Saturday
Mar 19, 2011
6:59 am
Wow.. hampir satu setengah tahun saya membiarkan laba-laba berkeliaran di halaman blog saya. Berarti saya menyia-nyiakan satu tahun ongkos domain saya terbang begitu saja.
Hm.. tetapi tidak juga sih, terlihat dari komentar yang masuk, beberapa pengguna jasa google search engine tetap ada yang terbawa nyasar kesini.
Sebenarnya sudah sejak dua bulan lalu saya berniat untuk menulis kembali di sini, sejak saya kembali dari liburan pulang ke Jakarta. Kalau saya ingat, beberapa tahun yang lalu saya pernah dengan ’sombong’nya mengatakan bahwa Jakarta bukan lagi rumah saya.. dan saya merasa hambar berliburan di sana.. Crap! It wasn’t really me.. sorry people..
Saya tengok lagi foto yang saya pasang di blog itu..

Saya bandingkan dengan foto di Jakarta bulan Januari lalu..

Penasaran, saya buka album foto saya di shutterfly, melihat foto beberapa tahun silam..

2006! Amazing.. Wajah-wajah yang serupa, senyuman yang senada.
Siapapun yang menganggap ini adalah hal yang biasa, bukan sesuatu yang menakjubkan.. itu hak anda, saya tetap menganggap ini suatu hal yang luar biasa.
Gals, buat yang pernah membaca blog ’sombong’ saya saat itu.. my sincere apology.
Mungkin saat itu saya masih “shock” dengan kondisi saya yang terbiasa bermobil kesana kemari di Jakarta sebelum saya berangkat ke Singapore, berlanjut dengan begitu mudahnya berkendaraan umum di negri ini, dan kemudian harus berhadapan dengan peliknya bertransportasi di Jakarta tanpa kendaraan pribadi. Saya melupakan bahwa teman-teman saya tidak meninggalkan saya dalam kondisi apapun. Mungkin lingkungan saya dengan teman-teman di Singapore mempengaruhi pola pikir saya. Ah.. nope, saya tidak boleh menyalahkan mereka juga. Teman baru, teman lama, semua tetap teman saya. Tetapi seperti yang pernah saya ungkapkan secara tersirat dan tersurat pada status facebook saya waktu baru kembali dari Jakarta..
It takes a long time to grow old friends. and it does prove something. Yes I might have some silver here, either real or glamour fine imitations. but my pure golds are safe there at my hometown.
….. persahabatan kami.. memang telah teruji dengan jalannya waktu.
Terlepas dari eratnya persahabatan kami, manusia tetap manusia. Goncangan selalu ada. Sejumlah pemikiran, sejumlah sifat, sejumlah karakter.. tidak mungkin tidak ada perselisihan selamanya. Saya tidak menyangkal adanya beberapa kali beda pendapat yang mengakibatkan kerenggangan diantara beberapa dari kami. Saya pribadi sempat berada pada satu titik dimana saya merasa jauh. Tetapi sekali lagi, waktu telah membuktikan kuatnya hubungan kita. I’m back!
Di sini.. saat ini.. boleh saya minta tolong? Kalau suatu saat saya atau salah satu diantara kita “menghilang” (lagi).. coba kita saling bantu untuk menemukan jalan kembali? Dan sambut gembira saat siapapun “anak hilang” itu kembali?

Saya suka foto ini.. Yellowducks, bebek kuning!
Mungkin beberapa orang di luar sana sempat berpikir sinis, “tante tante bangkotan masih sok nge-gank?”
Haha.. terserah mereka. Nama ini muncul begitu saja di resepsi pernikahan salah satu dari kita, Elin. Dia penggemar berat yellow ducks, bisa dilihat dari foto di atas, itu hanya sebagian saja dari bebek-bebek kuning yang dia punya. Saat ingin mengabadikan foto dengan teman-teman terdekatnya di resepsi pernikahan, sang wedding organizer harus memanggil tanpa menyebut nama kami satu persatu. Dia hanya meminta para ‘yellowducks‘ untuk maju ke depan.. dan kami sadar sesadar-sadarnya bahwa kamilah yang dimaksud. Sejak saat itulah nama ‘yellowducks‘ menjadi “terkenal”.
Ya.. Saya, dan beberapa diantara kami sudah “menjelajah” tinggal beberapa saat di lain benua.. Asia, Australia, Amerika, Eropa.. (Africa next?)
Tetapi saya yakin, bagaimanapun.. seperti apapun kondisi negara kita.. suatu saat kekangenan akan makanan Indonesia, pemandangan Indonesia, dan terutama keluarga dan teman-teman di Indonesia akan tetap muncul senantiasa. Itulah mengapa saya kembali menulis dalam Bahasa Indonesia kali ini. Saya kangen menulis dalam bahasa saya sendiri. Darah saya.. tetap darah Indonesia. And.. it may not really sound like me.. but “I love you gals ♥”
Perlu bukti? Hampir pukul tujuh pagi saat ini.. dan saya menulis sepanjang pagi… just for us..
Tuesday
Oct 21, 2008
4:45 am
Satu minggu lebih saya menghabiskan waktu cuti di Jakarta, 9 hari tepatnya. Puas? Ya.. jujur, lebih dari cukup. Ternyata Jakarta sudah tak se”murah” yang saya bayangkan.. dan tak se”indah” yang saya bayangkan.
Jakarta tidak lagi seperti “rumah” untuk saya. Entah mengapa rasa memiliki itu sudah tidak ada. Bukan perasaan ‘pulang’ yang saya rasakan, melainkan perasaan ‘berwisata’.. berlibur.
‘Liburan’ ke suatu tempat “sendirian” bukan kebiasaan saya. Saya tidak pernah tertarik untuk berkunjung ke suatu tempat karena keindahannya, sejarahnya, obyek wisatanya atau apapun lainnya yang biasa menjadi alasan seseorang untuk mengunjungi suatu tempat. TEMAN.. itu biasanya yang menjadi satu-satunya alasan mengapa saya ber’wisata’ ke suatu tempat.. entah mengunjungi teman.. atau pergi bersama teman. Hm.. teman-teman saya memang banyak di Jakarta. Tetapi tidak terlalu mudah untuk menemui mereka. Selain mereka juga punya kesibukan masing-masing, saya kehilangan “kaki” ketiga saya di Jakarta.. mobil saya tercinta.
Karimun saya sudah dijual sekitar beberapa bulan yang lalu kepada om saya sendiri.
Jadi… dengan cukup sering nebeng sana sini (yang membuat beberapa teman saya agak nyasar saat menjemput)
, satu kali naik taxi (yang baru datang hampir 2 jam setelah saya telpon)
, dua kali naik ojek motor (yang harus siap sedia terkontaminasi panas, debu, dan asap) X(^ , serta beberapa kali naik bis umum (yang rute-nya tidak jelas dan di mana berhentinya pun tidak jelas)
…begitulah saya menjalani liburan saya kali ini.
Perlu rincian hari-hari yang saya lewati? Boleh.. akan saya ceritakan secara singkat, padat dan jelas. Saya usahakan hanya beberapa baris saja per hari karena saya tidak se”pakar” adik sepupu saya yang gemar bercerita detail tentang perjalanan wisatanya.
Well…
Senin, 6 Okt:
Sampai di Soekarno-Hatta siang hari dijemput Nana (teman Dante); Pulang sebentar ke rumah; Diantar ke rumah Elin (teman SMA), lunch Pizza Hut delivery; Dijemput Nana lagi, ke Taman Anggrek untuk menemui Han, Rizky, Febby (teman-teman Dante) dan lanjut bersama mereka ke EX untuk dinner bareng di Chopstick, lanjut lagi plus Tika (teman Dante lainnya) main di Q-Billiard; Setelah itu, bareng Han nebeng mobil Nana dan dengan segala manipulasi dan tipu daya, kita berhasil membujuk Nana untuk mengantar kita ke Hotel Mulia.. membeli birthday cake untuk ulang tahun dia sendiri (ultahnya tanggal 7) dengan alasan dari Han yang sebenarnya sangat tidak masuk akal… beli roti untuk sarapan besok.
..dan setelah itu, kita berdua main ke rumah Nana, menunggu jam 12 malam.
Selasa, 7 Okt:
Jam 00:00 teng, menyalakan lilin.. dan celebrate ultah Nana bertiga saja.. (Nana, Han, me); Ngalor ngidul sambil menunggu taxi yang sangat lama datangnya.. 2jam..; Pulang tidur sampai siang; Lunch di rumah; Pergi naik bis bareng mom ke Citraland, shopping time..
; Ke Taman Anggrek naik bis lagi, dinner di Ajisen sekalian ketemu Wewe (teman kuliah) dan menunggu dia sampai malam supaya bisa nebeng pulang.
Rabu, 8 Okt:
Bangun siang, lunch di rumah lagi; Dijemput Nana, mampir ke Puri untuk beli obat batuk dll; Mampir sebentar ke rumahnya, tunggu dia closing toko dan warnet; Lanjut dinner dan ngalor ngidul di Jet Ski Cafe, Pantai Mutiara; Setelah itu diantar pulang deh.
Kamis, 9 Okt:
Rencana pergi dari agak pagi bareng Elin ke Mangga Dua, tapi ternyata dia baru bisa menjemput setelah jam makan siang karena menunggu Yuna (sepupu Elin) dan anaknya. Jadi saya sempat ngemil makan nasi dan ayam goreng dulu deh di rumah.
Lunch di food court ITC dan puter-puter plus belanja-belanja di seputar ITC dan Mangga Dua Mall; Sorenya mampir sebentar di rumah Elin dan lanjut jalan lagi, dinner di Jimbaran, Muara Karang; Mampir di Cosi, Pluit.. jemput Herry (teman SMP plus suami Elin) tapi sempat menikmati dessert ice-cream juga di sana karena Herry masih ngobrol dengan temannya. Hm.. mau juga tuh Herry mengantar saya pulang tanpa saya minta. Eh.. atau Elin yang suruh ya?
Jumat, 10 Okt:
Ke Megamall.. eh.. sudah ganti namanya menjadi Pluit Village.. janjian ketemu Irene (teman SMA); Bareng dia lunch mie keriting di Pluit (lupa apa nama tempatnya) setelah putar sini sana mencari tempat makan mie lainnya yang masih tutup karena liburan lebaran. Setelah itu diantar Irene ke salon Alui, Pluit Sakti.. potong rambut dan smoothing.
; Naik bis ke Puri, niatnya mau cuci mata dan dinner sendiri saja.. tapi coba telpon Elin dan ternyata dia mau nyusul ke Puri. Jadi.. dinner bareng Elin (ada Yuna juga.. ketemu mendadak di situ..) di food court Puri. Sebelum diantar Elin pulang, sempat belanja-belanja dulu di Carrefour Puri.
Sabtu, 11 Okt:
Dijemput Trin (teman SMA.. eh dari SD ding..); ke Grand Indonesia, lunch di Han Gang.. restaurant Korea tempat Epi (teman SMP) kerja. Lunch sekalian ngumpul-ngumpul.. ada Elin, Irene, Trin, Epi, Fenny, Chia, Devi (teman-teman TarQ); Lanjut jalan-jalan di Grand Indonesia dan berakhir ngalor ngidul di Coffee Bean. Oh ya.. satu-satunya tempat yang sempat saya foto selama di Jakarta.. di Han Gang restaurant… setelah semua makanan tandas!

Dari Grand Indonesia, saya diantar Devi ke Citraland; Dinner di Dante CL ditemani Qelli (teman Dante) dan menunggu malam saja di sana sampai Wewe datang menjemput. Wewe datang satu kompi saat menjemput.. 3 mobil..
Meluncur lah kita ke Pecenongan dan makan lagi.. bersama “tangan-tangan kanan”nya Wewe.. si Sugi (plus ceweknya), Hendra, dan Sanles (plus istrinya). Malam-malam.. menunya sate babi dan bakut.
Malam itu saya menginap di rumah Wewe karena besoknya mau jalan pagi-pagi ke Bandung.
Minggu, 12 Okt:
Start dari rumah Wewe menuju Bandung jam 6.30 pagi. Singkat cerita, kegiatan di Bandung adalah seputar belanja, makan, dan belanja, dan makan.
Rute singkat: Breakfast di tol KM 19 sekalian janjian bertemu Sanles dan istrinya supaya bisa “convoy” ke Bandung; Rumah cc-nya Wewe.. jemput Yuni (istri Wewe) dan Ken (anaknya); Duta Rasa (toko roti cc-nya Wewe); Heritage FO.. belanja dan ngemil di depannya; Prima Rasa.. beli kue lah; Bumbu Desa.. lunch; Rumah Mode FO.. belanja dan cuci mata lah; Lembang.. ngemil lagi; Sapu Lidi Sawah.. liat-liat villa; Cafe Sumur.. nimum susu murni; Balik ke kota tapi muacet buanget.. so sampai kota.. langsung makan lagi, hihi.. dinner di pinggir jalan.. lupa apa nama jalannya.. nama tempat makannya Cemar; Mampir ke Duta Rasa lagi; Pulang ke Jakarta.. home sweet home.
Senin, 13 Okt:
Lunch di rumah; Naik bis ke Muara Karang urus penutupan abonement handphone; Naik bis lagi ke ITC Mangga Dua, beli kaos-kaos murah di sana.
; Naik bis lagi pulang disambung naik ojek motor dari Daan Mogot; Berhenti di tukang pecel lele deket rumah untuk dinner sebelum lanjut jalan kaki ke rumah.
Selasa, 14 Okt:
Lunch di rumah; Naik ojek motor PP ke rumah Diman (teman kuliah) di Citra Garden untuk mengambil titipan pempek dan jam tangan; Dijemput Elin dan diantar ke bandara… dan terbang kembali ke Singapore.
Bagaimana? Cukup singkat dan padat?
Jujur… liburan ini.. hambar. Seperti yang saya katakan di paragraf awal, berwisata “sendirian” bukanlah suatu kenikmatan untuk saya. Memang saya tidak selalu sendiri selama liburan ini. Tetapi untuk benar-benar merasakan suatu liburan ke suatu tempat, hati kecil saya mungkin berharap untuk setiap saat setiap waktu, ada teman-teman di sekitar. Saat saya masih bekerja di Jakarta, mungkin liburan adalah saat yang paling menyenangkan untuk diam di rumah dan istirahat. Tetapi saat ini, Jakarta bukan lagi “rumah”.. bukan lagi tempat “istirahat”, tetapi tempat wisata.. tempat untuk dihabiskan bersama teman. Dan tidak adanya kendaraan pribadi, membuat saya sulit juga untuk mengunjungi mereka kapan pun saya mau.
Sebenarnya, saya mempunyai rencana awal untuk meminjam atau bahkan menyewa mobil selama saya di Jakarta kemarin. Tetapi setelah saya pikir kembali.. lebih baik tidak. Karena teman-teman saya tidak dalam kondisi “liburan”. Biar bagaimanapun, tidak mungkin saya habiskan waktu saya penuh dengan mereka. Hm.. selamat tinggal Jakarta.. Saya sempat berkata bahwa mungkin baru dua tahun lagi saya akan kembali ke Jakarta.. yah.. mungkin.. Bisa lebih lama, bisa juga lebih cepat. Mungkin saya akan menunggu sampai ada teman saya dari sini yang tertarik untuk mengunjungi Jakarta dan berwisata bersama saya ke sana.. Mungkin…
Wednesday
Jul 23, 2008
11:40 pm
Saat saya mulai merencanakan untuk hidup di negri ini, saya membayangkan suatu negara yang individual. Saya membayangkan kehidupan yang jauh berbeda dengan Indonesia dimana ‘ngumpul-ngumpul’ adalah suatu “keharusan”. Waktu itu saya berpikir bahwa di Singapore saya akan bisa bersikap sangat ‘individualis’ dan ‘tidak peduli sekitar’, tidak perlu ‘bersosialisasi’ meskipun bukan berarti ‘mengurung diri’. “Informasi” tentang lingkungan kerja di Singapore yang saya dapatkan dari sana sini pun sebagian besar mengatakan bahwa suasana kerja di sini akan dipenuhi dengan saling lempar kesalahan, menjilat atasan, tikam dari belakang, dll dsb yang buruk-buruk. Semua hal ini membuat saya berpikir bahwa saya mungkin tidak akan ‘berteman’ dengan rekan-rekan kerja di Singapore, atau minimum membutuhkan waktu sangat lama untuk bisa ‘menyatu’ dengan mereka.
Tetapi ternyata, tanggal 15 Juli kemarin.. hanya lewat 1 hari setelah saya melewati masa probation saya di tempat kerja dan mendapatkan confirmation letter
, saya mendapatkan “undangan” untuk makan-makan di rumah ‘mantan manager’ saya yang bernama Debbie. Bukan Debbie yang mengundang saya, tetapi staff lain yang membuat ide ini. Dia mengajak teman-teman sekerja untuk makan-makan di rumah Debbie. Ide ini disambut baik karena kita memang cukup lama tidak bertemu Debbie sejak dia diberhentikan dari tempat kerja. Hm.. mungkin seharusnya saya juga menulis ‘cerita’ tentang saat dia diberhentikan. Tetapi kalau saya ceritakan, blog ini bisa jadi sangat panjang. Intinya, dia diberhentikan hanya dengan one day notice dari higher management level padahal dia sudah 10 tahun bekerja. Apapun alasannya, saya pikir harusnya mereka tetap memberikan pemberitahuan sebulan sebelumnya dan bukan hanya memberikan termination letter di hari terakhirnya meskipun untuk itu dia diberikan penggantian sebulan gaji. Well.. mungkin memang beginikah adanya? Welcome to Singapore??
Anyway.. mari kita masuk ke pokok cerita yaitu makan-makan nya.
Saya lupa menghitung ada berapa orang yang datang ke rumah Debbie. Menurut sms yang saya dapat dari Ian (si pencetus ide) sehari sebelumnya sih ada 12 orang. Tetapi sepertinya lebih dari itu deh. Kita diminta untuk membawa masing-masing satu jenis makanan untuk dimakan bersama-sama.. Ide bagus untuk sebuah pesta.
Acara dimulai dengan ‘makanan utama’ yang sebagian besar berupa ayam. Ada ayam kari, fried chicken wings, dan jenis-jenis menu ayam lainnya yang saya tidak tau namanya. Saya sendiri membawa rujak selada buatan nyokap yang kebetulan sedang berada di Singapore. Makanan lainnya yang ada di situ antara lain bihun, sup ikan (yang disebut oleh Khalis si pembuat sup sebagai tom yam tanpa cabe
), bakwa (bacon babi yang dibeli ‘dadakan’ di Compass Point dan sudah di’comot-comot’ sepanjang perjalanan
), makaroni, roti baguette, dan entah apa lagi. Yang jelas makanannya super banyak karena tiap orang mungkin menyiapkan makanan untuk sejumlah 12 orang. Ditambah lagi, Debbie sendiri juga menyiapkan makanan cukup banyak untuk kita. Jumlah orang yang ada pada photo di bawah tepat 12 orang, tetapi masih ada beberapa orang lagi yang ada di luar photo tersebut.

Setelah puas dan kenyang dengan makanan utama, meja makan pun dibersihkan. ‘Minuman-minuman’ pun bermunculan. Ternyata “isyu” yang mengatakan bahwa Debbie menyimpan banyak “minuman” di rumahnya bukan sekedar isyu belaka.
Saya bukan penggemar ‘alkohol’, jadi saya tidak begitu memperhatikan. Pusat perhatian saya hanya kepada minuman ‘Heaven and Earth’ (teh hijau manis botolan).
Sekilas saya lihat ada 4 jenis minuman beralkohol yang dikeluarkan yaitu Jack D, Chivas, Absolut, dan 1 jenis minuman lagi saya lupa. Dan saya baru tau kalau ternyata whiskey itu cocok juga dicampur dengan teh hijau. 
Acara dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol, haha hihi (sambil makan tadi juga sudah ngobrol dan haha hihi sih), dan main kartu. Saya tidak ikutan bermain kartu karena yang kalah harus “minum”.

Permainan kartu nya sangat sederhana. Mereka hanya perlu mengambil 2 buah kartu, lalu meletakannya di depan kepala mereka supaya tidak dapat melihat kartu mereka sendiri. Tiap pemain punya kesempatan untuk menukar salah satu kartu yang mereka miliki tanpa tau kartu apa yang mereka tukar (hanya bermodalkan kepercayaan pada kata-kata pemain lainnya yang mungkin berbohong). Pemain dengan jumlah kartu terkecil lah yang kalah dan harus menerima “hukuman”.
Selang beberapa saat, pengaruh dari ‘rangsangan alkohol’ dan ‘gerakan haha hihi’ menyebabkan perut menjadi kembali lapar. Saatnya untuk kembali menyantap hidangan. Dessert pun dikeluarkan. Calvin yang berulang tahun di keesokan harinya membawa 2 buah chocolate cake yang yummie dan kita tidak lupa untuk menyanyikan happy birthday untuk kue nya
sebelum kue itu dipotong. Jocelyn membuat dessert yang cukup unik dengan apel dan fungus (sejenis jamur) di dalamnya. Ian ‘mencela’ dessert itu dengan sebutan ‘auntie dessert’. Saya pribadi cukup suka dengan rasanya, tetapi mungkin saya lebih suka kalau dessert itu dimakan hangat.. bukan dingin. Oh ya, masih ada satu jenis dessert lagi yang tidak sempat ter-foto karena mungkin kita sudah sangat antusias untuk menghabiskannya…
ice cream Ben & Jerry yang dibeli oleh Schenelle, lagi-lagi secara dadakan di Compass Point. Dua rasa.. ‘Chocolate Chip Cookie Dough’ dan ‘Strawberry Cheesecake’.. Dua duanya enak.. yummie.
Tanda waktu menunjukan hampir pukul dua belas malam. Saya sudah harus pulang sebelum berubah kembali menjadi upik abu.
Tepatnya saya harus pulang supaya tidak ketinggalan bis terakhir. Sebenarnya rumah Debbie tidak terlalu jauh dari rumah saya di Sengkang, masih bisa ditempuh dengan jalan kaki. Tapi… saya tidak tau jalan..
Jadi lebih baik saya pulang sebelum bis terakhir lewat.. dan meninggalkan mereka yang masih asik bermain kartu dan ber-haha hihi. Nice dinner. Siapa bilang orang Singapore individualis… Sedangkan saya?
Wednesday
Jul 9, 2008
3:51 am
Kejadian ini sebenarnya sudah cukup lama berlalu. Yah, kira-kira hampir dua bulan yang lalu lah.. Tetapi “kesibukan” saya akhir-akhir ini menyebabkan saya baru sempat untuk menuliskan ‘kisah menarik’ ini di sini.
Saat itu, saya bersama 3 orang saudara sepupu saya dari Jakarta berjalan-jalan di Sim Lim Square. Kali ini tujuan kami (saudara sepupu saya) adalah membeli sebuah kamera digital baru.. tanpa tau sama sekali spesifikasi seperti apa yang dia inginkan.
Jadilah saya sebagai “guide” agak-agak bingung juga untuk membantu dia mencarinya. Satu-satunya petunjuk dari apa yang dia inginkan adalah kamera digital yang kecil dan enteng, ber”judul” Canon.
Perburuan dimulai.. Masuk ke satu toko dengan modal pertanyaan awal kamera digital Canon terbaru dan tertipis yang mereka miliki. Pertanyaan itu membawa perburuan selanjutnya ke kamera Canon Ixus 80-IS (8 Megapixel) dan Canon Ixus 85-IS (10 Megapixel). Singkat cerita, akhirnya kami mulai fokus ke Canon Ixus 85-IS dan mulai membanding-bandingkan harga.

Di salah satu toko terakhir (sebelum kami tertarik pada type yang lain), si pedagang memberikan harga SGD 420. Tetapi pada saat kami mau keluar dari tokonya dia langsung menurunkan harga cukup drastis menjadi SGD 300, dengan memory card 4GB. Entah lah apakah kamera tersebut benar bisa didapatkan dengan harga tersebut atau tidak. Kami tidak kembali ke toko itu karena ‘kisah menarik’ di toko berikutnya.

Di toko tersebut, tepatnya di toko Compact Electronics di lantai 2.. Saat kami mencari Ixus 85-IS itu si penjaga toko mengatakan bahwa model tersebut sudah kuno, sudah ketinggalan zaman. Kemudian dia mengeluarkan model yang lebih ‘canggih’ dan lebih baru yaitu Canon Ixus 970-IS. Kamera itu dia pamerkan dan banding-bandingkan dengan yang sedikit leibh ‘kuno’ yaitu Ixus 90-IS dengan menampilkan pengambilan gambar langsung di layar TV. Memang hasilnya 970-IS ini terlihat lebih tajam dan jernih bila dibandingkan dengan 90-IS. Setelah itu si penjual menjelaskan bahwa sebenarnya dari type nya bisa langsung terlihat model mana yang lebih baru dan canggih karena Canon tidak mengeluarkan type secara acak. Tentu saja 97 jauh lebih baru bila dibandingkan dengan 85 apalagi 80.. itu katanya, dan tentu saja kami percaya (dan hal ini memang mungkin saja benar, saya belum mengecek lagi kebenarannya sampai sekarang).

Kemudian dengan kata-kata yang meyakinkan dan (terdengar) tulus, si penjaga toko mengatakan bahwa dia mengerti kalau kami masih mencari type lama dengan alasan budget yang agak minim. Karenanya dia menawarkan ‘best price’ untuk kami, yang akhirnya setelah kami berpikir, berpikir, berunding, berunding, dan kembali berpikir..
dengan tidak sabar dia mengatakan bahwa harga terakhir yang bisa dia berikan untuk Canon Ixus 970-IS adalah SGD 380 dengan memory card 8GB. Karena kami benar-benar ‘buta’ harga, maka kami langsung melakukan cek harga ke kenalan yang ada di Mangga Dua Mall, Jakarta. Sambil menunggu SMS balasan tentang harga di Indonesia, kami berniat untuk mencoba mengecek harga di toko lain. Penjaga toko di Compact Electronics ini tampak tidak sabar dan tidak senang. Dia “mengancam” kalau nanti balik lagi, maka dia tidak akan memberikan harga yang sama.
Saya sih yakin kalau harga-harga di Sim Lim pasti bersaing. Kalau dia berani memberikan harga segitu, pasti ada toko lain yang juga berani. Jadi tetap saja saya tinggalkan toko itu untuk mencoba mengecek ke toko lain. SMS dari Jakarta masuk mengatakan bahwa harganya sekitar Rp 3 juta lebih (sekitar SGD 500) dan memory card nya pun bukan 8GB (saya lupa berapa GB, yang jelas lebih kecil). Wah, berarti toko itu benar-benar memberikan “best price”, jauh lebih murah daripada harga di Jakarta.
Kami masuk ke satu toko lagi, masih di lantai yang sama yaitu lantai 2, nama toko itu Darling Photo. Berbeda dengan penjaga toko Compact Electronics yang agresif, penjaga toko di sini terkesan tidak mau terlalu banyak ngomong. Saat kami menanyakan tentang harga Ixus 970-IS, dia hanya mengatakan kalau itu top model dan harganya SGD 540, harga pas. Waktu saya katakan kalau harganya sangat tinggi, kembali dia menegaskan bahwa itu top model dan wajar kalau harganya setinggi itu. Saya katakan saja terus terang bahwa saya mendapatkan harga yang jauh lebih rendah di toko lain yaitu SGD 380. Dia cuma tertawa dan mengatakan bahwa saya tidak perlu berpikir lagi, langsung saja kembali ke toko tersebut dan beli kamera tersebut kalau bisa. Dia mengatakan bahwa toko-toko seperti itu selalu memberikan “funny price” dan saat kita sudah benar-benar akan membelinya maka mereka akan memberikan barang yang lain dan mengatakan bahwa ternyata barang yang disepakati tidak ada stock. Dia juga mengatakan untuk jangan percaya kata-kata dia.. kembali saja ke toko sebelumnya dan buktikan saja sendiri.

80% percaya dengan kata-katanya, kami kembali ke toko sebelumnya. Si penjaga toko dengan muka asam mengatakan kalau dia kan sudah mengatakan bahwa tidak akan memberikan harga yang sama kalau sudah mengecek ke toko-toko lain. Saya bilang, saya tidak mengecek ke toko lain tetapi hanya menunggu SMS balasan dari Indonesia. Akhirnya dengan (pura-pura) marah dan tidak senang, dia mengatakan OK.. ya sudah.. bayar langsung sekarang.. cash. Tentu saja kami bingung diminta untuk membayar dulu sebelum barang disiapkan. Tetapi tetap kami bayar seperti yang dia minta. Setelah membayar, kami diminta menunggu beberapa saat untuk menunggu staff nya mengambil benda yang kami inginkan (entah dari mana).
Si penjaga toko mulai menerangkan cara-cara penggunaan kamera tersebut. Selesai menerangkan, barang yang ditunggu-tunggu belum juga datang. Si penjaga toko memulai “aksi”nya. Dia mengeluarkan satu kamera Nikon Coolpix (sayang saya lupa memperhatikan type-nya). Dia mengatakan kalau kamera tersebut adalah “best seller” di toko nya dan mungkin lain kali kita juga akan tertarik untuk kembali dan membelinya. Dia mulai memperagakan “kehebatan” kamera tersebut, memperlihatkan hasil ‘jepret’an nya di layar TV, dan membanding-bandingkan keunggulannya dari kamera yang akan kami beli. Kalau saja kami belum mendapatkan “peringatan” dari toko Darling Photo, mungkin kami akan termakan ‘bual’an nya dan mengubah pikiran kami ke kamera tersebut. Tetapi kami sudah memantapkan diri untuk ‘tak pindah ke lain hati’
Panjang lebar si penjaga toko menjelaskan dan mencoba mengubah ketertarikan kami.. dan hanya kami tanggapi dengan manggut-manggut. Saat pada akhirnya dia bertanya bagaimana pendapat kami mengenai kamera yang dia ‘bangga-banggakan’ tersebut, dengan enteng saya menjawab, “Well, it might be nice.. but I’m a fanatic of Canon.” Si penjaga toko langsung kembali menunjukan muka asam dan bergumam ngambek.. ya udah, fanatik Canon ya beli Canon lah, ga usah beli yang lain. Langsung dia membenahi semua ‘alat peraga’nya. Setelah itu dia mengatakan bahwa kamera yang kami inginkan masih sedang diambil, dan nanti jam 7 malam baru datang (saat itu baru sekitar pukul 5.30).
Nah… benar kan…
Hm.. uang sudah di tangan nya, tidak mungkin kami pergi begitu saja untuk kembali nanti. Jangan-jangan dia malah mengatakan belum pernah menerima uang kami. Saya nekad saja minta barang display nya untuk diberikan kepada kami, tidak perlu yang baru. Dia panik, marah-marah dan mengatakan kalau itu cuma display.. tidak ada garansi, tidak diberikan battery dan tidak ada charger.. Walah!
Ya sudah lah.. saya bilang saja kalau saya akan kembali lagi jam 7 nanti tapi saya minta semua uang saya dikembalikan dulu. Si penjaga toko mengembalikan uang saya dengan tampang yang jauh lebih ‘asam’ lagi.
Jam 7 malam… apakah kamera baru yang kami inginkan sudah ada di tokonya? Tidak tau.. tidak perlu tau.. dan tidak mau tau.
Saya tidak ingin ‘iseng’ menunggu satu setengah jam di situ untuk kembali ke tokonya sementara saya sudah sangat yakin kalau dia tidak akan menjual kamera itu dengan “funny price” tersebut. Lebih baik kami melanjutkan jalan-jalan ke tempat lain toh..
Sunday
May 11, 2008
10:12 pm
Sebenarnya saya sedang tidak dalam ‘mood’ yang baik untuk menulis blog. Dan sebenarnya saya juga tidak terlau suka menulis sebuah review dalam blog saya. Tetapi berhubung sudah ada “bahan”nya.. biarlah saya masukan saja.
Sebagai akibatnya, tulisan ini tidak akan sepanjang blog-blog saya yang lain.
Dimsum adalah salah satu jenis makanan kesukaan saya. Awalnya saya belum mengetahui dimana saya bisa menemui dimsum yang enak (dan tidak mahal) di Singapore. Kebetulan beberapa saat yang lalu, kakak saya mengajak saya untuk ‘merayakan’ ulang tahun saya dengan makan dimsum di Geylang. Dari jauh, tempatnya terlihat sangat biasa, seperti restoran-restoran kecil pinggir jalan di Indonesia. Saya tidak menemui ejaan alphabet untuk menyebut nama restoran dimsum ini. Tetapi dengan modal foto di bawah dan ‘buka-buka’ kamus, akhirnya saya mengetahui nama restoran ini adalah Wen Dao Shi (dalam ejaan ‘pinyin’ yang benar) atau ‘wen tao se’ (dalam ucapan bebas bahasa Indonesia).

Sebenarnya kata pertama (Wen) dalam restaurant tersebut tidak bisa saya temukan di kamus. Tapi ada yang ‘bentuk’nya mirip seperti itu dan dibaca ‘wen’. Setelah “googling” sana sini, ternyata memang kata itu dibaca ‘wen’. Kata tersebut tidak ada di kamus mungkin karena memang tidak ada artinya. Setelah saya telusuri lebih lanjut, ternyata asal usul dari nama restaurant itu sangat simple yaitu Wen Dou Sek, bahasa Cantonese yang berarti 126. Mengapa 126? Karena lokasinya berada di 126 Sims Avenue (dekat Geylang lorong 17). Simple kan?
Seperti yang sudah saya katakan, saya tidak terlalu suka untuk menulis sebuah review. Jadi, saya hanya akan mengatakan bahwa saat ini tempat dimsum terenak (dan murah) yang pernah saya kunjungi di Singapore (menurut saya) adalah Wen Dao Shi ini. Memang belum banyak yang saya jadikan bahan perbandingan sih. Salah satu pembandingnya adalah Victor’s Kitchen di Sunshine Plaza, Bencoolen Street yang mempunyai kelas hampir sama dan tingkat keramaian yang relatif lebih tinggi daripada Wen Dao Shi, padahal (menurut saya lagi) rasa makanannya masih kalah. Mungkin lidah Indonesia saya lebih menyukai makanan yang rasanya lebih ‘medok’ dibandingkan dengan para Singaporean.

Foto di atas adalah foto-foto makanan di Wen Dao Shi yang saya ambil dengan handphone berkamera VGA standard. Jadi yah.. begitu saja lah hasilnya. Yang unik dari restaurant ini adalah sambalnya yang benar-benar ok untuk dimsum dan minumannya yang agak ‘beda’ dari tempat lain. Kalau saya tidak salah, di sini tidak ada teh atau kopi. Hanya ada 4 pilihan minuman yaitu tebu, lemon kiamboi, barley lidah buaya, dan (kalau tidak salah lagi..) cincau. Dan, sekali lagi karena saya ‘agak malas’ menulis review.. lebih baik anda kunjungi dan coba sendiri ke sana.
Oh iya, restaurant ini buka 24 jam loh. Kalau memang masih sangat ingin baca review-nya, saya refer ke blog orang lain saja yah.. yang saya dapat kan dari ‘googling’ juga
Friday
Apr 18, 2008
5:02 am
Sudah saatnya untuk menceritakan lanjutan perjalanan panjang hidup saya. Saat ini saya kembali berada di tanah rantau, terpisah oleh laut dari negara asal saya. Bila ada yang pernah membaca dan masih ingat apa yang saya bayangkan sebagai suatu kenikmatan yang ingin saya raih pada akhir cerita saya satu setengah tahun yang silam.. Saat itu, saya mengatakan bahwa posisi seorang ‘Executive Trainer’ atau ‘Training Director’ yang handal akan terdengar sangat indah di kuping saya dibandingkan dengan posisi-posisi lain. Saat itu, saya masih bertanya-tanya apakah hal tersebut dapat terwujud. Saat ini.. saya akan bercerita bagaimana hal ini ternyata belum bisa terwujud, masih sangat jauh dari terwujud, atau malah tidak akan terwujud, bahkan mungkin saya sudah tidak ingin mewujudkanya. Jalan hidup saya ternyata tidak diatur ke arah sana oleh yang mengaturnya.
Keyakinan saya bahwa saya akan dapat maju bersama dengan cafe yang saya kelola membuahkan hasil yang tidak mengecewakan. Dibawah kepemimpinan saya (dan tentu saja manager saya) serta bantuan dari para staff khususnya opening team, cafe tersebut dapat maju secara perlahan tapi pasti. Tentu saja bukan tanpa kendala, tetapi hal tersebut tidak perlu saya ceritakan di sini. Pada bulan Agustus 2007, saya kembali terlibat dalam pre-opening. Pre-opening outlet kedua dipercayakan penuh kepada saya (tentu saja tetap dengan bantuan dan dukungan penuh dari manager saya). Pre-opening tiga outlet (sub-franchise) berikutnya pun melibatkan saya untuk terjun langsung ke dalamnya, bahkan sampai ke luar Jakarta. Cape? Ya.. pasti.. Saya bukan robot. Tidak suka? Oo.. siapa bilang.. Saya sangat menikmati hal tersebut. Saya sangat menyukai pre-opening time. Buat saya, memulai itu jauh lebih menyenangkan daripada menjalani.. apalagi mengakhiri. Dan kalau mau jujur, saya cukup bangga akan kepercayaan yang diberikan oleh BOD kepada saya.
Sebenarnya karir saya dapat dikatakan baru saja dimulai. Perlahan tapi pasti, saya mendapatkan promosi dan kenaikan gaji sejalan dengan berkembangnya outlet tersebut. Tetapi, kebimbangan kembali hadir dalam pikiran saya. Saya merasa lebih menikmati posisi di ‘belakang layar’ daripada harus bertemu dengan para pelanggan. Sedangkan sebenarnya posisi saya menuntut saya untuk sesering mungkin berada di ‘depan layar’. Saya mencoba ‘bersuara’ kepada BOD, saya mengajukan permintaan untuk ditempatkan di belakang layar.. sedikit menyerempet ke posisi indah yang saya bayangkan sebagai seorang ‘Executive Trainer’. Sebenarnya harapan itu tidak mustahil, arah ke sana tidak terlalu jauh. BOD sedang mencari lokasi yang tepat untuk dijadikan head office dan bila lokasi itu ditemukan maka ‘impian’ saya mendapatkan kemungkinan untuk diwujudkan.
Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan.. head office yang ditunggu-tunggu belum juga didapatkan. Sifat jelek saya kembali muncul ke permukaan.. kebosanan, ketidaksabaran, dan ketidakpuasan. Tidak, tidak ada yang (terlalu) salah dari tempat kerja saya. Sifat-sifat yang saya sebutkan di atas tadi yang memacu otak saya untuk kembali berpikir.. “Let’s go to Singapore?”
Mengapa Singapore? 1. Bila masih di dalam Jakarta, untuk apa keluar dari tempat kerja saya itu. Saya yakin saya masih dapat berkembang di situ. 2. Keluar kota? Hm.. sepertinya bikin susah hidup deh itu.
3. Keluar negri? Ok.. good.. nilai mata uang pasti lebih besar. Ke mana? Yang pasti bukan ke negara yang punya empat musim karena saya benci musim dingin. Aha.. ya.. Singapore. Memang negara itu adalah negara favorit saya.
Lima tahun yang lalu saya pernah mencoba mencari kerja di sana meskipun gagal. Mungkin ‘buffer’ pengalaman saya selama 5 tahun sudah dapat dipergunakan untuk kembali mencobanya.
Baiklah, akan saya coba. Apa langkah selanjutnya? Mencoba melamar dari Jakarta dengan bantuan teknologi e-mail. Saya coba, dan.. tidak ada gunanya sedikitpun. Bidang, level, dan keterbatasan pengalaman saya sepertinya mengharuskan saya untuk pergi langsung ke negara tersebut supaya bila para employer itu membutuhkan saya untuk ‘meyakinkan’ mereka dengan interview langsung, saya bisa segera menemui mereka. Pemikiran ini menimbulkan dilema selanjutnya. Jika begini adanya, maka saya harus meninggalkan pekerjaan saya yang sudah sangat lumayan untuk berjuang mendapatkan sesuatu yang belum pasti. 5 tahun yang lalu, hal ini mungkin tidak terlalu saya pikirkan. Tetapi saat ini.. apakah saya harus mempertaruhkan pekerjaan dan kehidupan saya yang mulai mapan?
Sulit, sangat sulit untuk saya putuskan. Semakin saya pikirkan, semakin saya bingung dan tidak mendapatkan jawabannya. Akhirnya..
tidak.. saya tidak mau membuat keputusan. Biarkan orang lain yang membuat keputusan itu untuk saya tanpa mereka sadari. Bagaimana caranya? Pertengahan Desember 2007, saya lemparkan selembar e-mail kepada BOD. Saya utarakan terus terang kepada mereka bahwa saya berencana untuk mencari kerja di Singapore karena alasan keuangan. Saya katakan kepada mereka bila gaji saya tidak mencapai jumlah “xxx” maka akan lebih baik bila saya berusaha mencari kerja di Singapore. Dengan kata lain dan dipersingkat isi surat itu menjadi berbunyi, “Berikan saya gaji sejumlah ‘xxx’ atau saya akan keluar dari perusahaan.” Jumlah itu akan menyebabkan kenaikan gaji hampir mencapai 50%
, sesuatu yang saya yakin cukup sulit untuk mereka kabulkan. Tetapi biarlah, saya sudah nekad. Biarkan mereka yang memutuskan untuk saya. Bila mereka kabulkan, maka saya akan tetap tinggal di Jakarta dan bekerja di sana. Bila tidak dikabulkan, maka saya harus memulai kembali petualangan saya dan terbang ke Singapore.
Seminggu berlalu.. Saya agak kecewa karena dari 3 orang BOD yang aktif, hanya 1 orang yang memberikan tanggapan pada e-mail tersebut. Beliau (yang kebetulan adalah direktur utama) pada dasarnya tidak keberatan dengan permintaan saya. Tetapi keputusan tidak berada di tangannya, harus ada meeting BOD sebelum keputusan bisa dikeluarkan. Awal Januari 2008, saya tetap belum mendapatkan respon sedikitpun dari para BOD yang lain. Sebenarnya kata ‘iya’, atau ‘nanti’, atau bahkan kata ‘tidak’ dengan alasan yang kuat, mungkin masih dapat menahan saya di sana. Tetapi ketidakpedulian mereka membuat saya mulai berpikir untuk melemparkan surat berikutnya.. surat resign. Saat saya sudah merencanakan untuk menulis surat resign, kebetulan beliau yang masih peduli itu menelpon saya. Saya utarakan niat saya untuk mengajukan surat resign. Beliau meminta saya untuk berpikir kembali dan mengatakan bahwa permintaan saya dapat dikabulkan. Memang BOD yang lain belum tentu setuju akan jumlah yang saya minta. Tetapi beliau mengatakan bahwa bila jumlah yang mereka putuskan belum sesuai dengan permintaan saya, maka kekurangannya akan dia tambahkan secara pribadi dari perusahaan pribadi miliknya, dengan catatan.. saya boleh “dipinjam” kapan saja perusahaan pribadi nya itu membutuhkan.
Berat, pilihan yang berat untuk saya. Bekerja pada dua perusahaan pasti akan sangat menyulitkan posisi saya serta membuat saya sukar untuk membagi waktu dan prioritas. Bisa-bisa waktu makan dan tidur saya akan jadi korban bila saya nekad mengambilnya dan berusaha untuk tidak mengecewakan kedua belah pihak. Sebenarnya bila Pak ‘Dir-Ut’ meminta saya untuk pindah full ke perusahaan pribadinya, kemungkinan besar hal itu akan saya terima. Pola pikir dan cara kerja saya sepertinya jauh lebih cocok dan bisa diterima olehnya daripada oleh BOD yang lain. Selain itu peluang untuk go international pun sepertinya lebih terbuka di sana. Tetapi beliau tidak mau karena tidak enak dengan BOD yang lain bila terkesan mem-”bajak” saya. Selain itu, saya rasa beliau cukup keberatan juga bila harus menggaji saya sejumlah nominal yang saya minta, secara penuh dari perusahaan miliknya pribadi. Akhirnya kami menutup pembicaraan di telpon setelah beliau meminta saya untuk menahan penulisan surat resign dan mengatakan bahwa dia akan segera membicarakan hal ini dengan BOD yang lain.
Saya berpikir keras.. Dalam perhitungan saya, meeting BOD tidak akan mengabulkan permintaan saya. Seandainya sampai ‘Dir-Ut’ mengajukan usulannya untuk menambahnya dari perusahaan milik pribadi dengan catatan saya boleh “dipinjam” tadi.. saya yang tidak bersedia. Pindah ke perusahaan pribadi milik Pak ‘Dir-Ut’.. beliau yang keberatan. Berjam-jam saya habiskan untuk berpikir, menimbang-nimbang, dan minta masukan dari orang-orang terdekat. Saya pikirkan lagi alasan saya untuk pergi ke Singapore. Apakah hanya uang alasannya? Ternyata jawabannya.. tidak. Uang bukan satu-satunya alasan. Efisiensi hidup? Kebersihan? Mungkin.. tapi itu tetap bukan hal utama. Ada satu alasan tertentu, alasan pribadi yang tidak bisa saya ceritakan di sini yang menyebabkan saya berkeinginan untuk ber-’migrasi’ ke negara individual itu. Hal ini semakin lama semakin saya sadari.. karena saat ada yang bertanya apakah jumlah nominal gaji yang saya minta itu dapat membuat saya puas dan menahan saya untuk tetap bekerja dan tinggal di Indonesia? Jawaban saya enteng, “Ngga juga sih. Kalau saya yakin 100% bahwa saya akan bisa mendapatkan kerja resmi (legal) di Singapore… meskipun mereka menawarkan saya gaji 10juta atau bahkan 20juta sekalipun, maka saya akan tetap pindah ke Singapore.”
Nah.. kalau begitu, sebenarnya apa lagi yang saya pikirkan? Apa yang masih membuat saya bertahan di Jakarta? Rasa takut! Takut bahwa saya tidak bisa mendapatkan pekerjaan di Singapore.. cuma itu. Seperti saya katakan di atas, bila saya yakin 100% bahwa saya akan menapatkan pekerjaan maka saya tidak akan berpikir dua kali untuk segera terbang ke sana. Banyak orang yang memiliki keyakinan yang tinggi bahwa saya bisa mendapatkannya. Keluarga, teman-teman, bahkan para staf dan rekan kerja saya memiliki keyakinan yang tinggi atas diri saya. Tetapi, mungkin hanya diri saya sendiri yang sadar sepenuhnya akan “kualitas” yang saya miliki, akan kemampuan dan “daya jual” saya di “medan pertempuran” pencarian kerja. Jujur, keyakinan saya hanya berkisar pada angka 50%. Bila demikian, berarti kemungkinannya adalah fifty fifty. Dan bila saya nekad untuk berangkat berarti saya bertaruh, saya pertaruhkan pekerjaan dan hidup saya yang sudah mapan.. dan.. masa depan saya? Tidak, saya tidak mau mepertaruhkan masa depan saya.. Tetapi pekerjaan saya dan hidup saya yang sekarang, mungkin masih bisa saya pertaruhkan. Keputusan akhir.. saya akan mencobanya tetapi tetap dengan target yang realistis. 4 bulan! Itu waktu yang akan saya berikan kepada diri saya sendiri untuk mencoba mencari pekerjaan di Singapore. Bila waktu tersebut lewat dan saya belum mendapatkannya, berarti saya harus kembali ke Jakarta untuk bekerja.
Langsung saya angkat gagang telepon untuk menghubungi Pak ‘Dir-Ut’. Saya minta kepada beliau untuk melupakan niatnya membicarakan ‘masalah’ saya dengan BOD yang lain. Keputusan saya sudah mantap, saya akan segera mengajukan surat resign. Saya tidak menunda-nunda waktu, keesokan harinya surat resign sudah saya lemparkan kepada seluruh BOD lewat e-mail. Syarat ‘one month notice’ pasti saya patuhi. Bahkan lebih dari itu, saya masukan surat resign di awal Januari untuk keluar di pertengahan Februari. Sekitar satu setengah bulan saya berikan kepada mereka untuk mencari pengganti saya dan memberikan training dan serah terima yang cukup. Apa yang terjadi setelah saya memberikan surat resign kepada BOD? Apakah mereka menahan saya? Tidak sama sekali. Sama seperti yang saya alami saat saya mengajukan surat saya yang pertama.. tidak ada respon sedikitpun dari mereka. Tetapi mereka cukup cepat untuk menunjuk pengganti saya, bukti bahwa mereka tidak keberatan sedikitpun dengan pengunduran diri saya. Bahkan untuk managerial meeting pun saya sudah tidak “diundang” lagi. Semakin yakinlah saya bahwa saya sudah mengambil keputusan yang benar.
Menjelang akhir Januari 2008, saya melakukan pembelian tiket pesawat melalui internet untuk berangkat ke Singapore tanggal 17 Februari 2008. Sehari setelah saya membeli tiket, Pak Dir-Ut menelpon saya. Beliau meminta saya untuk kembali memikirkan keputusan saya. Beliau berubah pikiran dan meminta saya untuk bergabung penuh ke perusahaan pribadinya. Yah.. Pak?
Tiket sudah saya beli kemarin… Bapak terlambat satu hari. Apa memang jalan saya sudah diatur seperti itu? Mengapa tawaran itu baru datang setelah tiket saya beli? Maaf Pak… Tiket sudah ada di tangan, keputusan saya sudah bulat, tidak dapat diganggu gugat lagi. Tinggal lah hari demi hari terakhir saya di perusahaan itu saya lewati dan nikmati. Pada hari-hari itu pula, saya semakin menggiatkan usaha saya untuk mencari segala informasi dan “bala-bantuan” untuk dapat bekerja di Singapore.
Sarana yang cukup sering saya gunakan untuk mendapatkan segala informasi adalah website MOM (Depnaker Singapore) dan milis Indo-Sing. Jujur, milis tersebut malah semakin memperkuat keyakinan saya bahwa apa yang telah menjadi keputusan ini adalah benar-benar suatu taruhan, dimana kemungkinan saya untuk menang adalah hanya sebesar 50%. Untuk kualifikasi seperti saya, sepertinya kemungkinan saya untuk mendapatkan pekerjaan adalah “tergantung amalan”. Ini adalah istilah mereka (para Indo-Sing-ers) yang menggambarkan bahwa segala sesuatunya, apakah akan ada perusahaan yang merasa cocok dan mau mempekerjakan saya.. itu semua tergantung pada keberuntungan saya dan “kebaikan” perusahaan. Pertanyaan saya kepada mereka pun tidak mendapatkan respon yang berarti. Tidak ada yang menjawab apakah kualifikasi saya sudah cukup untuk bisa ‘menerobos’ lapangan kerja di sana. Saya tidak tau pasti apakah kurangnya respon ini disebabkan karena mereka sudah sangat bosan dengan jenis pertanyaan yang senada… atau karena memang hampir tidak ada di antara mereka yang bekerja di bidang F&B dengan status S-Pass. Tetapi setidaknya ada dua e-mail yang masuk ke e-mail pribadi saya (tidak melalui milis) yang menawarkan lowongan pekerjaan. Meskipun pada akhirnya kedua lowongan yang mereka informasikan itu ternyata tidak benar-benar ‘exist’, tetapi saya anggap saja bahwa setidaknya itu adalah pertanda awal yang baik.
Hari Minggu, 17 Februari 2008 malam hari, saya tiba di Singapore. Keesokan harinya dan hari-hari berikutnya saya isi dengan “kesibukan” mencari dan melamar pekerjaan. Bulan pertama saya lewati dengan cepat. Saya tidak mau bercerita panjang lebar lagi mengenai apa saja yang saya lakukan saat itu, karena hal ini sudah pernah saya ceritakan sebelumnya. Yang pasti, saya harus dihadapkan pada kenyataan bahwa begitu banyak kendala yang saya temui pada proses pencarian kerja ini.
Masalah pertama: Batas waktu kunjungan.
Proses pencarian kerja tentu saja memakan waktu yang tidak sebentar. Izin untuk tinggal di Singapore dengan memegang ’social visit pass’ (sebagai turis) secara umum adalah 30 hari sejak tanggal masuk. Hal ini sebenarnya dapat diatasi dengan permohonan EPEC (Employment Pass Eligibility Certificate). Apabila EPEC tersebut berhasil didapatkan, maka kita akan mendapatkan izin untuk tinggal dan mencari kerja di Singapore selama 1 tahun. Yang menjadi masalah adalah, permohonan saya langsung ditolak mentah-mentah saat mendaftar karena saya tidak memegang bachelor degree. Saya bukan sarjana, saya hanya lulusan D3. Berarti cara ini harus saya lupakan dan alternatif berikutnya adalah melakukan perpanjangan social visit pass. Untuk permohonan perpanjangan 30 hari, pada umumnya semua orang dapat dikabulkan. Saya pribadi bisa mendapatkan perpanjangan sampai dengan 60 hari karena kebetulan kakak saya tinggal di Singapore dengan status PR (Permanent Residence).
Masalah kedua: Ketentuan gaji minimum.
Pemerintah Singapore menetapkan ketentuan bahwa foreigner (selain PR) yang bekerja di Singapore harus memiliki izin kerja berupa EP (Employment Pass) atau S Pass (Special Pass) yang harus diurus oleh perusahaan yang akan menerima tenaga kerja asing. Untuk mengajukan permohonan EP, maka perusahaan harus memberikan gaji minimum SG$2500 per bulan, sedangkan untuk S Pass minimum SG$1800 per bulan. Sebenarnya hal ini cukup positif karena mungkin kehidupan kita memang tidak akan terlalu nyaman di negara ini bila harus mendapatkan gaji dibawah ketentuan minimum S Pass tersebut. Akan tetapi ini menyebabkan perusahaan yang berniat menekan cost, akan berpikir dua tiga kali untuk menerima tenaga kerja asing. Sebenarnya ada satu jenis pass lagi di bawah kedua jenis pass di atas yaitu WP (Working Permit). Saya tidak dapat menemukan sumber resmi tertulisnya, tetapi berita dari mulut ke mulut dan berdasarkan pengalaman dari beberapa orang yang sudah lama berkecimpung di dunia F&B Singapore.. entah mengapa Indonesian tidak bisa mendapatkan WP di bidang F&B. WP untuk F&B ini biasanya diberikan kepada Malaysian atau Phillipino. Sedangkan untuk Indonesian, WP biasanya diberikan kepada pembantu rumah tangga.
Masalah ketiga: Lamanya pengurusan izin kerja.
Untuk mendapatkan izin kerja seperti yang telah tertulis di atas, memerlukan proses yang memakan waktu 2-3 minggu. Hal ini lagi-lagi menyebabkan perusahaan lebih memilih orang lokal daripada orang asing. Terlebih lagi untuk restaurant berskala kecil yang tidak mempunyai ’stock’ karyawan yang cukup. Untuk restaurant-restaurant besar atau di dalam hotel, bisa jadi kemungkinannya akan lebih besar karena sumber daya manusia mereka biasanya lebih banyak. Karenanya tidak heran bila pertanyaan yang paling sering saya dengar saat interview adalah, “Are you a Singapore PR?” Dan saya sudah sangat terbiasa dengan perubahan raut wajah para interviewer yang berubah dari positif ke negatif saat pertanyaan itu saya jawab dengan kata tidak. Bahkan pada iklan-iklan lowongan kerja di koran pun sangat sering tertulis di situ “Only Singaporean and PR need to apply”.
Masalah keempat: Latar belakang pendidikan.
Seperti yang sudah saya utarakan, kualifikasi saya masih kurang. Pendidikan tertinggi saya hanyalah D3 (diploma), bukan S1 (bachelor). Ini sudah menimbulkan kendala pertama saat melakukan permohonan untuk EPEC. Selain itu, Singapore juga memiliki perguruan tinggi perhotelan lokal yaitu SHATEC yang juga menyediakan jenjang tertinggi Diploma. Ini akan menyebabkan Singapore untuk berpikir dua kali dalam mengeluarkan S Pass bagi pemegang Diploma perhotelan dari luar. Jika kualifikasinya sama dengan orang lokal, mengapa kesempatan kerja itu harus diberikan kepada orang luar? Jika berani nekad kesini hanya dengan modal diploma, itu berarti pengalaman kerja harus dapat diandalkan.
Oh ya, sebenarnya masih ada satu jalan untuk menghilangkan kendala pengurusan izin kerja yaitu pengurusan LPR (Landed PR) di Jakarta sebelum berangkat ke Singapore. Apabila LPR ini disetujui, maka pemegangnya diberi waktu satu tahun untuk tinggal dan mencari kerja di Singapore. Mereka ini berhak untuk bekerja tanpa jenis-jenis pass yang saya sebutkan di atas, karena begitu mendapatkan pekerjaan maka status LPR ini langsung berubah menjadi PR yang bebas dari segala ketentuan di atas. Resiko dari pengurusan LPR ini adalah biaya pengurusan sebesar sekitar SG$1500 yang akan hilang begitu saja bila permohonan tidak dikabulkan. Untuk pengurusan di Indonesia dapat dilakukan melalui SMC di Jakarta. Saya sendiri pernah mencoba bertanya-tanya ke sana, dan kembali harus menerima jawaban pahit, “Wah maaf, syarat untuk mendaftar LPR ini pendidikan minimum harus S1.” Ya sudah lah.. lupakan lah saja niat itu..
Masalah kelima: Pengalaman kerja.
Seperti yang sudah saya sebut, lagi-lagi kualifikasi saya ternyata masih kurang. Pengalaman saya sebagai restaurant manager di Jakarta ternyata dipandang ’sebelah mata’ di sini. Mengapa demikian? Karena saya hanya pernah menjabat sebagai manager dari suatu cafe.. sebuah casual dining room. Hal ini berkaitan dengan masalah kedua yang saya tulis di atas yaitu ketentuan gaji minimum. Setelah saya sedikit melakukan ‘penyelidikan pasar’.. untuk mendapatkan gaji yang sesuai dengan ketentuan minimum S Pass, jabatan sebatas Restaurant Supervisor dapat dikatakan belum mencapai jumlah itu. Assistant Manager? Hm.. ya, masih bisa. Tetapi itu hanya untuk level hotel-hotel berbintang, fine dining room.. dan hanya segelintir casual dining room. Masalahnya.. sepertinya para employer dari hotel berbintang dan fine dining room ragu akan kemampuan saya untuk menduduki posisi itu, karena saya samasekali tidak pernah ‘menjamah’ fine dining room. Dan sebagian besar casual dining room/cafe yang mungkin tertarik dengan kemampuan saya, standar gaji untuk posisi Assistant Manager nya masih di bawah ketentuan pemerintah untuk pemegang S Pass. Segelintir casual dining room yang standar gajinya lebih tinggi pun mungkin mempunyai harapan kualifikasi yang hampir sama tingginya dengan para hotel berbintang dan fine dining room. Saya hanya bisa berharap pada casual dining room yang masih bisa menghilangkan keraguannya akan kemampuan saya. Dan bila standar gaji mereka untuk posisi Assistant Manager tidak memenuhi syarat pemerintah, mungkin posisi sebagai Restaurant Manager dapat mencapainya. Tetapi lagi.. meskipun mereka bisa menghilangkan keraguan mereka akan pengalaman dan kemampuan saya, tetap saja sulit bagi mereka memberikan kepercayaan kepada saya untuk menjadi pemegang kemudi utama restaurant. Mengapa? Karena ini bukan negara saya. Karena bahasa saya dan kebudayaan saya berbeda dengan bahasa dan kebudayaan mereka. Hal yang wajar bila mereka tidak yakin bahwa seseorang mampu mengatur sekian banyak orang yang memiliki bahasa dan budaya yang berbeda dengan dirinya.
Menilik dan meninjau segala masalah seperti yang telah saya jabarkan, semakin hari saya semakin sadar.. ‘buffer’ pengalaman saya masih kurang. Seperti yang telah saya katakan, jabatan ‘restaurant manager’ yang saya miliki di masa lampau dipandang sebelah mata di sini. Tetapi saya tetap akan bertahan, saya akan terus berjuang sampai jangka waktu 4 bulan yang telah saya tetapkan habis masa berlakunya. Setidaknya ada sesuatu yang masih bisa saya ‘jual’ pada CV saya yaitu keikutsertaan saya dalam ‘franchise development’ di tempat akhir saya bekerja. Kesadaran akan kekurangan ‘buffer’ pengalaman yang saya miliki sebenarnya malah menimbulkan suasana hati yang positif dalam diri saya. Saya tidak lagi ngotot dan terlalu berharap untuk bisa bekerja di negara ini. Yang ada dalam otak dan pikiran saya tinggal ‘que sera sera’.. ‘whatever will be will be’. Jujur, saya malah sudah berpikir kalau saat ini saya hanya sedang liburan. Libur yang sangat panjang sebagai pengganti kekurangan masa libur selama saya masih bekerja di Jakarta. Tamasya yang panjang dan mahal untuk melupakan polusi dan kemacetan di Jakarta.
Demikian saja hari demi hari saya lalui. Mungkin ada yang masih ingat bahwa pada bulan pertama di sini, saya telah melewati sekian banyak interview. Waktu itu saya mengatakan, “Untuk apa sering-sering interview kalau tidak diterima. Lebih baik sekali interview saja tapi langsung diterima.” Entah karena memang saya sudah ‘pasrah’ sehingga pencarian kerja saya sudah tidak se-’giat’ bulan pertama yang menyebabkan panggilan pun menurun (sepertinya tidak juga deh.. memang lowongan nya saja yang entah kenapa jadi sedikit di bulan kedua).. Atau jangan-jangan ini efek dari kalimat saya yang mengatakan tidak mau sering-sering interview. Bulan kedua ini, saya hanya mendapatkan panggilan interview dari satu employer.. N.Y.D.C di Wheelock Place, Orchard. Akhirnya, dari sekian banyak interview yang sudah saya lewati, baru kali ini saya bertemu dengan interviewer pria. Beberapa interview sebelumnya, semuanya selalu dengan para kaum hawa. Mungkin pola pikir dan cara kerja saya memang lebih cocok dengan pria daripada wanita. Sejauh ini, bisa dikatakan interview kali ini saya mendapatkan tanggapan dan reaksi yang paling positif bila dibandingkan dengan interview-interview sebelumnya. Meskipun demikian, kalimat akhir tetap sama.. kalimat yang mengatakan bahwa mereka akan menghubungi saya kembali bila saya terpilih.
Ya, tidak ada interview lain di bulan kedua ini. Semuanya terasa begitu cepat.. telepon untuk interview di NYDC itu saya terima di hari Senin untuk datang di hari Rabu. Hari Senin berikutnya saya dihubungi kembali oleh interviewer saya yang menyatakan bahwa saya diterima dan akan dihubungi oleh bagian administrasi. Hari Rabu, si admin tersebut menghubungi saya dan melakukan aplikasi S Pass secara online. Hari Kamis minggu depannya saya hubungi kembali si admin untuk menanyakan kelanjutan tetapi belum ada jawaban. Yah.. seharusnya memang belum sih.. karena berdasarkan informasi yang saya ketahui, butuh waktu 2-3 minggu untuk pengurusan S Pass. Saya menelponnya hanya untuk menunjukan itikad baik bahwa saya berminat untuk bekerja di sana dan tidak berniat untuk mencari pekerjaan lain (padahal memang tidak ada panggilan lain
). Tetapi ternyata keesokan harinya, di hari Jumat sore.. si admin kembali menelpon saya dan mengatakan bahwa S Pass saya pada prinsipnya sudah disetujui oleh MOM Singapore, hanya perlu melakukan medical check-up untuk pengesahannya. Hari Senin berikutnya, saya melakukan medical check-up. Hari Selasa sore, saya mendapat telepon bahwa hasil medical check-up saya sudah keluar dan dapat di ambil. Hari Rabu pagi, saya melanjutkan pengurusan S Pass ke MOM. Sore harinya di hari yang sama (Rabu), saya mendatangi Work Pass Division di Tanjong Pagar untuk melakukan pengambilan foto dan sidik jari. Hari Senin berikutnya, saya mengambil S Pass saya. Dan keesokan harinya.. di hari Selasa.. tanggal 15 April 2008 adalah hari pertama saya resmi bekerja di Singapore.
Ya.. benar.. Saya mendapatkan pekerjaan itu. Persis dua bulan saya ‘menganggur’. Surat referensi saya dari tempat kerja terakhir, menyatakan bahwa hari terakhir saya bekerja di sana adalah 14 Februari 2008. Surat perjanjian kerja dari tempat kerja baru, menyatakan bahwa hari pertama saya bekerja di sini adalah 14 April 2008. Segelintir casual dining room yang berani memenuhi standard S Pass dari pemerintah ternyata masih ada yang mau mencoba ‘menjajal’ kemampuan saya. Ternyata di bulan kedua ini, harapan saya untuk ‘cukup satu kali interview tetapi langsung diterima’ terkabul. Ternyata, di saat saya sudah ‘pasrah’, tidak ‘ngotot’ dan tidak ‘terbebani’ dengan pikiran bahwa saya harus mendapatkan pekerjaan di sini, saya malah menemukan pekerjaan itu. Ternyata, di saat saya mulai berpikir untuk pulang dan mencari pekerjaan baru di Jakarta, saya diberi jalan untuk tetap tinggal dan bekerja di Singapore. Saya masih yakin, sangat yakin.. bahwa jalan hidup saya ini sudah ada yang mengaturnya. Ada yang mengatakan kepada saya kalau ini adalah ‘hadiah ulang tahun dari Tuhan’ kepada saya.. dan saya sependapat dengan orang itu.

Friday
Apr 11, 2008
4:57 pm
Mungkin ada yang berpikir bahwa saat ini saya akan mengulas panjang lebar mengenai manfaat kartu kredit dan bagaimana cara mempergunakannya dengan bijaksana. Kalau itu pikiran anda, maka anda salah besar. Saya hanya akan bercerita mengenai “pengalaman pahit” yang saya alami belum lama ini, yang menyebabkan saya harus mempergunakan kartu kredit satu-satunya yang saya miliki.
Saya sedang berniat untuk mengubah penampilan rambut saya. Saya sangat bosan dengan rambut panjang, saya ingin memotongnya sependek mungkin dan tentu saja tetap berharap bahwa potongan rambut tersebut cocok untuk saya. Awalnya saya mau nekad mencoba salon di bawah, di daerah HDB yang saya tinggali. Tetapi setelah bertanya sana sini, takutnya potongan di situ asal-asalan dan bentuk rambut saya jadi tidak keruan. Kakak ipar saya menyarankan untuk pergi ke salon bernama I-Con di Isetan dalam Wisma Atria. Di sana memang sedikit mahal, tetapi untuk pertama kali ganti model lebih baik cari aman. Untuk selanjutnya, mungkin bisa ke salon-salon yang lebih murah. Perkiraan harga adalah SG$40 untuk potong rambut di sana.
Dengan modal keyakinan penuh, saya mulai mencari salon tersebut. Wisma Atria tidak sulit untuk dicari. Isetan yang ada di dalamnya pun cukup mudah untuk ditemukan. Nah.. letak salon nya yang agak sulit untuk ditemukan. Salon itu terletak di dalam basement Isetan. Sebenarnya tidak terlalu sulit sih untuk mencarinya, tetapi saya membayangkan salon itu berada pada ruangan khusus yang tertutup kaca. Ternyata, posisinya terbuka di tengah-tengah ruangan Isetan, di tengah-tengah counter tas. Di bagian samping terpampang tulisan ‘ICON’ yang cukup besar. Sayang saya tidak memotret salon tersebut karena memang tidak berencana untuk memberikan review.
Sesuai dengan rekomendasi yang saya terima, begitu sampai di sana saya langsung minta untuk dipotong (rambutnya) oleh stylist yang bernama Michelle. Singkat cerita, permintaan saya kepada si Michelle ini adalah.. memotong rambut saya, makin pendek makin baik, tetapi tetap harus cocok dengan muka saya. Saya tidak mau hasil akhirnya membuat rambut saya mengembang (karena rambut saya keriting alam), dan sebisa mungkin keriting nya itu dibuang sebanyak mungkin. Saya tambahkan lagi pesan berikutnya bahwa saya tidak mau kalau nantinya saat saya menyisir harus memakai gel, hair spray, atau sebangsanya. Setelah berpikir-pikir dan mencari-cari (sepertinya susah juga dia mencari cara bagaimana mengikuti kemauan saya dengan rambut saya yang keriting itu), akhirnya Michelle berkata kalau dia akan memotong pendek rambut saya, kemudian dia luruskan dulu, baru kemudian dibentuk.
Mulailah proses pemotongan rambut saya. Seperti biasa.. dicuci dulu, kemudian dipotong pendek sesuai rencana. Pendek.. tapi rata begitu saja, tidak seperti yang saya harapkan dari salon yang tidak terlalu murah. Tetapi kemudian Michelle berkata bahwa dia akan meluruskan rambut saya. Begini tepatnya yang dia katakan dalam bahasa Inggris, “Now I will make your hair straight, and then I’ll continue with the model.” Oh.. ok.. berarti belum selesai. Bayangan saya dengan ‘make your hair straight’ itu mungkin di-blow, atau paling parah ya di-catok lah. Toh dia tidak memakai istilah bonding, smoothing, atau sejenisnya. Jadi, biarkanlah dia melakukan tugasnya.
Saat Michelle mulai mengambil cream berwarna putih, sebenarnya saya sudah mulai curiga. Tetapi kemudian saya berpikir, “ah.. paling cuma cream biasa.. biar gampang aja..” Jadi tetap saya biarkan dia melakukan pekerjaannya, dan mengoles-oleskan cream tersebut ke rambut saya. Waktu dia mulai mengambil aluminium foil, baru saya sadar… “Walah.. ini sih bonding nih urusannya…” Whaa.. OMG! Bukan, saya bukan takut di-bonding. Tapi.. bonding di Jakarta saja “lumayan” mahal, apalagi di Singapore?!?! Ya sudah lah, sudah terlanjur dimulai, tidak mungkin saya batalkan tiba-tiba. Waktu rambut saya mulai ‘dipanaskan’ degan alat dan didiamkan selama 20 menit, kebetulan receptionist mereka lewat di samping saya. Sambil harap-harap cemas langsung saya tanya, “Do you accept credit card?” Waktu dijawab iya.. lega.. (sedikit leganya.. ngga banyak).
Setelah itu, cuci lagi, catok, kasih obat lagi, didiamkan lagi 15 menit, cuci lagi, baru deh mulai si stylist ‘membentuk’ rambut saya.. dan.. selesai (setelah memakan waktu keseluruhan 4 jam!). Tibalah saat yang paling ditakutkan.. pembayaran. Waduu.. berapa nih.. Pasti mahal 3 proses begini.. potong, bonding, potong lagi. Sebelum masuk tadi saya sempat melirik daftar harga, tetapi hanya harga untuk potong yaitu $40 sesuai dengan kata kakak ipar saya. Dan saya tidak melihat harga-harga lainnya karena memang tidak berencana sama sekali untuk melakukan hal lain diluar potong tersebut. Berapa ya..?? Sebelum menyodorkan bill.. Michelle memberikan kartu namanya; ‘Icon by Shunji Matsuo’, kemudian mengambil sebuah kartu promosi. Biasa, jenis kartu yang ada 10 kotak, dan setiap kelipatan tertentu akan mendapatkan stempel di satu kotak, kemudian kalau semua kotak sudah ter-stempel maka kita layak mendapatkan promosi khusus. Nah.. dia mengambil stempel, lalu… memberikan stempel pada SEMUA kotak yang ada! Hwaaa… again… abis berapa nih!?!?!


Akhirnya.. bill yang “ditunggu-tunggu” pun disodorkan kepada saya….


Nah kan.. SG$300.70!!!
Ya sudah, sekali lagi saya bertanya pasrah, “Credit card ok?” Ok.. ok.. saya geseklah card tersebut. Ya.. memang pada saat-saat seperti inilah kartu kredit benar-benar dibutuhkan. Pengalaman pahit? Hm.. Tidak deh.. Saya mau berpikir positif saja. Bagaimana kalau saya anggap bahwa ini adalah ‘pengalaman lucu’? Atau.. mau lebih positif lagi? Ya.. ya.. ini adalah pertanda bahwa saya sudah siap mental untuk tinggal dan sukses di Singapore. Amin…
Thursday
Mar 27, 2008
7:00 pm
Waduh… Tidak… Computerku tersayang rusak!?!
Memang sih sejak beberapa bulan yang lalu pun sering mengalami hang atau restart sendiri, terutama bila sedang main game yang menggunakan animasi. Tetapi pada awalnya.. saat computer hang, saya cukup me-restart saja dan masalah selesai. Yah, tidak selesai sempurna sih sebenarnya.. karena kan itu berarti game yang sedang saya mainkan harus diulang lagi dari awal kalau belum sempat di-save.
Saat itu, saya sedang memainkan game animasi yang sangat sederhana.. Monopoly! Tidak terpikir sama sekali kalau memainkan game itu pun dapat membuat computer saya kembali hang. Itu kan game yang sangat-sangat basic.. X^(X Ya sudah.. saya restart lah seperti biasa. Tetapi setelah di-restart.. mengapa yang muncul di layar hanya blank blue screen..
Ah, kemarin-kemarin juga pernah sih seperti itu.. kalau di-restart lagi mungkin akan kembali normal. Ok.. restart.. ternyata… tidak berhasil. Kembali hanya blue screen. Wah, kalau begini caranya, berarti harus dimatikan dulu computer nya. Didiamkan beberapa lama sampai agak adem.. baru dinyalakan lagi. Percaya atau tidak.. untuk orang yang mengerti computer mungkin akan mengatakan kalau tidak ada hubungannya antara blue screen dengan computer panas (atau memang ada..?) Memang pernah beberapa kali saya melakukan hal ini (mendiamkan computer sampai adem setelah mengalami blue screen baru kemudian menyalakannya kembali) dan hal ini berhasil.
Setelah saya diamkan sekitar setengah jam.. baca bismilah saya coba lagi untuk menyalakan computer saya. Dan.. tidak bereaksi sama sekali. Diam.. hening.. tidak ada suara apa-apa.. Saya pencet lagi tombol power dan benar-benar tidak berfungsi. Mati total! Computer saya mati total! Oh no! Apa yang terjadi? Hmh.. colokan (power plug).. mungkin kabel colokannya ada apa-apa. Ok, mari kita coba ganti dengan kabel colokan yang lain. Saya ganti.. dan saya pencet lagi tombol power. Argh masih tidak bisa… ^:| Kemungkinan terakhir.. mungkin memang kabel colokan nya tidak ada yang benar. Langkah selanjutnya, saya coba pasang kabel colokan yang (mungkin) rusak itu ke monitor. Kemudian saya coba nyalakan monitornya.. dan.. nyala.. hore.. Eh.. kok hore?? Itu kan berarti.. memang CPU saya yang bermasalah..
Yah.. ngga kebayang deh hari-hari berikutnya bagaimana kalau tidak ada computer. Harus ditemukan sebab musababnya.
Kecurigaan berikutnya ada pada si power supply. Oh ya.. pada gambar power supply di sebelah, ada 3 daerah yang saya lingkari. Itu adalah daerah-daerah yang mengalami kerusakan dengan jelas tanpa harus diperiksa oleh teknisi ahli. Kecurigaan pertama saya ada pada lingkaran nomor 1. Kipas angin pada power supply memang sudah tidak berputar sejak sekitar dua hari sebelumnya. Sebelumnya, kipas angin itu masih dapat berputar bila dipancing dengan dorongan sedikit dengan pulpen atau apapun lewat celah-celah angin bagian belakang si kipas. Tetapi dua hari terakhir, dipancing seperti apapun tetap tidak berputar. Hal ini yang memperkuat kecurigaan pada kerusakan power supply. Dalam gambar, power supply ini memang sengaja saya foto dalam keadaan terbuka. Tetapi sebelum membukanya, untuk memastikan bahwa kerusakan memang di situ.. kakak saya mencoba mengambil power supply dari PC nya dan memasangnya ke CPU PC saya. Dan berhasil, computer saya dapat dinyalakan kembali dengan bantuan power supply itu.
Jelaslah sudah bahwa kerusakan memang ada di situ. Cukup lega rasanya bahwa setidaknya sudah tau di mana sumber kerusakannya meskipun tetap terpikir sih.. pasti harus ada sejumlah uang yang keluar untuk memperbaikinya.
Selanjutnya ada dua pilihan, langsung membeli power supply yang baru.. atau mencoba membukanya dan berharap mungkin ada cuma sekedar sikring (fuse) yang harus di ganti (yang harganya pasti lebih murah daripada harus membeli satu unit power supply). Kebetulan CPU itu masih dalam masa garansi sampai dengan bulan Mei 2008. Tetapi bila ingin menggunakan garansi, berarti harus dibawa ke toko asalnya di Jakarta. Hmh.. ada sih saudara sepupu saya yang mungkin bisa dimintain tolong untuk mampir ke toko di Mangga Dua Mall..
Dan kebetulan ada tante saya yang akan datang ke Singapore dalam waktu dekat. Tetapi dipikir-pikir lagi.. sepertinya sepupu saya itu cukup sibuk hari-harinya. Dan setelah itu, entah berapa lama saya harus menunggu sampai power supply itu kembali ke saya. Dan hari-hari saya, sepertinya agak sulit untuk dilalui tanpa computer.
Akhirnya keputusan jatuh pada membuka power supply itu dan merelakan garansinya hilang. Walhasil.. memang ada sikring di sana, tetapi sifatnya permanen, terpasang kuat dengan solder. Berarti cukup sulit bila nekad untuk mengganti sikringnya saja. Terlebih lagi setelah itu terlihat bukti kerusakan lain yang tampak jelas oleh mata telanjang. Bukti itu ada pada lingkaran nomor 2 dan nomor 3 dari gambar pertama di atas. Akan saya tunjukan secara rinci dimana letaknya. Pada lingkaran nomor 2 saya temukan bahwa pada salah satu bagian condensor terdapat bekas kebocoran. Saya tandai dengan lingkaran pada gambar pertama di bawah. Dapat terlihat bekas bocorannya?


Nah, dua gambar yang di sebelah kanannya.. itu saling behubungan (merupakan ‘zoom’ dari lingkaran nomor 3 pada gambar pertama di paling atas). Begini ceritanya.. Setelah melihat condensor yang bocor itu maka keputusan saya untuk membeli power supply yang baru sudah bulat. Tidak mungkin hanya sikring nya yang diganti melihat kondisi seperti itu. Kemungkinan memang tetap masih ada bila masih mau mencoba. Tetapi bila berhasil pun, bukan tidak mungkin akan mengalami keruskan lagi dalam waktu singkat. Akhirnya saya tutup kembali casing power supply tersebut. Pada saat saya angkat, saya mendengar bunyi-bunyian dari dalam power supply tersebut. Penasaran saya buka lagi casing nya, kemudian saya goyang goyang untuk mencari sumber bunyi. Dan kemudian.. tuk.. jatuh sebuah benda kecil. Selubung condensor seperti gambar yang ada ditengah. Semakin penasaran, saya cari dari mana asal selubung tersebut. Dan ternyata.. itu berasal dari sebuah condensor lainnya yang terkelupas
seperti terlihat pada gambar di sebelahnya. Benar-benar bulat sudah tekad saya untuk membeli power supply yang baru.
Dan akhirnya diputuskan bahwa saya harus ke SimLim Square untuk membeli power supply. Bagi yang belum pernah ke SimLim Square, tempat ini bisa dikatakan hampir mirip dengan Mangga Dua Mall di Jakarta. Setelah surfing-surfing sana sini, kakak saya menyarankan untuk ke toko yang bernama Fuwell yang letaknya ada di lantai empat. Maka terbanglah langsung saya ke sana.

Lokasinya mudah ditemukan, dapat terlihat dari escalator. Tokonya terlihat cukup lengkap. Tidak bisa tawar menawar karena semua barang sudah di-bandroll, tetapi harga-harga di sana cukup bersaing. Pelayanannya biasa-biasa saja, tidak akan ada yang menghampiri kalau kita tidak memanggil dan bertanya duluan. Tetapi hal ini sangat bisa dimaklumi karena toko ini cukup ramai. Mohon maaf bila foto nya tidak terlalu jelas, saya ambil melalui handphone dengan kecepatan tinggi karena takut ketahuan si empunya toko.
Power supply ini saya beli dengan harga SG$40 atau sekitar 250 - 260 ribu bila dirupiahkan. Untuk sebuah power supply merk i-Cute 450watt, 20/24 pin, dengan kipas angin yang cukup besar (lebih besar dari power supply lama saya) yang menghadap ke bawah.. saya tidak tau sih harga ini cukup murah atau tidak karena saya memang tidak pernah mengecek harga di Jakarta. Di pasaran Singapore, ada power supply yang harganya hanya sekitar $20. Tetapi kebetulan di Fuwell, power supply yang saya beli ini adalah power supply termurah di sana untuk spek yang saya inginkan. Yah, singkat cerita.. power supply yang baru ini sekarang sudah terpasang dengan manis di CPU saya dan saya bisa kembali bercomputer dengan damai.
Monday
Mar 17, 2008
11:12 am
Sudah sebulan loh ternyata saya ada di Singapore sini. Lebih dari 80 CV sudah saya tabur kesana kemari. Belum.. belum ada hasil yang dapat dibanggakan.
Meskipun sebagian orang mungkin berpikir bahwa apa yang saya lewati selama satu bulan ini cukup lumayan dengan beberapa interview yang ada. Banyak loh orang yang tidak dapat panggilan sama sekali dalam bulan pertamanya. Tapi kalau menurut saya sih.. untuk apa juga ya sering sering interview kalau tidak diterima. Mending sekalian nanti aja dipanggilnya, tapi sekali dipanggil langsung dapet.. jadi kan ngga buang buang ongkos.
Apa saja kira-kira yang saya lakukan tiap hari selama jadi ‘pengangguran’ di negara yang lumayan mahal ini? (Lebih mahal lah pastinya kalau dibandingkan dengan Jakarta..) Yah, setidaknya saya mempunyai tiga ‘makhluk’ ini yang selalu menemani saya setiap hari…



Gambar pertama pasti sudah bisa ditebak dengan mudah. Siapa pun tau kalau saya ‘tergila-gila’ dengan computer dan hampir tidak pernah melewatkan seharipun tanpa itu sejak dulu. Nah, gambar kedua.. betul.. itu TV.
Dan di layar terpampang film sinetron yang berjudul ‘Cahaya’. Hehe, itu bukan hanya kebetulan. Memang saya sengaja menampilkan sinetron itu.. karena jujur, memang sinetron itulah yang saya tonton setiap hari selama di sini.
Lalu gambar ketiga? Perkenalkan.. itu Jumpie.. kawan setia yang selalu menemani saya ‘ngobrol’.
Ternyata.. seorang Prila juga suka nonton sinetron dan ‘ngobrol’ dengan boneka.. Sisi lain dari seorang Prila yang baru anda ketahui?
Begitulah hari demi hari saya lalui. Untungnya tidak sukar bagi saya untuk pergi kemana pun meskipun saya termasuk orang yang sulit untuk menghafal dan mengenal jalan. Jangankan di Singapore.. di Jakarta aja masih sering nyasar..
Fasilitas angkutan umum di sini yang sangat teratur membuat semuanya mudah untuk saya. Kapanpun saya pergi untuk interview, ke Gereja, atau sekedar bertemu siapa saja.. saya cukup membalik-balik segala macam buku petunjuk arah yang ada. Mereka lah ‘makhluk-makhluk’ lain yang sering menemani saya.. menjadi navigator yang handal untuk saya.
Memang Singapore ini bisa dikatakan daerah tujuan wisata. Padahal kalau mau jujur, tidak ada yang indah loh di sini.
Tetapi cukup banyak orang (terutama orang Indonesia) yang suka ke sini, meskipun hanya berjalan dari mall ke mall. Buktinya, selama hanya satu bulan saja saya sudah bertemu dengan dua orang bayi teman saya yang belum pernah saya temui selama saya di Jakarta. Siapakah mereka? Hehe, tebak sendiri saja lah dengan melihat photo dan nama mereka.
Kedua bayi ini adalah anak-anak pertama dari teman-teman saya semasa kuliah dulu. Hm.. begitu cepat ya waktu berlalu..
Demikian cepatnya waktu berlalu membuat saya mulai ragu akan langkah saya di sini. Saya akui, seharusnya saya bisa cukup berbesar hati dengan deretan interview yang telah saya jalani selama sebulan di sini..

Bagaimana.. tidak terlalu mengecewakan kan deretan di atas?
Tapi seperti yang saya katakan di awal blog ini.. Itu cuma sekedar interview. Tiga interview awal sudah dapat dipastikan kegagalannya karena saat ini batas waktu penentuan sudah lewat. Dua di sebelah kanan mungkin masih ada setitik harapan. Tapi saya tidak mau berharap terlalu jauh. Saya hanya bisa meyakini bahwa yang terbaiklah yang akan terjadi…
Friday
Mar 7, 2008
5:15 pm
Akhirnya.. Blog pertama saya di tahun 2008..
Blog pertama saya di daerah baru yang saya tempati baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Sudah lama saya bercita-cita untuk menambah sempit dunia maya dengan memasukan prilaquin.com saya ke dalamnya. Pada saat masih bekerja, hal ini agak sulit saya wujudkan karena pekerjaan yang cukup menyita waktu dan energi saya
Kebetulan sekali (hm.. bukan kebetulan sih, tapi memang sudah direncanakan
) saya mempunyai waktu luang saat saya keluar dari pekerjaan saya dan “migrasi” dengan “modal nekad” ke negara tetangga, Singapura (kapan-kapan akan saya ceritakan perjalanan saya hingga sampai ke sini dan bagaimana hasilnya untuk melanjutkan cerita panjang hidup saya). Sambil berusaha untuk mencari pekerjaan di sini, saya punya waktu yang lebih dari cukup untuk membuat website saya sendiri dan memindahkan semua blog saya dari alamat lama ke alamat baru. Dan bagusnya memang saat konstruksi pembangunan website ini, saya berada di Singapore. Saya yakin kalau saya masih di Jakarta, dengan akses internet yang minta ampun lambat.. waktu yang saya butuhkan untuk mewujudkannya mungkin 2-3 kali lebih lama.
Dengan keyakinan 100% bahwa domain dengan nama asli saya pasti akan saya dapatkan
, saya mulai mencari hosting yang cocok untuk prilaquin.com saya. Saya ikuti saran dan masukan dari adik sepupu saya untuk mempercayakan web hosting saya pada tadulako. Dan untuk blog, pastinya WordPress yang jadi sasaran sarana yang paling pas buat saya. Yah, jujur.. waktu yang saya perlukan untuk membuat website yang sebenarnya sangat-sangat sederhana ini bisa dikatakan super lambat.
Itu aja masih ada sentuhan bantuan sedikit dari kakak saya dan konsultasi yang cukup sering dengan adik sepupu saya. Maklum deh.. orang awam nekad bikin website, ya begitu lah jadinya.
Apapun jadinya.. ya inilah hasilnya. Pasti masih banyak perbaikan dan penyempurnaan berikutnya. Tapi untuk sementara, saat ini saya sudah cukup berani kok untuk mulai melakukan ‘publikasi’ kepada umum.
Dan please lah.. hargai saya sedikit.. (berapapun harganya, hehe) dan mampir sebentar untuk menuliskan sesuatu di Guestbook saya.. okay..