Sudah saatnya untuk menceritakan lanjutan perjalanan panjang hidup saya. Saat ini saya kembali berada di tanah rantau, terpisah oleh laut dari negara asal saya. Bila ada yang pernah membaca dan masih ingat apa yang saya bayangkan sebagai suatu kenikmatan yang ingin saya raih pada akhir cerita saya satu setengah tahun yang silam.. Saat itu, saya mengatakan bahwa posisi seorang ‘Executive Trainer’ atau ‘Training Director’ yang handal akan terdengar sangat indah di kuping saya dibandingkan dengan posisi-posisi lain. Saat itu, saya masih bertanya-tanya apakah hal tersebut dapat terwujud. Saat ini.. saya akan bercerita bagaimana hal ini ternyata belum bisa terwujud, masih sangat jauh dari terwujud, atau malah tidak akan terwujud, bahkan mungkin saya sudah tidak ingin mewujudkanya. Jalan hidup saya ternyata tidak diatur ke arah sana oleh yang mengaturnya.

Keyakinan saya bahwa saya akan dapat maju bersama dengan cafe yang saya kelola membuahkan hasil yang tidak mengecewakan. Dibawah kepemimpinan saya (dan tentu saja manager saya) serta bantuan dari para staff khususnya opening team, cafe tersebut dapat maju secara perlahan tapi pasti. Tentu saja bukan tanpa kendala, tetapi hal tersebut tidak perlu saya ceritakan di sini. Pada bulan Agustus 2007, saya kembali terlibat dalam pre-opening. Pre-opening outlet kedua dipercayakan penuh kepada saya (tentu saja tetap dengan bantuan dan dukungan penuh dari manager saya). Pre-opening tiga outlet (sub-franchise) berikutnya pun melibatkan saya untuk terjun langsung ke dalamnya, bahkan sampai ke luar Jakarta. Cape? Ya.. pasti.. Saya bukan robot. Tidak suka? Oo.. siapa bilang.. Saya sangat menikmati hal tersebut. Saya sangat menyukai pre-opening time. Buat saya, memulai itu jauh lebih menyenangkan daripada menjalani.. apalagi mengakhiri. Dan kalau mau jujur, saya cukup bangga akan kepercayaan yang diberikan oleh BOD kepada saya.

Sebenarnya karir saya dapat dikatakan baru saja dimulai. Perlahan tapi pasti, saya mendapatkan promosi dan kenaikan gaji sejalan dengan berkembangnya outlet tersebut. Tetapi, kebimbangan kembali hadir dalam pikiran saya. Saya merasa lebih menikmati posisi di ‘belakang layar’ daripada harus bertemu dengan para pelanggan. Sedangkan sebenarnya posisi saya menuntut saya untuk sesering mungkin berada di ‘depan layar’. Saya mencoba ‘bersuara’ kepada BOD, saya mengajukan permintaan untuk ditempatkan di belakang layar.. sedikit menyerempet ke posisi indah yang saya bayangkan sebagai seorang ‘Executive Trainer’. Sebenarnya harapan itu tidak mustahil, arah ke sana tidak terlalu jauh. BOD sedang mencari lokasi yang tepat untuk dijadikan head office dan bila lokasi itu ditemukan maka ‘impian’ saya mendapatkan kemungkinan untuk diwujudkan.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan.. head office yang ditunggu-tunggu belum juga didapatkan. Sifat jelek saya kembali muncul ke permukaan.. kebosanan, ketidaksabaran, dan ketidakpuasan. Tidak, tidak ada yang (terlalu) salah dari tempat kerja saya. Sifat-sifat yang saya sebutkan di atas tadi yang memacu otak saya untuk kembali berpikir.. “Let’s go to Singapore?” :-? Mengapa Singapore? 1. Bila masih di dalam Jakarta, untuk apa keluar dari tempat kerja saya itu. Saya yakin saya masih dapat berkembang di situ. 2. Keluar kota? Hm.. sepertinya bikin susah hidup deh itu. :D 3. Keluar negri? Ok.. good.. nilai mata uang pasti lebih besar. Ke mana? Yang pasti bukan ke negara yang punya empat musim karena saya benci musim dingin. Aha.. ya.. Singapore. Memang negara itu adalah negara favorit saya. :) Lima tahun yang lalu saya pernah mencoba mencari kerja di sana meskipun gagal. Mungkin ‘buffer’ pengalaman saya selama 5 tahun sudah dapat dipergunakan untuk kembali mencobanya.

Baiklah, akan saya coba. Apa langkah selanjutnya? Mencoba melamar dari Jakarta dengan bantuan teknologi e-mail. Saya coba, dan.. tidak ada gunanya sedikitpun. Bidang, level, dan keterbatasan pengalaman saya sepertinya mengharuskan saya untuk pergi langsung ke negara tersebut supaya bila para employer itu membutuhkan saya untuk ‘meyakinkan’ mereka dengan interview langsung, saya bisa segera menemui mereka. Pemikiran ini menimbulkan dilema selanjutnya. Jika begini adanya, maka saya harus meninggalkan pekerjaan saya yang sudah sangat lumayan untuk berjuang mendapatkan sesuatu yang belum pasti. 5 tahun yang lalu, hal ini mungkin tidak terlalu saya pikirkan. Tetapi saat ini.. apakah saya harus mempertaruhkan pekerjaan dan kehidupan saya yang mulai mapan?

Sulit, sangat sulit untuk saya putuskan. Semakin saya pikirkan, semakin saya bingung dan tidak mendapatkan jawabannya. Akhirnya.. *-:) tidak.. saya tidak mau membuat keputusan. Biarkan orang lain yang membuat keputusan itu untuk saya tanpa mereka sadari. Bagaimana caranya? Pertengahan Desember 2007, saya lemparkan selembar e-mail kepada BOD. Saya utarakan terus terang kepada mereka bahwa saya berencana untuk mencari kerja di Singapore karena alasan keuangan. Saya katakan kepada mereka bila gaji saya tidak mencapai jumlah “xxx” maka akan lebih baik bila saya berusaha mencari kerja di Singapore. Dengan kata lain dan dipersingkat isi surat itu menjadi berbunyi, “Berikan saya gaji sejumlah ‘xxx’ atau saya akan keluar dari perusahaan.” Jumlah itu akan menyebabkan kenaikan gaji hampir mencapai 50% $-) , sesuatu yang saya yakin cukup sulit untuk mereka kabulkan. Tetapi biarlah, saya sudah nekad. Biarkan mereka yang memutuskan untuk saya. Bila mereka kabulkan, maka saya akan tetap tinggal di Jakarta dan bekerja di sana. Bila tidak dikabulkan, maka saya harus memulai kembali petualangan saya dan terbang ke Singapore.

Seminggu berlalu.. Saya agak kecewa karena dari 3 orang BOD yang aktif, hanya 1 orang yang memberikan tanggapan pada e-mail tersebut. Beliau (yang kebetulan adalah direktur utama) pada dasarnya tidak keberatan dengan permintaan saya. Tetapi keputusan tidak berada di tangannya, harus ada meeting BOD sebelum keputusan bisa dikeluarkan. Awal Januari 2008, saya tetap belum mendapatkan respon sedikitpun dari para BOD yang lain. Sebenarnya kata ‘iya’, atau ‘nanti’, atau bahkan kata ‘tidak’ dengan alasan yang kuat, mungkin masih dapat menahan saya di sana. Tetapi ketidakpedulian mereka membuat saya mulai berpikir untuk melemparkan surat berikutnya.. surat resign. Saat saya sudah merencanakan untuk menulis surat resign, kebetulan beliau yang masih peduli itu menelpon saya. Saya utarakan niat saya untuk mengajukan surat resign. Beliau meminta saya untuk berpikir kembali dan mengatakan bahwa permintaan saya dapat dikabulkan. Memang BOD yang lain belum tentu setuju akan jumlah yang saya minta. Tetapi beliau mengatakan bahwa bila jumlah yang mereka putuskan belum sesuai dengan permintaan saya, maka kekurangannya akan dia tambahkan secara pribadi dari perusahaan pribadi miliknya, dengan catatan.. saya boleh “dipinjam” kapan saja perusahaan pribadi nya itu membutuhkan.

Berat, pilihan yang berat untuk saya. Bekerja pada dua perusahaan pasti akan sangat menyulitkan posisi saya serta membuat saya sukar untuk membagi waktu dan prioritas. Bisa-bisa waktu makan dan tidur saya akan jadi korban bila saya nekad mengambilnya dan berusaha untuk tidak mengecewakan kedua belah pihak. Sebenarnya bila Pak ‘Dir-Ut’ meminta saya untuk pindah full ke perusahaan pribadinya, kemungkinan besar hal itu akan saya terima. Pola pikir dan cara kerja saya sepertinya jauh lebih cocok dan bisa diterima olehnya daripada oleh BOD yang lain. Selain itu peluang untuk go international pun sepertinya lebih terbuka di sana. Tetapi beliau tidak mau karena tidak enak dengan BOD yang lain bila terkesan mem-”bajak” saya. Selain itu, saya rasa beliau cukup keberatan juga bila harus menggaji saya sejumlah nominal yang saya minta, secara penuh dari perusahaan miliknya pribadi. Akhirnya kami menutup pembicaraan di telpon setelah beliau meminta saya untuk menahan penulisan surat resign dan mengatakan bahwa dia akan segera membicarakan hal ini dengan BOD yang lain.

Saya berpikir keras.. Dalam perhitungan saya, meeting BOD tidak akan mengabulkan permintaan saya. Seandainya sampai ‘Dir-Ut’ mengajukan usulannya untuk menambahnya dari perusahaan milik pribadi dengan catatan saya boleh “dipinjam” tadi.. saya yang tidak bersedia. Pindah ke perusahaan pribadi milik Pak ‘Dir-Ut’.. beliau yang keberatan. Berjam-jam saya habiskan untuk berpikir, menimbang-nimbang, dan minta masukan dari orang-orang terdekat. Saya pikirkan lagi alasan saya untuk pergi ke Singapore. Apakah hanya uang alasannya? Ternyata jawabannya.. tidak. Uang bukan satu-satunya alasan. Efisiensi hidup? Kebersihan? Mungkin.. tapi itu tetap bukan hal utama. Ada satu alasan tertentu, alasan pribadi yang tidak bisa saya ceritakan di sini yang menyebabkan saya berkeinginan untuk ber-’migrasi’ ke negara individual itu. Hal ini semakin lama semakin saya sadari.. karena saat ada yang bertanya apakah jumlah nominal gaji yang saya minta itu dapat membuat saya puas dan menahan saya untuk tetap bekerja dan tinggal di Indonesia? Jawaban saya enteng, “Ngga juga sih. Kalau saya yakin 100% bahwa saya akan bisa mendapatkan kerja resmi (legal) di Singapore… meskipun mereka menawarkan saya gaji 10juta atau bahkan 20juta sekalipun, maka saya akan tetap pindah ke Singapore.”

Nah.. kalau begitu, sebenarnya apa lagi yang saya pikirkan? Apa yang masih membuat saya bertahan di Jakarta? Rasa takut! Takut bahwa saya tidak bisa mendapatkan pekerjaan di Singapore.. cuma itu. Seperti saya katakan di atas, bila saya yakin 100% bahwa saya akan menapatkan pekerjaan maka saya tidak akan berpikir dua kali untuk segera terbang ke sana. Banyak orang yang memiliki keyakinan yang tinggi bahwa saya bisa mendapatkannya. Keluarga, teman-teman, bahkan para staf dan rekan kerja saya memiliki keyakinan yang tinggi atas diri saya. Tetapi, mungkin hanya diri saya sendiri yang sadar sepenuhnya akan “kualitas” yang saya miliki, akan kemampuan dan “daya jual” saya di “medan pertempuran” pencarian kerja. Jujur, keyakinan saya hanya berkisar pada angka 50%. Bila demikian, berarti kemungkinannya adalah fifty fifty. Dan bila saya nekad untuk berangkat berarti saya bertaruh, saya pertaruhkan pekerjaan dan hidup saya yang sudah mapan.. dan.. masa depan saya? Tidak, saya tidak mau mepertaruhkan masa depan saya.. Tetapi pekerjaan saya dan hidup saya yang sekarang, mungkin masih bisa saya pertaruhkan. Keputusan akhir.. saya akan mencobanya tetapi tetap dengan target yang realistis. 4 bulan! Itu waktu yang akan saya berikan kepada diri saya sendiri untuk mencoba mencari pekerjaan di Singapore. Bila waktu tersebut lewat dan saya belum mendapatkannya, berarti saya harus kembali ke Jakarta untuk bekerja.

Langsung saya angkat gagang telepon untuk menghubungi Pak ‘Dir-Ut’. Saya minta kepada beliau untuk melupakan niatnya membicarakan ‘masalah’ saya dengan BOD yang lain. Keputusan saya sudah mantap, saya akan segera mengajukan surat resign. Saya tidak menunda-nunda waktu, keesokan harinya surat resign sudah saya lemparkan kepada seluruh BOD lewat e-mail. Syarat ‘one month notice’ pasti saya patuhi. Bahkan lebih dari itu, saya masukan surat resign di awal Januari untuk keluar di pertengahan Februari. Sekitar satu setengah bulan saya berikan kepada mereka untuk mencari pengganti saya dan memberikan training dan serah terima yang cukup. Apa yang terjadi setelah saya memberikan surat resign kepada BOD? Apakah mereka menahan saya? Tidak sama sekali. Sama seperti yang saya alami saat saya mengajukan surat saya yang pertama.. tidak ada respon sedikitpun dari mereka. Tetapi mereka cukup cepat untuk menunjuk pengganti saya, bukti bahwa mereka tidak keberatan sedikitpun dengan pengunduran diri saya. Bahkan untuk managerial meeting pun saya sudah tidak “diundang” lagi. Semakin yakinlah saya bahwa saya sudah mengambil keputusan yang benar.

Menjelang akhir Januari 2008, saya melakukan pembelian tiket pesawat melalui internet untuk berangkat ke Singapore tanggal 17 Februari 2008. Sehari setelah saya membeli tiket, Pak Dir-Ut menelpon saya. Beliau meminta saya untuk kembali memikirkan keputusan saya. Beliau berubah pikiran dan meminta saya untuk bergabung penuh ke perusahaan pribadinya. Yah.. Pak? :-O Tiket sudah saya beli kemarin… Bapak terlambat satu hari. Apa memang jalan saya sudah diatur seperti itu? Mengapa tawaran itu baru datang setelah tiket saya beli? Maaf Pak… Tiket sudah ada di tangan, keputusan saya sudah bulat, tidak dapat diganggu gugat lagi. Tinggal lah hari demi hari terakhir saya di perusahaan itu saya lewati dan nikmati. Pada hari-hari itu pula, saya semakin menggiatkan usaha saya untuk mencari segala informasi dan “bala-bantuan” untuk dapat bekerja di Singapore.

Sarana yang cukup sering saya gunakan untuk mendapatkan segala informasi adalah website MOM (Depnaker Singapore) dan milis Indo-Sing. Jujur, milis tersebut malah semakin memperkuat keyakinan saya bahwa apa yang telah menjadi keputusan ini adalah benar-benar suatu taruhan, dimana kemungkinan saya untuk menang adalah hanya sebesar 50%. Untuk kualifikasi seperti saya, sepertinya kemungkinan saya untuk mendapatkan pekerjaan adalah “tergantung amalan”. Ini adalah istilah mereka (para Indo-Sing-ers) yang menggambarkan bahwa segala sesuatunya, apakah akan ada perusahaan yang merasa cocok dan mau mempekerjakan saya.. itu semua tergantung pada keberuntungan saya dan “kebaikan” perusahaan. Pertanyaan saya kepada mereka pun tidak mendapatkan respon yang berarti. Tidak ada yang menjawab apakah kualifikasi saya sudah cukup untuk bisa ‘menerobos’ lapangan kerja di sana. Saya tidak tau pasti apakah kurangnya respon ini disebabkan karena mereka sudah sangat bosan dengan jenis pertanyaan yang senada… atau karena memang hampir tidak ada di antara mereka yang bekerja di bidang F&B dengan status S-Pass. Tetapi setidaknya ada dua e-mail yang masuk ke e-mail pribadi saya (tidak melalui milis) yang menawarkan lowongan pekerjaan. Meskipun pada akhirnya kedua lowongan yang mereka informasikan itu ternyata tidak benar-benar ‘exist’, tetapi saya anggap saja bahwa setidaknya itu adalah pertanda awal yang baik.

Hari Minggu, 17 Februari 2008 malam hari, saya tiba di Singapore. Keesokan harinya dan hari-hari berikutnya saya isi dengan “kesibukan” mencari dan melamar pekerjaan. Bulan pertama saya lewati dengan cepat. Saya tidak mau bercerita panjang lebar lagi mengenai apa saja yang saya lakukan saat itu, karena hal ini sudah pernah saya ceritakan sebelumnya. Yang pasti, saya harus dihadapkan pada kenyataan bahwa begitu banyak kendala yang saya temui pada proses pencarian kerja ini.

Masalah pertama: Batas waktu kunjungan.
Proses pencarian kerja tentu saja memakan waktu yang tidak sebentar. Izin untuk tinggal di Singapore dengan memegang ’social visit pass’ (sebagai turis) secara umum adalah 30 hari sejak tanggal masuk. Hal ini sebenarnya dapat diatasi dengan permohonan EPEC (Employment Pass Eligibility Certificate). Apabila EPEC tersebut berhasil didapatkan, maka kita akan mendapatkan izin untuk tinggal dan mencari kerja di Singapore selama 1 tahun. Yang menjadi masalah adalah, permohonan saya langsung ditolak mentah-mentah saat mendaftar karena saya tidak memegang bachelor degree. Saya bukan sarjana, saya hanya lulusan D3. Berarti cara ini harus saya lupakan dan alternatif berikutnya adalah melakukan perpanjangan social visit pass. Untuk permohonan perpanjangan 30 hari, pada umumnya semua orang dapat dikabulkan. Saya pribadi bisa mendapatkan perpanjangan sampai dengan 60 hari karena kebetulan kakak saya tinggal di Singapore dengan status PR (Permanent Residence).

Masalah kedua: Ketentuan gaji minimum.
Pemerintah Singapore menetapkan ketentuan bahwa foreigner (selain PR) yang bekerja di Singapore harus memiliki izin kerja berupa EP (Employment Pass) atau S Pass (Special Pass) yang harus diurus oleh perusahaan yang akan menerima tenaga kerja asing. Untuk mengajukan permohonan EP, maka perusahaan harus memberikan gaji minimum SG$2500 per bulan, sedangkan untuk S Pass minimum SG$1800 per bulan. Sebenarnya hal ini cukup positif karena mungkin kehidupan kita memang tidak akan terlalu nyaman di negara ini bila harus mendapatkan gaji dibawah ketentuan minimum S Pass tersebut. Akan tetapi ini menyebabkan perusahaan yang berniat menekan cost, akan berpikir dua tiga kali untuk menerima tenaga kerja asing. Sebenarnya ada satu jenis pass lagi di bawah kedua jenis pass di atas yaitu WP (Working Permit). Saya tidak dapat menemukan sumber resmi tertulisnya, tetapi berita dari mulut ke mulut dan berdasarkan pengalaman dari beberapa orang yang sudah lama berkecimpung di dunia F&B Singapore.. entah mengapa Indonesian tidak bisa mendapatkan WP di bidang F&B. WP untuk F&B ini biasanya diberikan kepada Malaysian atau Phillipino. Sedangkan untuk Indonesian, WP biasanya diberikan kepada pembantu rumah tangga.

Masalah ketiga: Lamanya pengurusan izin kerja.
Untuk mendapatkan izin kerja seperti yang telah tertulis di atas, memerlukan proses yang memakan waktu 2-3 minggu. Hal ini lagi-lagi menyebabkan perusahaan lebih memilih orang lokal daripada orang asing. Terlebih lagi untuk restaurant berskala kecil yang tidak mempunyai ’stock’ karyawan yang cukup. Untuk restaurant-restaurant besar atau di dalam hotel, bisa jadi kemungkinannya akan lebih besar karena sumber daya manusia mereka biasanya lebih banyak. Karenanya tidak heran bila pertanyaan yang paling sering saya dengar saat interview adalah, “Are you a Singapore PR?” Dan saya sudah sangat terbiasa dengan perubahan raut wajah para interviewer yang berubah dari positif ke negatif saat pertanyaan itu saya jawab dengan kata tidak. Bahkan pada iklan-iklan lowongan kerja di koran pun sangat sering tertulis di situ “Only Singaporean and PR need to apply”.

Masalah keempat: Latar belakang pendidikan.
Seperti yang sudah saya utarakan, kualifikasi saya masih kurang. Pendidikan tertinggi saya hanyalah D3 (diploma), bukan S1 (bachelor). Ini sudah menimbulkan kendala pertama saat melakukan permohonan untuk EPEC. Selain itu, Singapore juga memiliki perguruan tinggi perhotelan lokal yaitu SHATEC yang juga menyediakan jenjang tertinggi Diploma. Ini akan menyebabkan Singapore untuk berpikir dua kali dalam mengeluarkan S Pass bagi pemegang Diploma perhotelan dari luar. Jika kualifikasinya sama dengan orang lokal, mengapa kesempatan kerja itu harus diberikan kepada orang luar? Jika berani nekad kesini hanya dengan modal diploma, itu berarti pengalaman kerja harus dapat diandalkan.

Oh ya, sebenarnya masih ada satu jalan untuk menghilangkan kendala pengurusan izin kerja yaitu pengurusan LPR (Landed PR) di Jakarta sebelum berangkat ke Singapore. Apabila LPR ini disetujui, maka pemegangnya diberi waktu satu tahun untuk tinggal dan mencari kerja di Singapore. Mereka ini berhak untuk bekerja tanpa jenis-jenis pass yang saya sebutkan di atas, karena begitu mendapatkan pekerjaan maka status LPR ini langsung berubah menjadi PR yang bebas dari segala ketentuan di atas. Resiko dari pengurusan LPR ini adalah biaya pengurusan sebesar sekitar SG$1500 yang akan hilang begitu saja bila permohonan tidak dikabulkan. Untuk pengurusan di Indonesia dapat dilakukan melalui SMC di Jakarta. Saya sendiri pernah mencoba bertanya-tanya ke sana, dan kembali harus menerima jawaban pahit, “Wah maaf, syarat untuk mendaftar LPR ini pendidikan minimum harus S1.” Ya sudah lah.. lupakan lah saja niat itu..

Masalah kelima: Pengalaman kerja.
Seperti yang sudah saya sebut, lagi-lagi kualifikasi saya ternyata masih kurang. Pengalaman saya sebagai restaurant manager di Jakarta ternyata dipandang ’sebelah mata’ di sini. Mengapa demikian? Karena saya hanya pernah menjabat sebagai manager dari suatu cafe.. sebuah casual dining room. Hal ini berkaitan dengan masalah kedua yang saya tulis di atas yaitu ketentuan gaji minimum. Setelah saya sedikit melakukan ‘penyelidikan pasar’.. untuk mendapatkan gaji yang sesuai dengan ketentuan minimum S Pass, jabatan sebatas Restaurant Supervisor dapat dikatakan belum mencapai jumlah itu. Assistant Manager? Hm.. ya, masih bisa. Tetapi itu hanya untuk level hotel-hotel berbintang, fine dining room.. dan hanya segelintir casual dining room. Masalahnya.. sepertinya para employer dari hotel berbintang dan fine dining room ragu akan kemampuan saya untuk menduduki posisi itu, karena saya samasekali tidak pernah ‘menjamah’ fine dining room. Dan sebagian besar casual dining room/cafe yang mungkin tertarik dengan kemampuan saya, standar gaji untuk posisi Assistant Manager nya masih di bawah ketentuan pemerintah untuk pemegang S Pass. Segelintir casual dining room yang standar gajinya lebih tinggi pun mungkin mempunyai harapan kualifikasi yang hampir sama tingginya dengan para hotel berbintang dan fine dining room. Saya hanya bisa berharap pada casual dining room yang masih bisa menghilangkan keraguannya akan kemampuan saya. Dan bila standar gaji mereka untuk posisi Assistant Manager tidak memenuhi syarat pemerintah, mungkin posisi sebagai Restaurant Manager dapat mencapainya. Tetapi lagi.. meskipun mereka bisa menghilangkan keraguan mereka akan pengalaman dan kemampuan saya, tetap saja sulit bagi mereka memberikan kepercayaan kepada saya untuk menjadi pemegang kemudi utama restaurant. Mengapa? Karena ini bukan negara saya. Karena bahasa saya dan kebudayaan saya berbeda dengan bahasa dan kebudayaan mereka. Hal yang wajar bila mereka tidak yakin bahwa seseorang mampu mengatur sekian banyak orang yang memiliki bahasa dan budaya yang berbeda dengan dirinya.

Menilik dan meninjau segala masalah seperti yang telah saya jabarkan, semakin hari saya semakin sadar.. ‘buffer’ pengalaman saya masih kurang. Seperti yang telah saya katakan, jabatan ‘restaurant manager’ yang saya miliki di masa lampau dipandang sebelah mata di sini. Tetapi saya tetap akan bertahan, saya akan terus berjuang sampai jangka waktu 4 bulan yang telah saya tetapkan habis masa berlakunya. Setidaknya ada sesuatu yang masih bisa saya ‘jual’ pada CV saya yaitu keikutsertaan saya dalam ‘franchise development’ di tempat akhir saya bekerja. Kesadaran akan kekurangan ‘buffer’ pengalaman yang saya miliki sebenarnya malah menimbulkan suasana hati yang positif dalam diri saya. Saya tidak lagi ngotot dan terlalu berharap untuk bisa bekerja di negara ini. Yang ada dalam otak dan pikiran saya tinggal ‘que sera sera’.. ‘whatever will be will be’. Jujur, saya malah sudah berpikir kalau saat ini saya hanya sedang liburan. Libur yang sangat panjang sebagai pengganti kekurangan masa libur selama saya masih bekerja di Jakarta. Tamasya yang panjang dan mahal untuk melupakan polusi dan kemacetan di Jakarta.

Demikian saja hari demi hari saya lalui. Mungkin ada yang masih ingat bahwa pada bulan pertama di sini, saya telah melewati sekian banyak interview. Waktu itu saya mengatakan, “Untuk apa sering-sering interview kalau tidak diterima. Lebih baik sekali interview saja tapi langsung diterima.” Entah karena memang saya sudah ‘pasrah’ sehingga pencarian kerja saya sudah tidak se-’giat’ bulan pertama yang menyebabkan panggilan pun menurun (sepertinya tidak juga deh.. memang lowongan nya saja yang entah kenapa jadi sedikit di bulan kedua).. Atau jangan-jangan ini efek dari kalimat saya yang mengatakan tidak mau sering-sering interview. Bulan kedua ini, saya hanya mendapatkan panggilan interview dari satu employer.. N.Y.D.C di Wheelock Place, Orchard. Akhirnya, dari sekian banyak interview yang sudah saya lewati, baru kali ini saya bertemu dengan interviewer pria. Beberapa interview sebelumnya, semuanya selalu dengan para kaum hawa. Mungkin pola pikir dan cara kerja saya memang lebih cocok dengan pria daripada wanita. Sejauh ini, bisa dikatakan interview kali ini saya mendapatkan tanggapan dan reaksi yang paling positif bila dibandingkan dengan interview-interview sebelumnya. Meskipun demikian, kalimat akhir tetap sama.. kalimat yang mengatakan bahwa mereka akan menghubungi saya kembali bila saya terpilih.

Ya, tidak ada interview lain di bulan kedua ini. Semuanya terasa begitu cepat.. telepon untuk interview di NYDC itu saya terima di hari Senin untuk datang di hari Rabu. Hari Senin berikutnya saya dihubungi kembali oleh interviewer saya yang menyatakan bahwa saya diterima dan akan dihubungi oleh bagian administrasi. Hari Rabu, si admin tersebut menghubungi saya dan melakukan aplikasi S Pass secara online. Hari Kamis minggu depannya saya hubungi kembali si admin untuk menanyakan kelanjutan tetapi belum ada jawaban. Yah.. seharusnya memang belum sih.. karena berdasarkan informasi yang saya ketahui, butuh waktu 2-3 minggu untuk pengurusan S Pass. Saya menelponnya hanya untuk menunjukan itikad baik bahwa saya berminat untuk bekerja di sana dan tidak berniat untuk mencari pekerjaan lain (padahal memang tidak ada panggilan lain ;) ). Tetapi ternyata keesokan harinya, di hari Jumat sore.. si admin kembali menelpon saya dan mengatakan bahwa S Pass saya pada prinsipnya sudah disetujui oleh MOM Singapore, hanya perlu melakukan medical check-up untuk pengesahannya. Hari Senin berikutnya, saya melakukan medical check-up. Hari Selasa sore, saya mendapat telepon bahwa hasil medical check-up saya sudah keluar dan dapat di ambil. Hari Rabu pagi, saya melanjutkan pengurusan S Pass ke MOM. Sore harinya di hari yang sama (Rabu), saya mendatangi Work Pass Division di Tanjong Pagar untuk melakukan pengambilan foto dan sidik jari. Hari Senin berikutnya, saya mengambil S Pass saya. Dan keesokan harinya.. di hari Selasa.. tanggal 15 April 2008 adalah hari pertama saya resmi bekerja di Singapore.

Ya.. benar.. Saya mendapatkan pekerjaan itu. Persis dua bulan saya ‘menganggur’. Surat referensi saya dari tempat kerja terakhir, menyatakan bahwa hari terakhir saya bekerja di sana adalah 14 Februari 2008. Surat perjanjian kerja dari tempat kerja baru, menyatakan bahwa hari pertama saya bekerja di sini adalah 14 April 2008. Segelintir casual dining room yang berani memenuhi standard S Pass dari pemerintah ternyata masih ada yang mau mencoba ‘menjajal’ kemampuan saya. Ternyata di bulan kedua ini, harapan saya untuk ‘cukup satu kali interview tetapi langsung diterima’ terkabul. Ternyata, di saat saya sudah ‘pasrah’, tidak ‘ngotot’ dan tidak ‘terbebani’ dengan pikiran bahwa saya harus mendapatkan pekerjaan di sini, saya malah menemukan pekerjaan itu. Ternyata, di saat saya mulai berpikir untuk pulang dan mencari pekerjaan baru di Jakarta, saya diberi jalan untuk tetap tinggal dan bekerja di Singapore. Saya masih yakin, sangat yakin.. bahwa jalan hidup saya ini sudah ada yang mengaturnya. Ada yang mengatakan kepada saya kalau ini adalah ‘hadiah ulang tahun dari Tuhan’ kepada saya.. dan saya sependapat dengan orang itu.

30 Comments







  1. -♥-gtanuel-♥-

    In the next 1 year, looking back, you may still taste the roller coaster after effect. After 2 years, it will taste sweeter, somehow. 5 years, you’ll almost forget how it tastes, not because it loses its significance, simply because you’ll experience so much more God’s favor along the way. Psalmist said His mercy’s new every morning. It STILL is.

    Every. Morning.

    Btw, gambar scan-an S-Pass mendingan jangan dipajang di website, terutama nomor S-Pass dan nama/alamat perusahaan. Menghindari potensi masalah yang bisa muncul, e.g. dooced dan cipratan cat yang salah alamat hehe.



  2. -♥-Firdaus-♥-

    Congratulation…
    Kasusnya sama seperti saya yang sedang menunggu approval S-Pass, baru diproses hari kemarin, dan selesai 5 minggu kemudian, it’s going to be a long long day to wait….

    firdaus607@yahoo.com



  3. -♥-Didik Bhudi Gunawan-♥-

    congratulations and GOD Bless You !!!



  4. -♥-zita pudiyawati-♥-

    PRil, selamat ya. Buah dari keyakinan dan kerja keras. Sekarang saya lagi nunggu S-Pass juga, mungkin saya masih harus liburan dulu, sudah urus ke MOM, mereka ngga bisa issued karena perusahaan tempat saya kerja belum mengupdate data medical insurance. Pekerjaan saya di bidang administrasi, setiap orang yang saya temui (dan mereka PR) selalu bilang kalau belum PR susah dapat kerja disini.
    Tapi rejeki memang sudah ada yang atur, yang penting berani mencoba.
    I hope I can follow you soon, get S-Pass & start working.
    Selamat say…



  5. -♥-Daddy-♥-

    Well Done Mbak. Saya pernah di situasi yg sama. Nothing is easy but everything is possible…. :)



  6. -♥-leaningmoo-♥-

    woaaaaw.. salute to ms.prila =D^ gefeliciteerd yo..
    so th depan kalo kita transit lagi masih mau jemput dong.. :D hihihi..
    next thing to say is.. HAPPY BIRTHDAY..
    more luck in the future (everybody needs luck in their life)
    and happiness (of course.. ;) ).. and God Bless(mutlak)!

    (*) Life is not always fair but God is always faithful..

    Have a wonderful day and enjoy life!!

    :x veel liefs,
    moo-ning-lea



  7. -♥-Prila-♥-

    @gtanuel:
    Hehe, iya.. Itu yang berbau-bau nomor udah di-blur sekarang. Kalo nama n alamat perusahaan.. percuma ditutup.. Udah terlanjur ada juga kan di dalem isi ceritanya dapet kerjanya di mana.

    @Firdaus:
    Tenang.. sabar.. bisa lebih singkat kok jangka waktunya. Hmh.. approval S Pass saya keluar hanya dalam waktu 8 hari kerja dari tanggal applikasi. Tapi yah, seandainya memang harus menunggu lama.. Anggap saja ngumpulin tenaga sebelum mulai bekerja lagi toh..

    @Didik:
    Thanx..

    @zita:
    Good luck ya.. Moga cepet nyusul deh.

    @Daddy:
    Ya.. semuanya mungkin.. tergantung ‘Yang Mengatur”nya mau bagaimana.

    @ning:
    Yup.. yup.. thanx..



  8. -♥-yogie-♥-

    Selamat ya! =D^
    Btw, kartunya S-Pass bagus ya? :-O

    EP malah cuman ijo doang, ga pake foto. Atau itu kartu generasi baru ya?



  9. -♥-c' Yen-♥-

    hi.. Happy birthday ya pri, and congratulation deh, wah cari kerja dalam 2 bulan itu sih Puji Tuhan, termasuk cepet donggg, di Singapore lagi, thats a perfect gift from God,
    semoga sukses deh, lancar dan sukses, thanks ya untuk undangannya, kapan2 pasti mampir ehehehe :D yacch emang maunya :P



  10. -♥-N @ N @-♥-

    Segala penantian mba itu ga ada yg sia2…kesabaran dan pasrah itu yg membuat Tuhan memberikan apa yg mba harapkan. Smoga apa yang mba pril dapat saat ini sesuai dengan apa yang U harapkan sampai akhirnya. Dibilang it’s Ur birthday present….sepertinya ya Iya it’s true…Tuhan memberikan hadiah yang tidak terlupakan for U and totaly it wil change Ur life… Segala sesuatunya pasti Tuhan memiliki maksud dan tujuan so CONGRATULATION =D^ and Enjoy Ur New Life there….
    always miss U,

    -Nana-



  11. -♥-Lina-♥-

    Hi Ms. Prila,

    Good luck, salute ama Mba yg punya tekad baja dan semangat juang.
    Be strong and be courageous…. it’s a thoughful country for working but we all know you can made it and finally can be a blessing to others.

    Happy birthday and God Bless U
    -Lina-



  12. -♥-IDA-♥-

    La… congratz yach!!! ida salut bgt ama lala ^:)^



  13. -♥-Anung-♥-

    Cie, congrats ya.. finally.. segalanya baik pada waktunya.. hahaha.. job nya nih lom di ceritain.. waiting for your next post about the job :)…



  14. -♥-Anung-♥-

    eh iya.. this is one sweet birthday present dong ya? haahahaha.. happy birthday again ;)



  15. -♥-tika-♥-

    =D^ =D^ :D [-O^ :) congratulation and celebration good” salute !!emang kalo masalah gigih’an situ gak pernah kalah hihi ngga sia” doa saya hihi amin deh bu…ntar main”yah kesana,btw rambut baru neey..!! :P



  16. -♥-Edi-♥-

    Selamat juga ya =D^ sama seperti kata gtanuel, hasil scan S-Pass nya sebaiknya jangan dipajang di blog kamu.
    Mungkin kamu agak terlalu exciting ya jadi pengen “pamer” S-pass kamu ;)



  17. -♥-Prila-♥-

    @yogie:
    Hm.. kalo ngga salah EP generasi sekarang juga udah pake foto deh. Biar ngga dipalsuin kali ya..

    @c’Yen:
    Ayo.. ditunggu kedatangannya.

    @Nana:
    Thanx.. Amin…

    @Lina:
    Tq. Tekad baja? Hehe.. manusia baja hitam?

    @Ida:
    Wadu.. ndak segitunya Da.. Biasa aja kok…

    @Anung:
    Makasih makasih.. Posting tentang job nya? Hmh.. sepertinya ngga deh. Atau mungkin… belum saatnya kali ye.

    @tika:
    Haiyalah.. emangnya situ masih inget cara doa gimana?

    @Edi:
    Udah di-blur yang penting-penting kok. Dan lebih pada sekedar ‘ilustrasi’ daripada ‘pamer’. Supaya orang yang belum pernah liat, bisa tau wujud S Pass itu seperti apa. Sama aja seperti orang yang nampilin foto makanan waktu bikin review.. supaya lebih jelas makanannya bentuknya gimana. Lagian saya ga liat sisi negatif-nya kok setelah di blur gitu.. I’m not a celeb, hehe. Thanx anyway.



  18. -♥-Ronald-♥-

    Bagus, kawan..

    Really inspiring..

    Congrats and thank you for sharing..



  19. -♥-Ratna (Sby)-♥-

    Pril, congrat for your new job and also Happy Birthday :) God always answered all prayer to a good person who worships Him. Keep up the good job there.



  20. -♥-Qellia-♥-

    Hore…. :D/ =D^
    Senang sekali mendengar Ibu dah kerja di Singapore..
    CONGRATULATION ya Bu… =D^
    Semoga menjadi awal dari jalan Ibu menuju kesuksesan [-O^ Amien
    Tuhan memang selalu baik, Ibu telah dikasih hadiah ulang tahun yang sangat berarti. Tuhan telah mengabulkan semua doa setiap orang untuk kebaikan Ibu O:-) . Dan Tuhan telah membuktikan bahwa segala usaha dan perjuangan serta kesabaran dari umatnya ga akan sia-sia. Buktinya segala usaha dan perjuangan serta kesabaran Ibu membuahkan hasil ;)
    Perjuangan, kegigihan, kesabaran dan tekad Ibu patut diteladani. Salut ^:)^ :)^-
    Semoga Sukses Selalu Menyertai Ibu..All the best Wishes for U [-O^
    -Qellia-



  21. -♥-maaok2003-♥-

    well done ………. dengan bekal S-Pass, dan sponsor dari kakak yang udah PR Singapore, kamu juga kelak bisa urus PR …….. biar lebih safe.

    salut atas usahanya ………..



  22. -♥-elin-♥-

    grats grats gratsss :)
    *hugs*
    feel happy for u hehe finally yah pri
    i gonna miss u so much here :((
    haha tapi gpp ntar kapan2 ada alasan bisa ke sg buat nyari elu
    hehe the best bday present ever huh ? :P something yg elu bener2 butuh
    gluck yahhhh in ur new job



  23. -♥-Joe-♥-

    What A great Journey,,,,,, ^:D^



  24. -♥-si tukang nyampah-♥-

    =D^ =D^ =D^ Selamaaaat….pernah ngalamin juga kayak gitu…hihihihihihihi



  25. -♥-Prila-♥-

    @Qellia:
    Thanx, amin, amin, dan amin.

    @maaok:
    Wah, sabar.. belum waktunya urus PR.

    @elin:
    Thanx, gonna miss u 2. Betuul.. harus maen2 loe ke sini. Gw ke Indo juga nanti jalan2 aja.. :D

    @Ronald, Ratna, Joe, KangNyampah:
    Thanx.



  26. -♥-Fun-♥-

    selamat2… :) Anda layak dapet bintang hehehe :)
    kalo dah mulai sibuk, ketemuan di sing masi bisa donk? hehehe :)



  27. -♥-Irvan-♥-

    Hi Ms.Prila,

    aku mau nanya sedikit nich. saya baru lulus s1 di indonesia dan sekarang lagi mau apply lpr. masalahnya lpr harus nunggu 3 bln sedangkan batas waktu kunjungan tinggal 1 bulan. Menurut kak Prila lebih baik coba2 apply perusahaan2 untuk dapet s-pass atau lpr? soalnya kata temenku kalo apply lpr dan s-pass sekaligus salah satu pasti di-reject. Thanks and God Bless!



  28. -♥-Prila-♥-

    Walah.. Irvan.. posisi udah di Singapore? Kalo udah terlanjur di sini sih coba aja terus apply ke perusahaan, cari S-Pass or EP. Kalo bates waktu kunjungan udah abis beneran… baru deh balik ke Indo n urus LPR dari Indo aja. Hehe.. itu pendapat aku sih, tapi saya bukan pakar kok, suer deh. :D



  29. -♥-ayusita-♥-

    Mbak Prila..

    Aku bener2 terinspirasi nih ama your story..soalnya ini lagi di Singapore untuk apply2 kerjaan..big decision untuk meninggalkan jakarta tapi membaca ceritamu semangat saya semakin bertambah hehe..

    Mohon info2 ya kalau ada info lowongan atau tips mencari kerja disini..
    Bunch of thanks ^^

    Ayu Sita



  30. -♥-boyke-♥-

    wah aku bulan Nov.2008 lalu baru aja gagal, nich. Kecewa juga sih, soalnya dah tinggal di Batam dan skrg kudu balik lagi ke Jakarta dan masih nganggur. Soal EP tadi aneh juga ya, temen ku yang D1 animasi (aku bidangnya animasi, kebetulan di Sing lumayan banyak animation company) bisa dapetin EP, memang diurus oleh perusahaan yang ‘hire’ dia sih. Sedangkan aku cuma lulusan SMA, cuma dah sgt lama jadi animator.
    Anyway, congrats deh, cm mau curhat aja, abis masih kecewa sampe skrg dan ‘lumayan pengen banget kesana. Wish me luck ya! Siapa tau bisa ketemu ‘kalo jadi :D :D :D :D

Leave a Reply

:) :| :( :(( ;) ;;) :)) :D ;)) :^ :P ^:P :=S :-^ @-) o^ :-* $-) =P~ :x =(( B-) =)) :-/ :-? 8-^ [-O^ :-$ [-( =D^ :-O #-S #-o :)^- :^o (:| :-z :-h :-u ^:D^ :-SS :-w :!! :-bd :-q [-X :D/ :-c :)] ^:)^ :-?? :-@ %-( ~X( X( X(^ :-% ^:| X^(X O:-) v:) *-:) (*) ~O)