. akhirnya beberapa prioritas penjurusan yang menurut mereka baik untuk saya adalah.. Pertama: Sastra, Kedua: Bahasa Inggris, Ketiga: Pariwisata.
Hm.. saya langsung berpikir keras.. Karena saya benar-benar tidak tau apa yang akan saya ambil, saya putuskan saja untuk mengikuti hasil psikotest. Pilihan pertama saya abaikan karena saya tidak yakin sastra bisa menghasilkan banyak uang
Pilihan kedua pun saya lewati karena saya yakin untuk menjadi penerjemah handal atau ahli bahasa Inggris, saingan saya adalah para expatriat dan orang-orang yang memang kuliah di negara asal bahasa itu. Tidak mungkin saya bersaing dengan mereka. Akhirnya tinggal pilihan ketiga itulah yang tersisa, pariwisata.
Setelah bertanya kiri kanan, hanya ada 2 kampus pariwisata yang menarik minat saya.. kampus Enhaii di Bandung, dan APT di Jakarta (sudah jadi STPT sekarang). Alhasil saya daftar di kedua kampus itu. Pemilihan sub jurusan di Enhaii bikin saya bingung lagi, dan akhirnya saudara saya yang memilihkan untuk saya (saya sudah lupa jurusan apa yang dia pilihkan). Tetapi untuk pemilihan sub jurusan di APT saya bisa menentukan dengan mudah. Cuma ada 2 pilihan.. hotel atau travel. Wah, saya paling tidak bisa menghafalkan jalan, sering nyasar.. tidak mungkin saya ambil travel. Jadilah jurusan perhotelan menjadi pilihan saya. Test pertama Enhaii sudah saya lewati. Saat menunggu test kedua, saya juga telah melewati test APT yang ternyata hanya sekali dan hasilnya telah keluar sebelum jadwal test kedua Enhaii. Not bad, saya mendapatkan ranking 2 di test masuk APT.. which mean.. uang masuk agak murah sedikit..
Ternyata batas akhir pembayaran uang masuk dan BPP di APT lebih awal daripada pengumuman penerimaan di Enhaii. Ya sudah, saya putuskan saja untuk masuk ke APT dan tidak mengkuti lagi test kedua di Bandung.
Semester 4 saat saya harus mengikuti job training, bagian pengurusan training di kampus sangat yakin bahwa saya bisa mengikuti job training di Singapore. Tetapi ternyata itu bukan jalan saya. Saat itu, tahun 1997 nama Indonesia sangat jelek di mata negara lain dan banyak hotel di Singapore menolak masuknya trainee dari Indonesia. Selain itu, saat itu juga bersamaan dengan transisi mengenai masa training di kampus saya. Angkatan saya adalah angkatan awal yang harus mengikuti job training di semester 4, sementara angkatan-angkatan sebelumnya di semester 6. Alhasil saat itu ada dua angkatan yang harus mengikuti job training di saat yang bersamaan. Di saat Singapore meminimalkan jumlah trainee dari Indonesia, jumlah yang harus diberangkatkan oleh kampus saya malah melonjak 2 kali lipat dari biasanya karena masa transisi tersebut. Meskipun pihak kampus meminta saya menunggu lebih lama dan masih yakin bahwa saya akan mendapatkan kesempatan itu, akhirnya saya putuskan untuk training di Jakarta karena saya tidak mau kuliah saya tertunda hanya untuk sesuatu yang tidak pasti. Jadilah Quality Hotel, Jakarta sebagai tempat job training saya dan saya di tempatkan di bagian F n B service.. bukan karena saya memilih di sana (lagi-lagi saya belum mengetahui dimana minat saya sebenarnya), tetapi karena memang di bagian itulah mereka membutuhkan trainee. Inilah awal dari “karir” saya di dunia F n B, pertama kalinya saya benar-benar terjun ke industri ini dalam kehidupan nyata dan bukan sekedar teori atau praktek bayangan di kampus.
Yang saya ceritakan di atas tadi benar-benar baru awal dari begitu banyak hal yang saya lewati sampai kehidupan saya yang sekarang. Masih banyak peristiwa berikutnya yang meyakinkan saya bahwa hidup saya ini sudah diatur sedemikan rapinya entah oleh “Siapa”. Cerita yang lebih “seru” akan saya sambung pada blog saya berikutnya supaya saya bisa punya waktu untuk berpikir dan merangkai kata-kata yang lebih indah 
Tuesday
Jul 11, 2006
7:47 pm
Tidak akan ada habisnya bila kita membahas tentang arti seroang teman atau arti dari kata “teman” itu sendiri. Banyak ungkapan dan kalimat-kalimat indah yang berhubungan dengan kata ini. Kalimat yang paling saya sukai saat saya masih duduk di bangku SD, saya temui pada label nama bergambar kelinci lucu milik teman saya..
Don’t walk in front of me.. I might not follow
Don’t walk behind me.. I might not lead
Walk beside me.. and be my friend..
Menyadarkan saya bahwa saya tidak perlu selalu mengikuti kemauan teman saya untuk menunjukan bahwa saya senang menjadi temannya. Orang-orang yang selalu rela mengikuti kemauan saya pun belum tentu bisa saya kategorikan sebagai teman-teman saya. Saling mengingatkan, berbagi, mencari titik tengah.. itu yang perlu dilakukan dalam berteman.
Entah kenapa, saya sangat “mendewakan” arti seorang teman. Saya menganggap teman adalah orang yang sangat penting, seringkali melebihi saudara-saudara saya sendiri. Itulah sebabnya saya sangat senang saat menemukan kalimat indah lainnya (saya lupa dimana saya menemukannya) yang berhubungan dengan ini..
You can not choose your family, it’s blood that makes family..
But you have to choose your friend, it’s heart that makes friend..
Saya ingat masa SMA dulu, saya sering bertengkar dengan mama saya karena saya lebih mementingkan bersenang-senang dengan teman saya daripada mengantarkan mama saya ke suatu tempat atau melakukan sesuatu untuk beliau. Suatu hal yang cukup saya sesali sebenarnya, karena beliau kan yang melahirkan dan membesarkan saya.. Kalau saudara yang lain sih masih tidak masalah..
Akibatnya saya jadi merenung lebih lanjut, saya begitu mendewakan arti teman.. tapi apakah itu pada tempatnya.. Sepertinya saya harus lebih selektif dan menentukan kategori-kategori dari segala macam arti teman. Hal ini pernah saya utarakan kepada seorang teman dekat saya (entah dia masih ingat atau tidak), untuk mendeskripsikan beberapa kata yang berhubungan dengan kata “friend” dalam berbagai tingkatan. Saya sendiri sudah lupa jawabannya, dan sudah hampir lupa kejadian itu kalau tidak ada sesuatu dan lain hal dari teman baru saya yang membuat saya merumuskan lagi hal tersebut minggu lalu. Sebenarnya “teori” saya ini sudah saya post dalam bulletin friendster, tapi saya merasa sayang kalau tidak saya muat lagi di sini.
Someone u know can be ur FRIEND if they also know u.
GOOD FRIEND will have fun together, give their ears to listen each other and their heart to care each other.
CLOSE FRIEND always share their ups and down, happiness and sadness when they are together.
BEST FRIENDS keep others in their heart. They will know each other when they are needed even without saying a word. Happiness will be increased and sadness will be decreased naturally when they are together.
TRUE FRIEND expect nothing from u. No matter how bad u are, how ignorance u are.. true friend will still treat u as a best friend.
Mungkin terkesan sangat aneh bila saya mengatakan bahwa dalam hati kecil saya, seringkali saya sangat ingin mengetahui berada di tingkatan mana saya berada dari kategori-kategori di atas, di mata teman saya. Dan cukup mengagetkan diri saya sendiri bahwa saya pernah menanyakan itu langsung ke salah seorang teman dekat saya di SMA. Untungnya, saat itu sempat saya “cut” sebelum saya mendapatkan jawabannya. Semakin dalam saya pikirkan.. pertanyaan seperti itu tidak akan ada jawabannya. Hari ini just a friend, mungkin besok jadi best friend, lusa hanya good friend, bulan depan jadi true friend, tahun berikutnya balik ke close friend, 2 atau 3 tahun ke depan malah jadi musuh.. atau malah getting married.. ?!?
Kesadaran ini menyebabkan saya menjadi agak “anti” dengan kata “forever” apalagi kata “forever friend”.. Bukannya saya mau ekstrim dan mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang abadi di dunia.. (itu sih sudah terlalu jauh, dan saya belum sampai taraf menjadi seorang filsuf kok..) Tapi kata “forever friend” ini benar-benar tidak jelas dan sulit untuk didefinisikan apalagi kalau dilihat dari tingkatan-tingkatan yang saya “rumuskan” di atas. Ini yang menyebabkan saya menuliskan kalimat berikutnya yang juga sudah saya post dalam bulletin friendster edisi yang sama..
FOREVER FRIEND… is complicated. It consists of adverb of TIME, while TIME can change anything.. can destroy anyting, or build anything. It depends on a lot of aspects.. depends on both sides feeling instead of willing from TIME to TIME. Not only if u want to, but also if they want to.. and not only about how u feel but also about how they feel… from TIME to TIME. Anyway, it is NOT IMPOSSIBLE to have some ‘coz TIME will proof it to u. But NEVER BELEIVE the words of “Forever Friend”.. It’s easy to SAY but TIME is the ONLY ONE that have RIGHT to GIVE it to u.
Memang bulletin itu saya post untuk “menjawab” pernyataan dari seorang teman dekat saya mengenai kata “forever friend”. Dia menyatakan bahwa forever friend bisa “terwujud” bila kita mau. Wah, memang sih itu sejalan dengan motto “dimana ada kemauan di sana ada jalan..” Tapi untuk yang satu ini, sepertinya bukan hanya kemauan saja yang berperan. Apalagi, satu minggu setelah pernyataan teman dekat saya itu, saya menerima sebuah e-mail yang cukup panjang dari (ex) teman dekat saya yang lain. Inti dari e-mail itu adalah dia tidak mau berteman lagi dengan saya karena dia merasa terlalu sering “merepotkan” saya dan tidak pantas dianggap sebagai teman… Hahaha.. tidak masuk akal.. konyol.. 
Monday
Jul 10, 2006
11:40 pm
Ini adalah pertama kalinya saya membuat blog. Pada awalnya, saya tidak tau apa yang dimaksud dengan blog. Jujur, sampai detik ini pun saya belum mengerti sepenuhnya. Saya coba cari di kamus, tapi tetap tidak menemukan artinya. Setelah membaca sekian banyak blog dari sekian banyak orang, akhirnya saya menyimpulkan bahwa blog itu adalah tempat seseorang untuk menuliskan/mengetik sesuatu secara panjang lebar tentang apa saja tanpa peduli apakah ada yang akan membacanya atau tidak, meskipun dalam hati kecil kita pasti tetap saja ada harapan bahwa apa yang kita tulis itu akan dibaca oleh beberapa orang tertentu.
Dari aneka blog yang pernah saya baca, dapat terlihat typical penulisan dari sang bloggers. Ada yang memakai bahasa baku, bahasa sehari-hari, bahasa gado-gado, maupun bahasa asal. Ada blog yang jelas arah tujuannya, ada yang berputar-putar sebelum mencapai tujuan, ada juga yang tidak tentu arah. Dari ilmu pengetahuan, informasi, gosip, sekedar iseng, atau malah hanya berupa go public diary, sepertinya semua bisa masuk ke dalam dunia yang satu ini. Saya sendiri lebih memilih bahasa yang setengah baku seperti sekarang dan mungkin termasuk dalam salah satu kategori yang tidak tentu arah. Sebagai seorang amatir, kesulitan saya yang utama adalah dalam pembuatan judul. Semoga dengan berjalannya waktu, kemampuan saya akan semakin berkembang dan judul-judul blog berikutnya tidak hanya akan berkisar pada blog kedua, ketiga, dan seterusnya..
Niat saya untuk mulai terlibat dalam dunia blog timbul beberapa detik yang lalu. Saya baru saja mengirim e-mail yang sangat panjang untuk seseorang. Kemudian saya log-in di friendster dan kembali menulis message yang sangat panjang untuk seseorang. Alhasil, saya kecewa karena ternyata jumlah character dalam message friendster itu terbatas dan saya tidak bisa menulis sepanjang yang saya inginkan. Tapi dari situ saya berpikir, pasti ada alasan dari si pendiri friendster untuk membatasi jumlah huruf dalam message. Penerima dari message/e-mail yang kita kirimkan belum tentu senang atau punya waktu untuk membaca mail yang panjang lebar dari seseorang. Pikiran yang timbul selanjutnya adalah, mungkin saja selama ini mail-mail panjang yang sering saya kirimkan sering tidak terbaca sepenuhnya oleh si penerima mail. Bila memang demikian adanya, rasanya cukup menyedihkan.. Saya menulis panjang lebar, berharap orang yang saya tuju membaca dengan seksama, padahal belum tentu orang itu punya waktu yang cukup. Lebih baik, kalau memang saya punya hobi untuk menulis/mengetik panjang lebar, saya tuangkan saja dalam blog. Ini akan menghindari resiko kekecewaan karena sejak awal pengetikan saya sudah menyadari bahwa apa yang saya tulis belum tentu ada yang membaca ataupun merespon. Bila ada orang yang pada akhirnya memberikan respon berarti orang tersebut memang menunjukan niat untuk membaca, karena orang yang tidak punya waktu tidak akan membuang lagi sedikit dari waktunya yang berharga untuk membaca blog orang lain.
Saya yakin seyakin-yakinnya kalau blogs yang akan saya tulis berikutnya tidak akan terlalu berbobot apalagi bila dibandingkan dengan blog dari kakak saya yang saya nilai sebagai salah satu blogger handal yang selalu bisa memberikan sumber-sumber ilmiah maupun link-link khusus dalam setiap blog-nya. Apa yang akan saya sajikan dalam ketikan saya kemungkinan besar hanyalah berupa pengalaman-pengalaman hidup saya maupun “teori-teori” yang datangnya hanya dari otak saya dan berdasar dari hati saya. Banyak teman dan rekan saya yang mengatakan bahwa saya mampu meyakinkan orang dengan pengalaman pribadi saya maupun “teori-teori” tertentu yang kadang aneh dan tidak terpikirkan oleh orang lain atau malah bertentangan dengan “teori” umumnya. Jadi sangatlah disayangkan bila “bakat” saya itu tidak saya pertahankan dan saya bina lebih lanjut
Sebenarnya, itu adalah kalimat yang lebih halus daripada kalimat “kapan lagi saya bisa berbicara seenaknya tentang diri saya dan pikiran-pikiran saya dan berharap orang yang membaca bisa lebih mengenal saya..” 