Menginjak usia saya yang sekarang, saya sering melihat ke belakang dan sekedar mengenang apa saja yang sudah saya lewati sampai saya mencapai hidup yang seperti sekarang ini. Setelah saya renungkan, saya tidak pernah mencita-citakan apa yang telah saya lewati atau saya raih. Semuanya berjalan begitu saja tanpa saya rencanakan dengan seksama, seakan-akan sudah ada yang mengaturnya begitu rapi.
Kalau saya mulai bercerita dari saat saya duduk di bangku SD, sepertinya terlalu jauh dan terlalu panjang. Lebih baik langsung saja saya mulai dengan apa yang telah saya lewati saat saya sudah ada di bangku SMA (sekarang sudah jadi SMU).
SMA kelas 1 semester 2, saya diminta mulai menentukan penjurusan untuk naik ke kelas 2. Dengan mudahnya saya pilih jurusan A3 (ekonomi). Ini saya pilih bukan karena nilai saya tidak cukup atau tidak mampu untuk masuk ke A1 (fisika) atau A2 (biologi). Orang tua dan beberapa teman saya pun menyayangkan mengapa saya mengambil A3 padahal nilai (dan mungkin otak) saya lebih dari cukup untuk masuk ke A1. Tetapi dengan enteng saya menjawab mereka.. Ah, untuk apa sih ceweq ambil A1 kalau akhirnya saat kuliah pun jurusannya tidak jauh dari ekonomi, akuntansi, atau sejenisnya.. karena jujur saya tidak berminat dengan mesin dan anti dengan kedokteran. Padahal saat itu saya benar-benar belum tau jurusan apa yang akan saya ambil saat saya kuliah nanti dan apa cita-cita saya. Waktu SD sih, kalau ada yang bertanya apa cita-cita saya, langsung saya jawab.. mau jadi guru.
Tapi cita-cita itu hilang dengan sendirinya saat saya makin besar.
Saat hampir lulus SMA, saya masih belum yakin jurusan apa yang harus saya ambil di bangku kuliah. Untungnya di saat saya bingung begitu, sekolah mengadakan psikotest untuk semua siswa kelas 3 untuk membantu kami menentukan penjurusan. Entah dari mana psikotest itu menilai saya.. akhirnya beberapa prioritas penjurusan yang menurut mereka baik untuk saya adalah.. Pertama: Sastra, Kedua: Bahasa Inggris, Ketiga: Pariwisata.
Hm.. saya langsung berpikir keras.. Karena saya benar-benar tidak tau apa yang akan saya ambil, saya putuskan saja untuk mengikuti hasil psikotest. Pilihan pertama saya abaikan karena saya tidak yakin sastra bisa menghasilkan banyak uang
Pilihan kedua pun saya lewati karena saya yakin untuk menjadi penerjemah handal atau ahli bahasa Inggris, saingan saya adalah para expatriat dan orang-orang yang memang kuliah di negara asal bahasa itu. Tidak mungkin saya bersaing dengan mereka. Akhirnya tinggal pilihan ketiga itulah yang tersisa, pariwisata.
Setelah bertanya kiri kanan, hanya ada 2 kampus pariwisata yang menarik minat saya.. kampus Enhaii di Bandung, dan APT di Jakarta (sudah jadi STPT sekarang). Alhasil saya daftar di kedua kampus itu. Pemilihan sub jurusan di Enhaii bikin saya bingung lagi, dan akhirnya saudara saya yang memilihkan untuk saya (saya sudah lupa jurusan apa yang dia pilihkan). Tetapi untuk pemilihan sub jurusan di APT saya bisa menentukan dengan mudah. Cuma ada 2 pilihan.. hotel atau travel. Wah, saya paling tidak bisa menghafalkan jalan, sering nyasar.. tidak mungkin saya ambil travel. Jadilah jurusan perhotelan menjadi pilihan saya. Test pertama Enhaii sudah saya lewati. Saat menunggu test kedua, saya juga telah melewati test APT yang ternyata hanya sekali dan hasilnya telah keluar sebelum jadwal test kedua Enhaii. Not bad, saya mendapatkan ranking 2 di test masuk APT.. which mean.. uang masuk agak murah sedikit..
Ternyata batas akhir pembayaran uang masuk dan BPP di APT lebih awal daripada pengumuman penerimaan di Enhaii. Ya sudah, saya putuskan saja untuk masuk ke APT dan tidak mengkuti lagi test kedua di Bandung.
Semester 4 saat saya harus mengikuti job training, bagian pengurusan training di kampus sangat yakin bahwa saya bisa mengikuti job training di Singapore. Tetapi ternyata itu bukan jalan saya. Saat itu, tahun 1997 nama Indonesia sangat jelek di mata negara lain dan banyak hotel di Singapore menolak masuknya trainee dari Indonesia. Selain itu, saat itu juga bersamaan dengan transisi mengenai masa training di kampus saya. Angkatan saya adalah angkatan awal yang harus mengikuti job training di semester 4, sementara angkatan-angkatan sebelumnya di semester 6. Alhasil saat itu ada dua angkatan yang harus mengikuti job training di saat yang bersamaan. Di saat Singapore meminimalkan jumlah trainee dari Indonesia, jumlah yang harus diberangkatkan oleh kampus saya malah melonjak 2 kali lipat dari biasanya karena masa transisi tersebut. Meskipun pihak kampus meminta saya menunggu lebih lama dan masih yakin bahwa saya akan mendapatkan kesempatan itu, akhirnya saya putuskan untuk training di Jakarta karena saya tidak mau kuliah saya tertunda hanya untuk sesuatu yang tidak pasti. Jadilah Quality Hotel, Jakarta sebagai tempat job training saya dan saya di tempatkan di bagian F n B service.. bukan karena saya memilih di sana (lagi-lagi saya belum mengetahui dimana minat saya sebenarnya), tetapi karena memang di bagian itulah mereka membutuhkan trainee. Inilah awal dari “karir” saya di dunia F n B, pertama kalinya saya benar-benar terjun ke industri ini dalam kehidupan nyata dan bukan sekedar teori atau praktek bayangan di kampus.
Yang saya ceritakan di atas tadi benar-benar baru awal dari begitu banyak hal yang saya lewati sampai kehidupan saya yang sekarang. Masih banyak peristiwa berikutnya yang meyakinkan saya bahwa hidup saya ini sudah diatur sedemikan rapinya entah oleh “Siapa”. Cerita yang lebih “seru” akan saya sambung pada blog saya berikutnya supaya saya bisa punya waktu untuk berpikir dan merangkai kata-kata yang lebih indah

July 21, 2006   10:39 am
-♥-Anung-♥-
“Siapa” itu saya?
July 21, 2006   2:00 pm
-♥-Adrian-♥-
“There are no coincidences, … Only the illusion of coincidence” - V for Vendetta