Sebenarnya saya sedang tidak dalam ‘mood’ yang baik untuk menulis blog. Dan sebenarnya saya juga tidak terlau suka menulis sebuah review dalam blog saya. Tetapi berhubung sudah ada “bahan”nya.. biarlah saya masukan saja.
Sebagai akibatnya, tulisan ini tidak akan sepanjang blog-blog saya yang lain.
Dimsum adalah salah satu jenis makanan kesukaan saya. Awalnya saya belum mengetahui dimana saya bisa menemui dimsum yang enak (dan tidak mahal) di Singapore. Kebetulan beberapa saat yang lalu, kakak saya mengajak saya untuk ‘merayakan’ ulang tahun saya dengan makan dimsum di Geylang. Dari jauh, tempatnya terlihat sangat biasa, seperti restoran-restoran kecil pinggir jalan di Indonesia. Saya tidak menemui ejaan alphabet untuk menyebut nama restoran dimsum ini. Tetapi dengan modal foto di bawah dan ‘buka-buka’ kamus, akhirnya saya mengetahui nama restoran ini adalah Wen Dao Shi (dalam ejaan ‘pinyin’ yang benar) atau ‘wen tao se’ (dalam ucapan bebas bahasa Indonesia).

Sebenarnya kata pertama (Wen) dalam restaurant tersebut tidak bisa saya temukan di kamus. Tapi ada yang ‘bentuk’nya mirip seperti itu dan dibaca ‘wen’. Setelah “googling” sana sini, ternyata memang kata itu dibaca ‘wen’. Kata tersebut tidak ada di kamus mungkin karena memang tidak ada artinya. Setelah saya telusuri lebih lanjut, ternyata asal usul dari nama restaurant itu sangat simple yaitu Wen Dou Sek, bahasa Cantonese yang berarti 126. Mengapa 126? Karena lokasinya berada di 126 Sims Avenue (dekat Geylang lorong 17). Simple kan?
Seperti yang sudah saya katakan, saya tidak terlalu suka untuk menulis sebuah review. Jadi, saya hanya akan mengatakan bahwa saat ini tempat dimsum terenak (dan murah) yang pernah saya kunjungi di Singapore (menurut saya) adalah Wen Dao Shi ini. Memang belum banyak yang saya jadikan bahan perbandingan sih. Salah satu pembandingnya adalah Victor’s Kitchen di Sunshine Plaza, Bencoolen Street yang mempunyai kelas hampir sama dan tingkat keramaian yang relatif lebih tinggi daripada Wen Dao Shi, padahal (menurut saya lagi) rasa makanannya masih kalah. Mungkin lidah Indonesia saya lebih menyukai makanan yang rasanya lebih ‘medok’ dibandingkan dengan para Singaporean.

Foto di atas adalah foto-foto makanan di Wen Dao Shi yang saya ambil dengan handphone berkamera VGA standard. Jadi yah.. begitu saja lah hasilnya. Yang unik dari restaurant ini adalah sambalnya yang benar-benar ok untuk dimsum dan minumannya yang agak ‘beda’ dari tempat lain. Kalau saya tidak salah, di sini tidak ada teh atau kopi. Hanya ada 4 pilihan minuman yaitu tebu, lemon kiamboi, barley lidah buaya, dan (kalau tidak salah lagi..) cincau. Dan, sekali lagi karena saya ‘agak malas’ menulis review.. lebih baik anda kunjungi dan coba sendiri ke sana.
Oh iya, restaurant ini buka 24 jam loh. Kalau memang masih sangat ingin baca review-nya, saya refer ke blog orang lain saja yah.. yang saya dapat kan dari ‘googling’ juga 
