Akan saya sambung lagi cerita mengenai “sejarah” hidup saya di sini.
Kerusuhan di tahun 1997 membuat saya harus meninggalkan rumah saya dan (menumpang) tinggal di rumah saudara saya. Karena sesuatu dan lain hal, saya benar-benar tidak betah dengan status “menumpang” tersebut. Untuk itu saya putuskan untuk kost di tingkat akhir masa perkuliahan saya. Karena kost dan hidup tidak jauh dari kampus, membuat saya sering mendapatkan informasi yang lebih cepat dan akurat mengenai sesuatu yang ada di kampus bila dibandingkan dengan anak lain. Tahun 1999, saya mendapatkan informasi “rahasia” bahwa APT berkesempatan mengirimkan sejumlah mahasiswa dalam jumlah yang cukup banyak untuk melewati industrial training program di Belanda. Memang ini bukan tahun pertama kerja sama dengan Belanda, tetapi baru pertama kali itulah jumlah yang dikirimkan cukup “banyak”.
Suatu hal yang sangat menggembirakan hati saya karena ternyata saya mendapatkan “prioritas” lebih dari kampus untuk ikut serta dalam seleksi pengiriman trainee ke Belanda ini. Mungkin pihak kampus masih merasa sedikit “bersalah” karena tidak berhasil “mengirim” saya ke Singapore di semester 4. Selain itu memang prestasi saya cukup “lumayan” dan termasuk “aktifis” juga kok, karena daripada tidak ada kesibukan sudah terlanjur kost dekat kampus.
Dan saya menjadi jauh lebih gembira lagi setelah pada akhirnya saya benar-benar diberangkatkan ke Belanda untuk industrial training program ini dan beberapa teman dekat saya di kampus pun ikut berangkat.
Sekembalinya dari Belanda, sambil menunggu proses sidang KTA, saya iseng kirim e-mail ke agen recruitment untuk kapal pesiar. Prosesnya benar-benar cepat dan tiba-tiba saya sudah diterima dan harus berangkat ke tempat kapal itu melakukan dry dock di Piraeus, Yunani. Padahal saya ingat sekali kalau saat itu saya benar-benar cuma iseng kirim e-mail karena iklannya cuma iklan baris dan saya belum sidang KTA. Akibatnya, setelah diterima dan mengetahui tanggal keberangkatan, dosen penguji dan kajur di APT berhasil saya “paksa” untuk mempercepat masa sidang saya karena toh sebenarnya KTA itu sudah selesai dibuat dan di-ACC oleh dosen pembimbing setahun sebelumnya saat saya akan berangkat ke Belanda. KTA itu memang cuma saya buat dalam waktu 2 minggu dan bisa cepat selesai dari hasil proses “memaksa” juga ke dosen pembimbing supaya bisa selalu memeriksa bagian per bagian dari KTA saya dengan cepat.
Saya tidak mau saat balik dari Belanda masih ada pending paper yang harus saya selesaikan. Makanya terkadang saya heran kalau mendengar ada orang yang memerlukan waktu sampai setahun atau lebih untuk menyelesaikan KTA atau skripsi. Sayangnya saya tidak berhasil memaksa para pembesar kampus untuk melaksanakan sidang KTA saya sebelum saya berangkat ke Belanda..
Proses cruise recruitment sampai saya akhirnya bekerja di kapal pesiar itu pun cukup menarik. Agen meminta saya untuk memilih antara 2 posisi, cabin stewardess atau bar waitress. Hm.. between housekeeping dan F n B.. lagi-lagi saya tidak tau mana yang harus saya pilih. Hati saya condong untuk memilih bar, tetapi akhirnya saya serahkan kepada agen untuk menentukan pilihan. Agen memilihkan posisi cabin stewardess untuk saya karena menurut mereka kesempatannya jauh lebih besar.
Setelah melalui berbagai proses dan penundaan keberangkatan, akhirnya saya berangkat bersama sekitar 18 orang lainnya dari Indonesia. Wah, sampai di Yunani ternyata kami belum seharusnya diberangkatkan. Agen nekad mengirim kami karena penundaan yang terlalu lama. Mungkin mereka pikir, kalau sudah diberangkatkan mau tidak mau pihak cruise harus menerima dan sudah bukan tanggung jawab mereka lagi. Ternyata pihak cruise sangat tegas, kami dipulangkan lagi ke Jakarta setelah menginap 2 malam di Yunani dan semua kerugian dibebankan ke agen.
Setelah akhirnya benar-benar diberangkatkan, ternyata baru setengah dari kami yang bisa berangkat. Saya termasuk yang berangkat karena ternyata cabin stewardess termasuk yang diperlukan di sana. Tidak saya bayangkan sebelumnya, ternyata kondisi kapal itu benar-benar parah. Kapal itu harus menjalani waktu sekitar sebulan untuk wet dock dalam rangka perbaikan, pembersihan, dan renovasi di Piraeus sampai akhirnya bisa berlayar menyeberangi Lautan Atlantik untuk menuju Caribbean yang menjadi rute cruise tersebut. Berlayarlah kami selama hampir 1 bulan lagi dari Yunani menuju Dominican.
Yang menjadi keprihatinan saya yang terbesar adalah setengah dari kami yang belum berangkat itu ternyata tidak jadi diberangkatkan karena kondisi cruise yang tidak terlalu baik. Agen menghilang tanpa mengembalikan uang mereka yang tidak jadi berangkat. US$1700, bukan jumlah yang kecil.. 90% dari yang tidak berangkat itu adalah para pelamar posisi bar waitress. Saya berpikir, seandainya saya membiarkan diri saya yang menentukan pilihan dan memilih posisi di bar.. mungkin saya termasuk bagian dari mereka.
Bekerja sebagai cabin stewardess di kapal yang kondisinya cukup parah menjadi pengalaman pahit buat saya. Sering saya mengeluarkan air mata diam-diam sambil bekerja dan berpikir.. lulusan D3 kampus yang (katanya) cukup terkenal pun akhirnya hanya mampu bekerja membersihkan kamar dan toilet.. berapapun gajinya.
Kondisi cruise tidak terlalu baik, passanger tidak terlalu banyak, sementara pihak cruise beberapa kali harus membayar denda karena ada kebocoran minyak di perairan Jamaica. Akibatnya uang gaji dan service pun seringkali terlambat dan terhambat. Galley (kitchen) crew yang tadinya didominasi oleh Egyptian mulai mogok kerja dan akhirnya minta dipulangkan. Saya melihat sebuah peluang di sana untuk terlepas dari rutinitas pembersihan toilet yang saya lakukan setiap hari.
Begitu senangnya hati saya saat permintaan saya untuk transfer ke galley dipenuhi. New chef dari Philippine menempatkan saya di cold kitchen dan saya harus mengajarkan beberapa orang Cuba yang baru masuk.. padahal, jujur saya sendiri baru belajar.. Mereka saja yang tidak tau..
Rekan-rekan cabin stewardess (sebagian besar Rumanian) mengatakan saya bodoh karena permintaan transfer itu. Mereka mengatakan bahwa uang yang akan saya dapat dari galley yang hanya berupa gaji pokok mungkin hanya seperempat dari apa yang akan mereka dapatkan dari uang tips dan service charge di cabin. Tapi saya masa bodoh, tidak mau tau.. Persetan dengan uang! Ilmu dan ego harga diri saya di dapur akan jauh lebih banyak daripada di toilet, itu saja yang saya pikir.
Kondisi kapal makin memburuk. Crew yang tidak tahan dengan “kerja rodi” di kapal mulai mogok kerja atau pulang satu persatu. Saya sendiri mencoba bertahan meskipun kadang harus berdiri dan bekerja nonstop dari jam 6 pagi sampai jam 1 malam. Bayangan uang sejumlah US$1700 yang telah (orang tua) saya keluarkan itu saja yang menyebabkan saya mampu bertahan. Saat itu sempat terlintas di otak saya suatu pikiran, sampai kapan pun saya tidak akan pernah mau lagi bekerja di cruise apapun di manapun. Bahkan timbul pikiran yang lebih parah bahwa saya tidak mau lagi menyentuh dunia F n B maupun dunia perhotelan.
Beberapa crew yang punya hubungan luas mulai tidak sabar. Akhirnya ITF (organisasi internasional yang punya kuasa besar untuk membela hak para crew kapal pesiar) pun dilibatkan dan bertindak. Hasil akhirnya, 80% crew kapal dipulangkan dengan diberikan pesangon 3x gaji pokok. Jumlah yang cukup besar buat saya untuk dibawa ke Jakarta bila dirupiahkan. Beberapa rekan cabin stewardess berbalik memuji saya, mengatakan saya hebat dalam “meramalkan”. Pesangon itu yang jadi patokan mereka.. Gaji pokok saya 4x lipat gaji pokok mereka yang hanya mengandalkan uang tips dan service. Apalagi di saat-saat terakhir, passanger pun tidak banyak dan akibatnya uang tips + service mereka pun tidak mampu mengalahkan gaji pokok saya. Saya tidak merasa bangga dengan pujian itu. Hanya bersyukur, itu saja.. bahwa jalan saya memang sudah diatur begitu adanya. Bahwa akhirnya saya bisa pulang tanpa harus menahan perasaan lebih lama lagi sampai kontrak saya habis dan saya tetap bisa membawa hasil yang lumayan.
Cukup banyak sudah perjalanan hidup saya yang sudah saya ceritakan. Tetapi itu belum habis, masih ada lanjutannya.. Kalau sempat saya sebutkan tadi bahwa saya tidak berminat lagi dengan dunia F n B maupun perhotelan, dan ternyata saat ini saya masih berkecimpung di bidang itu.. tentu saja masih ada ceritanya. Akan saya sambung lagi di blog berikutnya. Anyway, saya janji kok kalau blog tentang ini tidak akan sampai lewat dari part 3
Tenang saja, saya selalu berusaha menepati janji saya dan tidak menjanjikan apa yang tidak bisa saya usahakan. Janji itu kata yang cukup sakral untuk saya kok. Hm.. mungkin suatu saat akan saya buat juga blog tentang “janji”.. Tapi saya tidak janji loh..

July 22, 2006   3:49 am
-♥-Leia-♥-
Priii … *hiks hiks terharu* … coba dibikin novel, trus dibikin film … laku kale Pri, kayak “The Devil Wears Prada” geto … huihihihihih … Ayo dooong sambung lagi ke part 3 … bikin trilogy donk … (emangnya George Lucas kale dee)
March 17, 2008   11:49 pm
-♥-endah-♥-
ternyata….
kirain cuma saya aja yang dulu hidup dengan air mata….. ha ha ha….
makin lama makin bangga deh sama kamu !!!
xxx