Kejadian ini sebenarnya sudah cukup lama berlalu. Yah, kira-kira hampir dua bulan yang lalu lah.. Tetapi “kesibukan” saya akhir-akhir ini menyebabkan saya baru sempat untuk menuliskan ‘kisah menarik’ ini di sini.
Saat itu, saya bersama 3 orang saudara sepupu saya dari Jakarta berjalan-jalan di Sim Lim Square. Kali ini tujuan kami (saudara sepupu saya) adalah membeli sebuah kamera digital baru.. tanpa tau sama sekali spesifikasi seperti apa yang dia inginkan.
Jadilah saya sebagai “guide” agak-agak bingung juga untuk membantu dia mencarinya. Satu-satunya petunjuk dari apa yang dia inginkan adalah kamera digital yang kecil dan enteng, ber”judul” Canon.
Perburuan dimulai.. Masuk ke satu toko dengan modal pertanyaan awal kamera digital Canon terbaru dan tertipis yang mereka miliki. Pertanyaan itu membawa perburuan selanjutnya ke kamera Canon Ixus 80-IS (8 Megapixel) dan Canon Ixus 85-IS (10 Megapixel). Singkat cerita, akhirnya kami mulai fokus ke Canon Ixus 85-IS dan mulai membanding-bandingkan harga.

Di salah satu toko terakhir (sebelum kami tertarik pada type yang lain), si pedagang memberikan harga SGD 420. Tetapi pada saat kami mau keluar dari tokonya dia langsung menurunkan harga cukup drastis menjadi SGD 300, dengan memory card 4GB. Entah lah apakah kamera tersebut benar bisa didapatkan dengan harga tersebut atau tidak. Kami tidak kembali ke toko itu karena ‘kisah menarik’ di toko berikutnya.

Di toko tersebut, tepatnya di toko Compact Electronics di lantai 2.. Saat kami mencari Ixus 85-IS itu si penjaga toko mengatakan bahwa model tersebut sudah kuno, sudah ketinggalan zaman. Kemudian dia mengeluarkan model yang lebih ‘canggih’ dan lebih baru yaitu Canon Ixus 970-IS. Kamera itu dia pamerkan dan banding-bandingkan dengan yang sedikit leibh ‘kuno’ yaitu Ixus 90-IS dengan menampilkan pengambilan gambar langsung di layar TV. Memang hasilnya 970-IS ini terlihat lebih tajam dan jernih bila dibandingkan dengan 90-IS. Setelah itu si penjual menjelaskan bahwa sebenarnya dari type nya bisa langsung terlihat model mana yang lebih baru dan canggih karena Canon tidak mengeluarkan type secara acak. Tentu saja 97 jauh lebih baru bila dibandingkan dengan 85 apalagi 80.. itu katanya, dan tentu saja kami percaya (dan hal ini memang mungkin saja benar, saya belum mengecek lagi kebenarannya sampai sekarang).

Kemudian dengan kata-kata yang meyakinkan dan (terdengar) tulus, si penjaga toko mengatakan bahwa dia mengerti kalau kami masih mencari type lama dengan alasan budget yang agak minim. Karenanya dia menawarkan ‘best price’ untuk kami, yang akhirnya setelah kami berpikir, berpikir, berunding, berunding, dan kembali berpikir..
dengan tidak sabar dia mengatakan bahwa harga terakhir yang bisa dia berikan untuk Canon Ixus 970-IS adalah SGD 380 dengan memory card 8GB. Karena kami benar-benar ‘buta’ harga, maka kami langsung melakukan cek harga ke kenalan yang ada di Mangga Dua Mall, Jakarta. Sambil menunggu SMS balasan tentang harga di Indonesia, kami berniat untuk mencoba mengecek harga di toko lain. Penjaga toko di Compact Electronics ini tampak tidak sabar dan tidak senang. Dia “mengancam” kalau nanti balik lagi, maka dia tidak akan memberikan harga yang sama.
Saya sih yakin kalau harga-harga di Sim Lim pasti bersaing. Kalau dia berani memberikan harga segitu, pasti ada toko lain yang juga berani. Jadi tetap saja saya tinggalkan toko itu untuk mencoba mengecek ke toko lain. SMS dari Jakarta masuk mengatakan bahwa harganya sekitar Rp 3 juta lebih (sekitar SGD 500) dan memory card nya pun bukan 8GB (saya lupa berapa GB, yang jelas lebih kecil). Wah, berarti toko itu benar-benar memberikan “best price”, jauh lebih murah daripada harga di Jakarta.
Kami masuk ke satu toko lagi, masih di lantai yang sama yaitu lantai 2, nama toko itu Darling Photo. Berbeda dengan penjaga toko Compact Electronics yang agresif, penjaga toko di sini terkesan tidak mau terlalu banyak ngomong. Saat kami menanyakan tentang harga Ixus 970-IS, dia hanya mengatakan kalau itu top model dan harganya SGD 540, harga pas. Waktu saya katakan kalau harganya sangat tinggi, kembali dia menegaskan bahwa itu top model dan wajar kalau harganya setinggi itu. Saya katakan saja terus terang bahwa saya mendapatkan harga yang jauh lebih rendah di toko lain yaitu SGD 380. Dia cuma tertawa dan mengatakan bahwa saya tidak perlu berpikir lagi, langsung saja kembali ke toko tersebut dan beli kamera tersebut kalau bisa. Dia mengatakan bahwa toko-toko seperti itu selalu memberikan “funny price” dan saat kita sudah benar-benar akan membelinya maka mereka akan memberikan barang yang lain dan mengatakan bahwa ternyata barang yang disepakati tidak ada stock. Dia juga mengatakan untuk jangan percaya kata-kata dia.. kembali saja ke toko sebelumnya dan buktikan saja sendiri.

80% percaya dengan kata-katanya, kami kembali ke toko sebelumnya. Si penjaga toko dengan muka asam mengatakan kalau dia kan sudah mengatakan bahwa tidak akan memberikan harga yang sama kalau sudah mengecek ke toko-toko lain. Saya bilang, saya tidak mengecek ke toko lain tetapi hanya menunggu SMS balasan dari Indonesia. Akhirnya dengan (pura-pura) marah dan tidak senang, dia mengatakan OK.. ya sudah.. bayar langsung sekarang.. cash. Tentu saja kami bingung diminta untuk membayar dulu sebelum barang disiapkan. Tetapi tetap kami bayar seperti yang dia minta. Setelah membayar, kami diminta menunggu beberapa saat untuk menunggu staff nya mengambil benda yang kami inginkan (entah dari mana).
Si penjaga toko mulai menerangkan cara-cara penggunaan kamera tersebut. Selesai menerangkan, barang yang ditunggu-tunggu belum juga datang. Si penjaga toko memulai “aksi”nya. Dia mengeluarkan satu kamera Nikon Coolpix (sayang saya lupa memperhatikan type-nya). Dia mengatakan kalau kamera tersebut adalah “best seller” di toko nya dan mungkin lain kali kita juga akan tertarik untuk kembali dan membelinya. Dia mulai memperagakan “kehebatan” kamera tersebut, memperlihatkan hasil ‘jepret’an nya di layar TV, dan membanding-bandingkan keunggulannya dari kamera yang akan kami beli. Kalau saja kami belum mendapatkan “peringatan” dari toko Darling Photo, mungkin kami akan termakan ‘bual’an nya dan mengubah pikiran kami ke kamera tersebut. Tetapi kami sudah memantapkan diri untuk ‘tak pindah ke lain hati’
Panjang lebar si penjaga toko menjelaskan dan mencoba mengubah ketertarikan kami.. dan hanya kami tanggapi dengan manggut-manggut. Saat pada akhirnya dia bertanya bagaimana pendapat kami mengenai kamera yang dia ‘bangga-banggakan’ tersebut, dengan enteng saya menjawab, “Well, it might be nice.. but I’m a fanatic of Canon.” Si penjaga toko langsung kembali menunjukan muka asam dan bergumam ngambek.. ya udah, fanatik Canon ya beli Canon lah, ga usah beli yang lain. Langsung dia membenahi semua ‘alat peraga’nya. Setelah itu dia mengatakan bahwa kamera yang kami inginkan masih sedang diambil, dan nanti jam 7 malam baru datang (saat itu baru sekitar pukul 5.30).
Nah… benar kan…
Hm.. uang sudah di tangan nya, tidak mungkin kami pergi begitu saja untuk kembali nanti. Jangan-jangan dia malah mengatakan belum pernah menerima uang kami. Saya nekad saja minta barang display nya untuk diberikan kepada kami, tidak perlu yang baru. Dia panik, marah-marah dan mengatakan kalau itu cuma display.. tidak ada garansi, tidak diberikan battery dan tidak ada charger.. Walah!
Ya sudah lah.. saya bilang saja kalau saya akan kembali lagi jam 7 nanti tapi saya minta semua uang saya dikembalikan dulu. Si penjaga toko mengembalikan uang saya dengan tampang yang jauh lebih ‘asam’ lagi.
Jam 7 malam… apakah kamera baru yang kami inginkan sudah ada di tokonya? Tidak tau.. tidak perlu tau.. dan tidak mau tau.
Saya tidak ingin ‘iseng’ menunggu satu setengah jam di situ untuk kembali ke tokonya sementara saya sudah sangat yakin kalau dia tidak akan menjual kamera itu dengan “funny price” tersebut. Lebih baik kami melanjutkan jalan-jalan ke tempat lain toh.. 

July 14, 2008   1:13 am
-♥-Anung-♥-
walah.. ada aja yah yang kaya gitu..
taktik nya ok juga tuh.. bisa dipraktekin buat dagangan ogud wkakaka..
July 17, 2008   11:41 am
-♥-Fun-♥-
ahaaaa…apa kabarnya neh??

iya..aku juga pernah ke toko itu.. waktu itu cari kamera Xacti juga ama temen.. nyampe sana… ditawarin harganya muraaaaaahhh bangettt… waktu cek di toko laen, katanya, ga mungkin harganya bisa semurah itu.. pasti neeepuuuu… dan seperti yang kamu bilang, bener2 deh taktik yang hebat… diganti ama yang laen.. makanya ngeri juga kalo beli alat elektronik.. cman kali itu deh..abis itu emoohhh
July 20, 2008   1:51 pm
-♥-Prila-♥-
@Anung:
Walah.. dagang apaan tuh?
@Fun:
or cuekin ajaah..
Yah.. Fun kena yah pas di’tepu’ dan jadi beli barang lain? Emang deh kalo “pakar” dagangan di sana udah beraksi harus tutup kuping