Monday
Dec 17, 2007
12:25 am
Sukses… Apa itu? Jangan definisikan sukses sebagai sesuatu yang sangat besar, sangat luas, dan sangat sulit untuk didefinisikan. Lihatlah sukses sebagai 1 scoop kecil saja. Saat ini, sukses untuk saya adalah apabila berhasil menulis blog tentang “Sukses” ini sendiri.
Sering kali kita mendengar ucapan-ucapan kekaguman yang menyatakan bahwa si A sudah sukses, ucapan rasa sayang tentang si B yang belum sukses, atau kecaman mengenai si C yang tidak suses. Itu anggapan kita mengenai mereka. Tapi apakah si A, si B, atau si C yang menjalaninya berpikiran sama seperti kita? Belum tentu.
Our business in life is not to get ahead of others, but to get ahead of ourselves.. to break our own records, to outstrip our yesterday by our today.
Hanya orang yang punya target dan tujuan dalam hidup, sekecil apapun itu.. yang dapat meraih sukses. Kita tidak perlu membandingkan diri kita dengan orang lain untuk menilai kesuksesan diri kita sendiri. Saat kita memecahkan rekor kita sendiri, saat kita bisa lebih baik daripada kemarin.. lebih baik daripada tadi pagi.. lebih baik daripada 1 jam yang lalu, atau bahkan 1 menit yang lalu.. saat itu lah kita sudah mengalami sukses. Saat kita mengatakan kepada diri kita sendiri “aku harus lakukan hal itu” dan hal tersebut berhasil kita lakukan.. saat itu juga kita sudah mencapai sukses.
Seringkali kita merasa bahwa dalam hidup kita tidak ada yang benar. Kegagalan demi kegagalan datang silih berganti dalam kehidupan sehari-hari. Apakah benar-benar ada orang yang selalu gagal dalam hidupnya? Tidak ada! Kutipan-kutipan di bawah ini bisa menjadi buktinya:
Sometimes, for some people, the only way is the wrong way. Even a stopped broken clock is correct twice a day. Success is how high you bounce when you hit bottom. Success is sweet and sweeter if long delayed and gotten through many struggles and defeats.
Bukankah itu benar? Terkadang semua jalan yang benar seperti tertutup, berkabut. Satu-satunya jalan yang bisa kita ambil mungkin merupakan jalan yang salah. Tapi itu bukan berarti kegagalan. Terkadang, jalan yang salah itu bisa berubah menjadi jalan yang benar bila kita bisa melaluinya dengan benar. Bahkan sebuah jam dinding yang sudah rusak, tidak bergerak sama sekali pun bisa menunjukan waktu yang tepat setidaknya dua kali dalam sehari. Saat kita bangkit kembali saat kita jatuh, berjuang dan terus berjuang untuk memperbaiki segala kesalahan dan kegagalan kita.. Saat itu lah kita mengalami sukses.. dan saat itu akan terasa begitu indahnya.
Saya lihat kehidupan saya sekarang.. seringkali saya bingung. Apakah sukses sudah menghampiri hidup saya? Saya lihat kehidupan teman-teman seperjuangan saya. Menurut saya beberapa dari mereka sudah sangat sukses. Seorang teman saya sudah mengepalai entah berapa restaurant dan gajinya entah sudah berapa kali lipat di atas saya. Saya anggap dia sukses. Tapi katanya… apa yang dia raih belum cukup. Anaknya yang sudah mulai mau masuk sekolah menuntut tingkat kehidupan yang lebih lagi. Belum sukseskah dia? Kalau dia belum… bagaimana dengan saya?? Menurutnya, mungkin orang yang punya usaha sendiri akan mempunyai hidup yang lebih baik. Saya lihat lagi kehidupan teman saya yang lain.. teman yang punya usaha sendiri. Sukseskah dia? Menurutnya… tidak! Dia tidak suka dengan usaha yang diberikan oleh orang tuanya kepadanya.. dia lebih menginginkan kemandirian, kebebasan, dan hidup berjuang bersama dengan orang yang dicintainya. Hal-hal itu tidak dapat dimilikinya dengan perusahaan yang dimilikinya. Belum sukseskah dia??
Saya yakin sekarang, sukses tidak bisa dilihat dari satu sisi kacamata. Sukses tidak mungkin didapat dalam segala segi dalam waktu yang bersamaan. Sukses adalah penilaian diri kita sendiri, pada setiap aspek kehidupan. Mungkin dalam satu aspek dalam satu waktu tertentu, saya sudah mengalami sukses. Tetapi masih banyak sukses-sukses yang harus saya raih. Dan telah banyak sukses-sukses yang telah saya lewati.
Success in its highest and noblest form calls for peace of mind and enjoyment and happiness which come only to the man who has found the work that he likes best. Success is the person who year after year reaches the goals in his field.
Yah, saya akui.. cukup banyak orang yang menganggap hidup saya sekarang sudah sukses. Tetapi diri saya begitu rendahnya memandang diri saya sendiri (dan pemberian Tuhan kepada saya..) Hal ini harus saya hentikan. Saya sadar sekarang, apapun yang saya alami, apapun yang saya jalankan.. telah begitu banyak sukses yang saya lewati dan Tuhan berikan kepada saya. Saat saya berhasil belajar berjalan, saat itu saya meraih sukses. Saat saya lulus SD, lulus SMP, lulus SMA, lulus kuliah.. saat-saat itu saya meraih sukses. Saat pertama kali mendapatkan pekerjaan, gaji pertama saya, promosi pertama saya.. saat-saat itu saya raih sekian banyak sukses. Saat saya harus keluar dari pekerjaan, saat saya harus mengulang kembali gaji saya dari awal, apakah itu kegagalan? Bukan, itu bukan kegagalan. Karena saat itu lah saya memiliki cita-cita.. saya harus mendapatkan pekerjaan, saya harus meningkatkan mutu pekerjaan saya, saya harus mendapatkan penghasilan yang lebih besar. Dan setiap saat saya mendapatkan sedikit demi sedikit dari apa yang saya harapkan, saat itulah saya meraih dan meraih kembali sukses. Jadi, jangan pernah menyerah, jangan pernah berhenti berharap. Tentukan goal anda hari demi hari. Apa yang mau anda raih hari ini? Apa yang harus anda selesaikan hari ini? Kerjakanlah, lakukanlah.. dan nikmatilah sukses anda di hari ini.
Banyak orang yang menyalahkan nasib atas hidupnya, mengatasnamakan takdir atas kegagalan sementara yang dia peroleh. Hal ini sangatlah tidak bijaksana karena pada dasarnya semua orang lahir di dunia ini dengan segala kekurangan dan kelebihan yang pasti dimilikinya.
Success in life comes not from holding a good hand, but in playing a poor hand well. Success means only doing what you do well, letting someone else do the rest. Success is a matter of viewpoint.. The pessimist sees the bottle as half empty, the optimist sees it as half full. Opportunities? They are all around us… There is power lying latent everywhere waiting for the observant eye to discover it.
Dalam satu acara televisi, saya mendengar seorang berkata, “Segala sesuatu bila ditekuni dan dijalankan dengan serius.. pasti akan membuahkan hasil, bahkan bila itu berupa kebodohan. Contohnya… lihat saja si Bolot bintang film yang terkenal karena ke”Bolot”an nya.. Dan Mr. Bean? Mereka terkenal dan sukses karena “kebodohan yang ditekuni.” Jadi? Tunggu apa lagi.. tentukan target anda hari ini dan raihlah sukses anda hari ini. Jangan takut untuk gagal, jangan takut untuk berkorban, dan jangan takut untuk menderita untuk meraih sukses. Jangan lupakan orang-orang di sekitar kita karena mereka adalah bagian dari sukses kita. Orang-orang di sekitar kitalah yang membantu kita untuk mencapai sekian banyak sukses yang telah kita lewati. Jangan pernah “terbang” dan lupa diri karena kesuksesan kita. Terkadang, harus kita terima bahwa dalam kesuksesan kita selalu ada pengorbanan dan dengan pengorbanan itulah kita raih kesuksesan. Ada kutipan dari sebuah bacaan yang cukup menggetarkan hati saya..
There’s always something about your success that displeases even your best friends. Success and suffering are vitally and organically linked. If you succeed without suffering, it is because someone suffered for you; if you suffer without succeeding, it is in order that someone else may succeed after you.
Apakah kutipan di atas benar? Bila benar… dimana letak kesuksesan itu? Sekali lagi saya katakan.. Tidak ada penilaian yang benar dan akurat untuk hal ini. Hanya diri kita sendiri, harapan kita sendiri, tujuan kita sendiri, dan penilian diri kita sendiri lah yang dapat menjawabnya.
Some people are at the top of the ladder, some are in the middle, still more are at the bottom, and a whole lot more don’t even know there is a ladder.
Yang harus kita lakukan sekarang adalah, temukan dimana tangga itu berada. Tangga itu pasti ada bila kita mau melihatnya. Kesuksesan pasti dapat kita raih bila kita bisa menentukan apa yang mau kita raih. Saya sudah raih sukses saya hari ini.. karena saya telah berhasil menulis blog tentang sukses… yang sudah menjadi keinginan saya dalam beberapa hari ini.
Sunday
Jun 17, 2007
10:04 pm
Sepertinya saya sedang suka menulis blog seputar tilang, tetapi semoga ini yang terakhir.
Tergerak dari pengalaman saya belum lama ini mengenai proses dan prosedur pelanggaran lalu lintas, tilang, dan penyelesaiannya, saya akan mencoba untuk memberikan pilihan-pilihan yang dapat dilakukan bila anda menemui masalah ini. Saya tidak akan menyebut ini sebagai tips, karena dari beberapa tips yang saya dapatkan dari sejumlah website mengenai pelanggaran lalu lintas dan tilang, ternyata masing-masing orang memiliki pengalaman dan hasil yang berbeda-beda dari apa yang mereka ‘lakukan’.
Di sini saya akan memberikan langkah-langkah yang dapat anda lakukan saat ‘menyadari’ bahwa anda baru saja melakukan pelanggaran lalu lintas, dimana setiap langkah mungkin memiliki ‘resiko’ sehingga pada akhirnya anda sendiri lah yang ‘berhak’ menentukan langkah mana yang akan anda ambil. Tips untuk membaca langkah-langkah ini adalah: Baca langkah yang ada secara berurutan mulai dari nomor 1. Bila resiko terlalu besar dan langkah itu tidak ingin anda ambil, lupakan langkah tersebut dan beralihlah ke langkah berikutnya. Bila anda ingin mengambil langkah itu maka ada 2 kemungkinan yang akan terjadi yaitu masalah anda selesai, atau anda tetap harus melanjutkan ke langkah berikutnya. Demikian seterusnya sampai langkah terakhir. Bacalah setiap langkah sampai akhir blog ini supaya anda tidak mengambil keputusan yang salah.
Mari kita mulai. Tentu saja langkah yang paling tepat dan utama adalah sebisa mungkin tidak melakukan pelanggaran lalu lintas. Tetapi, yah.. namanya juga manusia.. Saat anda (ketahuan) melakukan pelanggaran lalu lintas dan ada polisi yang meniup peluit atau memberikan tanda apapun supaya anda memberhentikan kendaraan anda, langkah yang dapat anda ambil adalah:
1.
Jangan pedulikan polisi tersebut. Pura-pura tidak melihat dan tidak mendengar, lajukan kendaraan anda seperti tidak terjadi apapun.
Resiko: Kemungkinan besar anda tertangkap dan pada akhirnya tetap harus menghentikan kendaraan anda yang mengakibatkan pelanggaran yang anda lakukan lebih besar.
2.
Berhentikan kendaraan anda, ucapkan salam kepada si polisi. Mintalah (dengan sopan) agar si polisi menunjukan kartu ID polisi nya kepada anda sebelum anda memberikan SIM/STNK kepadanya. Ini adalah hak anda, karena bila tidak dapat menunjukan ID Card maka polisi tersebut tidak berhak menilang anda. Katakan saja (dengan sopan) bahwa SIM/STNK anda pernah hilang diambil oleh polisi gadungan. Catat/ingat baik-baik nama dan nomor ID si polisi. Hal ini ditujukan agar polisi itu tidak berbuat “macam-macam” dengan SIM/STNK anda.
Resiko: Jika ini anda lakukan, jangan berharap anda dapat melakukan “transaksi damai” atau pembayaran di tempat. Sudah dapat dipastikan anda akan melalui proses tilang karena polisi yang sudah dicatat nama dan nomor ID nya tidak akan berani untuk melakukan hal diluar prosedur.
Jika langkah ini yang anda ambil, lewati langkah 3-5, bacalah langsung langkah 6.
3.
Untuk menghemat waktu dan uang, “transaksi damai” sering terbukti jauh lebih irit dari prosedur apapun. Jangan membela diri sekalipun anda (merasa) tidak bersalah, karena sekali sudah diberhentikan oleh si polisi, itu sudah berarti bahwa anda ‘bersalah’. Yang menjadi pertanyaan adalah, berapa jumlah uang yang pantas anda keluarkan untuk melakukan “transaksi damai” ini. Saran saya, mulailah dengan Rp10.000 bila anda naik motor dan punya SIM, Rp30.000 bila anda tidak punya SIM ; mulailah dengan Rp20.000 bila anda naik mobil dan punya SIM, Rp40.000 bila anda tidak punya SIM. (Note: Angka ini mungkin bisa berubah beberapa tahun ke depan.
)
Resiko: Di beberapa tempat dan untuk sebagian polisi, jumlah yang saya sebutkan di atas mungkin tidak cukup dan “transaksi” belum dapat berhasil.
4.
Tambahakan jumlah uang yang akan anda keluarkan bila “transaksi” belum berhasil. Anda dapat menambahkannya sedikit demi sedikit maupun secara langsung sampai ke batas maksimum, tergantung dari mood anda dan penilaian anda terhadap mood si polisi.
Berapakah ‘batas maksimum’ pengeluaran anda untuk “transaksi” tersebut? Sesuaikan dengan pelanggaran yang anda lakukan, ada baiknya anda mengetahui tarif denda resmi. JANGAN jadikan itu sebagai batas maksimum. Tambahkan sekitar Rp25.000 dari tarif denda resmi tersebut untuk batas maksimum. Karena.. percaya atau tidak, pada akhirnya sejumlah itulah yang akan anda keluarkan bila mengikuti prosedur resmi. Tambahan Rp25.000 itu adalah pengganti waktu anda yang terbuang / ongkos transportasi / ongkos perkara / biaya administrasi / biaya titip sidang / mark-up denda dari hakim / mark-up tabel denda resmi di pengadilan negri setempat / … dll.
Bila anda malas membaca tarif denda resmi, maka saran saya untuk ‘batas maksimum’ pengeluaran dalam “transaksi damai” adalah Rp45.000 bila anda naik motor dan punya SIM, Rp65.000 bila anda tidak punya SIM ; Rp55.000 bila anda naik mobil dan punya SIM, Rp75.000 bila anda tidak punya SIM.
Resiko: “Polisi” yang sedang “butuh uang” atau Polisi yang (terpaksa) taat peraturan dan (selalu) mengikuti prosedur bisa saja tetap menolak uang yang akan anda berikan meskipun sudah mencapai batas maksimum.
5.
Berikan berapapun jumlah yang si “polisi” minta.
Resiko: Anda bisa kehilangan banyak uang.
6.
Katakan bahwa anda setuju ditilang dan bersedia mengikuti prosedur resmi.
Resiko: Ada kemungkinan (kecil) “Polisi” yang kesal bisa “membuang” SIM/STNK anda, kecuali anda telah melakukan langkah no 2. Sekali SIM/STNK sudah berpindah dari tangan anda, kemungkinan SIM/STNK anda hilang selalu ada meskipun kecil.
Bila resiko ini sangat anda takuti, pikirkan dan baca kembali langkah 3-5.
7.
Minta kepada Polisi untuk memberikan slip tilang warna biru. Note: Slip biru berarti anda menerima kesalahan anda, slip merah berarti anda tidak mengakui kesalahan anda dan karenanya bersedia untuk mengikuti sidang dan menunggu keputusan hakim. Dengan slip biru, anda tidak perlu sidang. Cukup membayar denda resmi pada BRI yang ditunjuk dan mengambil SIM/STNK anda di tempat yang ditentukan dengan menunjukan bukti pembayaran denda. Pastikan pada slip biru tertulis dengan jelas Nama dan Lokasi BRI tempat pembayaran, Jumlah Denda, dan Tempat Pengambilan Kembali SIM/STNK anda.
Resiko: Sebagian besar polisi mungkin akan mengatakan bahwa slip biru sudah tidak berlaku dan yang ada hanya slip merah. Ini berarti anda harus mengikuti sidang.
8.
Jangan ikuti tanggal dan tempat sidang. 3×24 jam setelah anda menerima surat tilang, seharusnya berkas (SIM/STNK) anda sudah/masih berada di Ditlantas MT.Haryono (dari arah Slipi melewati lampu merah Pancoran, ada di sebelah kiri). Langsung menuju ke ruangan tilang yang berAC, serahkan slip merah anda kepada petugas dan tunggu nama anda dipanggil. Tidak perlu menunggu lama, SIM/STNK anda dapat kembali saat itu juga setelah anda membayar denda. Biasanya jumlah yang harus dibayar adalah denda resmi ditambah sekitar Rp10.000 - Rp20.000 yang mereka katakan sebagai biaya “titip sidang”.
Resiko: Saat anda ke Ditlantas ini mungkin saja SIM/STNK anda masih ada di tangan polisi penilang, dan ini berarti anda harus mencoba lagi hari-hari berikutnya sampai dengan sehari sebelum tanggal sidang. Selain itu, mungkin juga SIM/STNK anda malah sudah dikirim ke pengadilan negri tempat anda akan disidang. Bila ini yang terjadi, maka anda harus mengambil langkah 9.
9.
Biasanya sidang tilang pada setiap pengadilan negri hanya dilakukan seminggu sekali. Ketahui jadwal sidang tilang dari tanggal sidang yang tertulis di surat tilang anda. JANGAN datang pada hari sidang tilang. Alasan pertama adalah karena antrian akan sangat panjang, lama, dan penuh sesak. Alasan kedua adalah karena sidangnya pun belum tentu ada. Sering terjadi, meskipun itu adalah hari sidang tilang, tidak ada hakim yang datang dan pada akhirnya kita hanya berurusan dengan para petugas yang ada di pengadilan itu dan membayar denda ke mereka. Daripada berjubel dan berdesakan untuk sidang padahal sidangnya belum tentu ada, lebih baik mengambil hari lain diluar hari sidang tilang dan langsung mencari petugas/ruangan tilang untuk langsung mengurus berkas (SIM/STNK) anda dan membayar denda kepada mereka tanpa harus mengantri lama dan berdesakan.
Resiko: Kemungkinan besar denda yang harus dibayarkan akan lebih tinggi daripada bila kita mengikuti sidang resmi.
10.
Memang seringkali dengan mengikuti sidang resmi, maka yang kita bayarkan adalah benar-benar sejumlah denda resmi ditambah ongkos perkara dan bukan tidak mungkin itu jauh lebih murah daripada semua langkah yang ada di atas (bila tidak memperhitungkan ongkos, waktu, dll, dsb). Jika memang ini yang anda inginkan, datanglah tepat pada tanggal, waktu, dan tempat sidang yang telah ditentukan / tertulis pada surat tilang dan hadirilah sidang tilang tersebut. Hindari calo karena pada dasarnya apa yang bisa dilakukan oleh calo, dapat dilakukan dengan mudah juga oleh anda sendiri. Bersiaplah untuk berdesakan, berjubel, dan mengikuti prosedur yang ada. Cepat atau lambatnya proses sidang berlangsung sampai anda mendapatkan kembali SIM/STNK anda, tergantung pada keberuntungan anda di hari itu. 
Resiko: Seperti yang telah saya katakan di langkah 9, kadang tidak ada hakim yang datang. Sidang bisa saja dikatakan sudah “selesai” tanpa anda tau kapan sidang itu dimulai, dan pada akhirnya anda tetap harus membayar denda tidak resmi kepada petugas meskipun anda telah datang dan “mengantri” sesuai tanggal, waktu, dan prosedur yang ada. Hakim yang ‘juga manusia’ pun kadang bisa memberikan keputusan denda yang melebihi tarif denda resmi yang berlaku, tanpa kita bisa mendebatnya.
Setelah melihat semua langkah yang saya tulis di atas, silakan anda cermati kembali langkah-langkah tersebut dan lakukan yang paling sesuai dengan suasana yang ada dan suasana hati anda saat melakukan pelanggaran.
Jujur, saat ini pun saya belum bisa menentukan langkah mana yang akan saya ambil. Harus menunggu pelanggaran terjadi, barulah saya bisa menentukan. Tetapi langkah terbaik memang selalu berusaha untuk tidak melanggar peraturan. Resiko yang ada dari setiap langkah, mungkin jauh lebih banyak daripada apa yang telah saya tulis. Pilih sendiri petualanganmu, semoga anda beruntung.
Tuesday
Nov 7, 2006
8:52 pm
Suasana hati yang tidak baik seharian penuh sejak terbangun.. Pernahkah kalian mengalami hal itu? Ini yang saya rasakan hari ini. Dan hal ini yang memicu saya untuk mengetik blog ini di tengah-tengah jam kerja saya sekarang (Sst, semoga tidak ada salah satu dari BOD tempat saya bekerja yang kebetulan membaca blog ini). Suasana hati yang tidak menyenangkan bisa timbul dari sesuatu yang terjadi (atau malah tidak terjadi?) di malam sebelum kita tidur. Hm, mungkin beberapa orang “dewasa” akan mengasumsikan lain dari arah bicara saya karena ada kata “malam” dan kata “tidur” di sini. Tidak, bukan ke sana arah saya karena saya belum se”dewasa” itu.
Sesuatu atau seseorang yang mampu merusak suasana hati kita hampir dapat dipastikan adalah berupa sesuatu atau seseorang yang kita sayangi. Saya hanya akan membahas tentang ‘orang’ saja saat ini karena memang saya tidak sedang ‘kehilangan’ suatu benda. Siapa sih orang ini, yang punya kemampuan sehebat itu untuk merusak apa yang seharusnya hanya diri kita sendiri yang bisa mengaturnya?
Someone who is very important to us; a V.V.I.P of course.
Someone we love? Love of our life?
Wah, dua tanda tanya di atas itu jelas memiliki arti yang berbeda. Akan saya persempit saja tanda tanya pertama dengan kata “friendship” dan tanda tanya kedua dengan kata “love“.
What is the difference between love and friendship?
Dulu saya akan menjawab pertanyaan ini dengan sangat singkat,
Physical touch, that’s all.
Saat ini mungkin saya menemukan suatu jawaban yang lain. Btw, saya tidak setuju dengan kalimat klise “cinta tidak harus memiliki” karena
If love doesn’t own and it’s ok, then it changes to friendship.
If love is BLIND, then friendship still has at least one EYE which can see clearly.
Seseorang yang baru saya kenal, pernah bercerita kepada saya saat saya pertama kali bertemu dengannya. Dia yakin seyakin-yakinnya bahwa pacarnya telah membohongi dia dengan suatu cerita yang tidak masuk akal. Tetapi saat pacarnya menceritakan kebohongan itu, dia hanya mengiyakan dan pura-pura percaya. Saya hanya tersenyum saat dia menceritakan itu. Saya tau bahwa orang yang dia ceritakan memang berbohong karena orang itu adalah teman saya dan saya tau jalan cerita sebenarnya. Is that love? And is it blind? Masalahnya, apakah orang yang dia ceritakan itu benar-benar pacarnya? Ya menurut dia, tetapi tidak menurut teman saya. Apakah dia tau itu? Logika saya mengatakan bahwa dia tau. Dia hanya tidak mau tau, membutakan matanya, make himself blind.
Saat berikutnya saya bertemu dengan dia, dia mengatakan bahwa “pacar”nya (teman saya) itu tidak terlalu memperdulikan dia lagi sekarang karena mungkin dia sudah tidak terlalu dibutuhkan. Sekali lagi saya hanya bisa tersenyum karena lagi-lagi saya tau jalan cerita sebenarnya. Dan saya hanya bisa berbicara dalam hati, “Come on, open your eyes! Kalau memang dari dulu dia hanya mencari kamu saat dia butuh, dan kamu tau itu.. Untuk apa sih dilanjutkan..” Tapi saya tidak mengatakan itu karena saya tau dia masih belum melepas “love is blind”nya dari dirinya. Entah kapan dia relakan ‘love’ yang HARUS memiliki itu dan mengubahnya menjadi ‘friendship’ (atau malah ’stranger’).
Beda dengan saat saya bisa melihat karena saya masih memiliki setidaknya “satu mata” untuk melihat dengan jelas bahwa dalam status friendship pun ada masanya saya dicari hanya pada saat saya dibutuhkan padahal orang itu saya anggap sebagai VVIP. Tetapi karena ini terjadi dalam status friendship yang tidak buta, saya tidak mungkin tidak mau tau akan sikapnya yang sudah ditunjukan dengan sangat jelas. Kebohongan tidak masuk akal apapun yang telah dia ceritakan sebagai alasannya, mungkin sikap saya sama seperti cerita ‘love’ di atas yang hanya mengiyakan dan berpura-pura percaya.. tetapi perbedaannya adalah mungkin saya tidak akan melanjutkannya. Kalau memang harus saya lepaskan, akan saya lepaskan. Apalagi seperti yang pernah saya bahas di blog saya dulu, saya tidak pernah percaya dengan kata ‘forever friend’.
Hmh.. apa sih sebenarnya hubungan antara cerita saya tentang love.. friendship.. dan suasana hati yang ada di paragraf awal blog ini.. Pasti ada hubungannnya. Mungkin hanya saya yang tau.. Mungkin juga beberapa orang yang cukup mengenal saya bisa menghubung hubungkannya.
Apa sih yang merusak suasana hati saya sebenarnya? Just a phone call before I slept last night (which didn’t exist actually?). Haha, makin tidak ada hubungannya.. Makin tidak jelas? Yah inilah yang membuat saya menggemari penulisan blog. Saya tidak perlu menulis dengan jelas, saya tidak perlu tau apakah tulisan saya dibaca.. Yang penting saya mengerti, saya menulis, dan saya puas.
Thursday
Oct 19, 2006
11:53 pm
Pernah merasa sangat marah kepada seseorang atau karena suatu hal? Kalau ada yang menjawab dengan kata “tidak” bahkan dalam hatinya, maka orang itu adalah seorang pembohong ulung yang mampu bohong bahkan kepada dirinya sendiri. Marah itu sesuatu yang manusiawi dan tidak ada yang salah dengan hal itu, tetapi alangkah baiknya bila si marah itu bisa kita jaga agar tidak keluar seenaknya.
Anyone may become angry, that is natural. But to be angry with the right person, at the right degree, on the right time, for the right purpose, and in the right way.. that’s what we should learn.
Mudah untuk mengucapkannya, tetapi mungkin sukar untuk menjalankannya. Marah itu sesuatu yang timbul dari dasar hati, sangat sulit untuk mengontrolnya. Memang benar, tapi ada satu hal yang mungkin kita lupakan. Kata ilmu pengetahuan, otak yang mengirimkan perintah ke mulut untuk mengatakan sesuatu, bukan hati. Jadi, masih bisa dong seharusnya kita kontrol. Saya pernah menjumpai sebuah kalimat yang sangat baik untuk kita ingat saat kita marah.
Speak when you are angry and you will make the best speech you will ever regret.
Cukup sering saya menyesali apa yang telah saya ucapkan saat saya marah. Akan saya ceritakan salah satu saja di sini. Bukan sesuatu yang sangat besar yang mengubah hidup saya atau sejenisnya.. Hanya pengalaman kecil semasa SMA, tetapi entah mengapa saya masih ingat kejadian itu sampai sekarang. Waktu SMA, saya “menjabat” sebagai sie olahraga OSIS dan kapten team volley putri. Jabatan kecil, tetapi kadang membuat saya cukup “sibuk”. Saya lupa apa yang membuat saya sangat sibuk saat itu, tetapi itu pasti ada hubungannya dengan volley. Ada suatu “pekerjaan” yang belum selesai (saya lupa apa itu) dan teman-teman dekat saya mengatakan seharusnya saya sudah mengerjakan itu karena itu kan memang tugas saya. Mereka menyebut nama senior saya (yang “memangku jabatan” sebelum saya) dan mengatakan bahwa dulu dia (si senior) bisa melakukan tugas itu dengan mudah. Saya marah dan kesal sekali saat itu dan tanpa pikir panjang langsung mengatakan, “Dia punya teman yang selalu bisa bantu dia, sedangkan saya sama sekali tidak punya teman yang bisa bantu saya.” Setelah itu langsung saya tinggalkan mereka ke kantin sekolah.
Duduk di kantin, 1 menit pertama saya masih kesal dan marah. Tapi menit, jam, dan hari-hari berikutnya saya menyesali apa yang telah keluar dari mulut saya. Kalau saat itu saya beri kesempatan kepada otak saya untuk berpikir, pasti si otak akan bilang, “Please deh.. masalah kecil gitu loh.. masalah voli doank.. Apa hubungannya coba sama bertemen? Mereka tuh udah banyak nolong di laen hal. Lagian buat masalah ini pun belom tentu mereka ngga mau bantu.. tapi pernah minta bantuan ngga?” Nah, kalau otak diberikan kesempatan, pasti kata-kata saya yang tidak perlu itu bisa dicegah untuk keluar. Akibatnya, cukup malu juga kan saya mencoba untuk “berbaikan” lagi dengan mereka. Apalagi say sorry itu kan bukan “SMA style”.
Untungnya, tidak perlu waktu lebih dari seminggu untuk bisa “berbaikan” lagi dengan mereka dan latihan volley juga yang jadi sarananya. Bagusnya posisi saya di team volley itu sebagai tosser yang “mewajibkan” saya “berkomunikasi” dengan teman satu team dan itu bisa saya jadikan “alasan” untuk berbicara (memangil nama) dengan mereka. (Untuk 3 orang teman dekat saya di SMA yang masih ingat kejadian ini dan kebetulan membaca.. sorry for the old time, hehe).
Bagaimana caranya kita bisa memberikan kesempatan kepada otak kita untuk menjaga agar mulut kita tidak perlu mengeluarkan kata-kata yang tidak berguna? Tidak terlalu sulit jika dibiasakan. Ada kalimat yang mungkin sering kita dengar, tapi menurut saya masih cukup mujarab.
When you are angry, count to ten before you speak. If you are very angry, count to a hundred.
Kalimat bodoh? Atau terlihat bodoh jika dilakukan? Ok, saya coba kalimat dan cara lain.
When anger rises, think of the consequences.
Gabungkan kalimat ini dengan kutiban pertama di awal blog ini. Berarti yang harus kita pikirkan saat kita akan mengeluarkan kata-kata saat kita marah adalah:
1. Angry with the right person?
Apa kita yakin kalau orang itu yang membuat kesalahan? Kadang bukan orang itu loh pelaku sebenarnya..
2. Angry at the right degree?
Pikir dulu kesalahannya besar atau kecil, setelah itu cocokan deh berapa kadar kemarahan yang tepat untuk tingkat kesalahan seperti itu.
3. Angry on the right time?
Lihat dulu sekitar, waktu dan suasananya pas atau tidak untuk marah-marah.
4. Angry for the right purpose?
Ada hasilnya tidak ya kira-kira kalau kita marah untuk itu? Memang sih kadang-kadang marah itu perlu untuk memperbaiki seseorang atau sesuatu.
5. Angry in the right way?
Ini yang agak susah.. cari cara marah yang paling pas. Lebih baik diomongin pelan-pelan, disindir, dibentak dikit, atau dimaki-maki habis-habisan ya?
6. Terakhir.. ya itu tadi.. Think of the consequences.
Kira-kira setelah kita marah ini akibat kedepannya apa ya?
Kalau 6 hal ini dibiasakan untuk kita pikirkan saat kita akan mengeluarkan kata-kata marah.. Hm, saya rasa setelah mendapatkan jawaban untuk 6 pertanyaan di atas, kita sudah malas untuk marah-marah. Bukan karena jawabannya, tetapi karena waktunya kelamaan.
Pasti perlu lebih dari 100 detik untuk memikirkan jawaban dari 6 pertanyaan tadi. Dan biasanya kalau puncak kemarahan sudah lewat, hati sudah tidak bisa melawan otak untuk memerintahkan mulut mengeluarkan kalimat yang tidak perlu.
Intinya, akan sangat baik untuk menunda kemarahan. Sebenarnya bukan marahnya yang ditunda, tetapi ekspresi dari marah itu sendiri. Karena ekspresi marah yang tidak ditunda biasanya berakibat fatal dan penyesalan. Ini termasuk marah lewat e-mail atau sms lho.. karena bisa lebih gawat akibatnya. Saat membaca e-mail, apalagi sms, orang cenderung untuk salah membaca “nada”nya dan cenderung jadi salah mengartikannya. Penyesalannya pun biasanya jauh lebih besar. Karena saat tombol “send” terpencet, sudah tidak ada jalan untuk membatalkannya meskipun penyesalan datang sedetik kemudian. Efeknya pun akan jauh lebih lama karena bisa dibaca berulang-ulang oleh si penerima. Wah, cukup sering saya menyesali e-mail atau sms yang saya kirim saat saya marah. Tapi maaf, terlalu panjang kalau saya ceritakan lagi dalam blog.
Singkatnya, saat ini saya selalu mencoba untuk menunda ekspresi kemarahan saya selama 3 hari. Biasanya sih dalam waktu 1-2 hari saja marah saya sudah hilang atau malah sangat bersyukur bahwa saya belum sempat marah, karena sebelum 3 hari ternyata orang itu malah membuat perasaan saya sangat senang. Tetapi kalau dalam waktu 3 hari itu perasaan marah belum hilang dan hati serta otak masih menuntut kita untuk mengeluarkan atau mengirimkan kata marah, mungkin itu berarti bahwa kita memang harus marah dan mengekspresikannya. Jika memang demikian, just do it, marah lah.. dan.. good luck! 
Monday
Sep 18, 2006
11:55 pm
A promise made is a debt unpaid.
Janji adalah hutang.. kalimat ini seringkali kita dengar di mana-mana. Benarkah ungkapan ini? Saya rasa semua orang akan setuju dengan kalimat ini. Tetapi pada akhirnya 80% janji di dunia ini tidak dapat terpenuhi. 80% hutang di dunia ini tidak dapat terbayar. Sekian banyak kekecewaan saya terhadap orang-orang yang melanggar janji mereka. Apakah hanya saya yang dikecewakan? Pertanyaan ini harus saya putar balikan.. Apakah sering saya mengecewakan? Tidak perlu waktu lama untuk menjawabnya. YA, itu jawabannya. Entah sudah berapa janji yang saya batalkan dengan berbagai alasan.. kondisi tidak memungkinkan.. dia terlebih dahulu melanggar janjinya.. saya batalkan janji itu demi kebaikan.. dll dsb..
Saya temui suatu kalimat yang terkesan konyol dan bersifat humoris, tetapi saya melihat makna kebenaran yang tersirat di dalamnya
Sometimes people make promises for the pleasure of breaking them. So, never say a serious promise, people will think that you mean it. The best way to keep a word is not to give it.
Tahun 2002, saat saya berada di “negri sebrang” ada seorang teman dekat saya yang memberikan sebuah janji kecil. Sebuah janji yang sebenarnya bukan suatu permasalahan besar bila tidak dipenuhi. Saat itu, saya telah melewati satu tahun penuh di negara itu untuk mempelajari “bahasa sebrang”.
Hampir semua murid yang belajar bahasa di sana (termasuk saya) mempunyai buku kenangan yang bisa dikatakan sebagai testimonial book di mana orang-orang yang mengisinya bebas berkomentar tentang diri kita. Entah kenapa, teman saya itu tidak sempat mengisi buku saya, padahal buku saya ada di kamar dia lebih dari 3 hari sampai akhirnya dia harus pulang ke negaranya. Dia hanya menulis di secarik kertas yang berisi permintaan maaf karena tidak sempat mengisi buku saya.. karena terlalu banyak yang mau dia tulis katanya. Dan di secarik kertas itu dia tulis bahwa dia JANJI untuk menuliskan testimonial itu dalam bentuk surat yang akan dia kirim ke Jakarta. Ternyata setelah melewati satu tahun pun, dia tidak pernah mengirimkannya. Sebenarnya mungkin bukan hal yang aneh, karena dalam masa itu saya cukup sering (untuk ukuran SLI) menelponnya. Jadi ya apa gunanya lagi sebuah surat sih sebenarnya. Tetapi saat itu saya masih terpatok pada kata JANJI yang dia tulis di secarik kertas itu. Kalau janji yang diucapkan saja sudah bisa menjadi sebuah hutang, maka janji yang tertulis itu harusnya berupa hutang dengan agunan.. mungkin itu yang terlintas di otak saya saat itu. Alhasil, setelah lebih dari satu tahun, meskipun kami sebenarnya masih ada contact lewat telepon, saya tetap saja menjadi “mati rasa” dan tidak punya niat samasekali untuk keep contact dengan orang itu. Mungkin kalau diistilahkan dengan hutang, jatuh temponya sudah lewat dan sudah saatnya menyita agunan-nya.
Sampai saat ini, saya tidak pernah lagi mau tau kabarnya, padahal akhirnya dua tahun lalu, tiga lembar surat dia “nyasar” juga ke rumah saya. Surat itu hanya saya baca tanpa respon sedikit pun. Kadang temannya yang juga teman saya, memberitau saya kalau dia sering membicarakan tentang saya dan menanyakan mengapa saya “menghilang”. Tetap saja saya cuek tanpa respon. Kalau dipikir sebenarnya aneh juga, karena temannya itu malah dulu tidak terlalu dekat dengan saya tetapi sampai sekarang kami malah masih cukup sering berhubungan. Mungkin itu karena diantara kami tidak pernah ada janji apapun.
Pengalaman dan pemikiran mendalam mengenai hal ini membuat saya menjadi sangat berhati-hati dengan kata janji. Kalau memang tidak perlu, mungkin lebih baik tidak mengeluarkan janji. Dan bila ada yang mengucapkannya, mungkin lebih baik bila saya pura-pura tidak mendengarnya. Ini lebih baik daripada kecewa di kemudian hari, karena apa pun kan bisa terjadi di dunia ini. Sehebat apapun usaha untuk memenuhi janji, selalu ada kemungkinan untuk sesuatu dan lain hal yang bisa membatalkannya.
The promise given was a necessity of the past, the word broken is a necessity of the present. Better break your word than do worse in keeping it.
Kalimat ini makin meyakinkan saya dengan apa yang telah saya simpulkan. So, if a promise made is a debt unpaid, don’t be a debt collector!
Tuesday
Jul 11, 2006
7:47 pm
Tidak akan ada habisnya bila kita membahas tentang arti seroang teman atau arti dari kata “teman” itu sendiri. Banyak ungkapan dan kalimat-kalimat indah yang berhubungan dengan kata ini. Kalimat yang paling saya sukai saat saya masih duduk di bangku SD, saya temui pada label nama bergambar kelinci lucu milik teman saya..
Don’t walk in front of me.. I might not follow
Don’t walk behind me.. I might not lead
Walk beside me.. and be my friend..
Menyadarkan saya bahwa saya tidak perlu selalu mengikuti kemauan teman saya untuk menunjukan bahwa saya senang menjadi temannya. Orang-orang yang selalu rela mengikuti kemauan saya pun belum tentu bisa saya kategorikan sebagai teman-teman saya. Saling mengingatkan, berbagi, mencari titik tengah.. itu yang perlu dilakukan dalam berteman.
Entah kenapa, saya sangat “mendewakan” arti seorang teman. Saya menganggap teman adalah orang yang sangat penting, seringkali melebihi saudara-saudara saya sendiri. Itulah sebabnya saya sangat senang saat menemukan kalimat indah lainnya (saya lupa dimana saya menemukannya) yang berhubungan dengan ini..
You can not choose your family, it’s blood that makes family..
But you have to choose your friend, it’s heart that makes friend..
Saya ingat masa SMA dulu, saya sering bertengkar dengan mama saya karena saya lebih mementingkan bersenang-senang dengan teman saya daripada mengantarkan mama saya ke suatu tempat atau melakukan sesuatu untuk beliau. Suatu hal yang cukup saya sesali sebenarnya, karena beliau kan yang melahirkan dan membesarkan saya.. Kalau saudara yang lain sih masih tidak masalah..
Akibatnya saya jadi merenung lebih lanjut, saya begitu mendewakan arti teman.. tapi apakah itu pada tempatnya.. Sepertinya saya harus lebih selektif dan menentukan kategori-kategori dari segala macam arti teman. Hal ini pernah saya utarakan kepada seorang teman dekat saya (entah dia masih ingat atau tidak), untuk mendeskripsikan beberapa kata yang berhubungan dengan kata “friend” dalam berbagai tingkatan. Saya sendiri sudah lupa jawabannya, dan sudah hampir lupa kejadian itu kalau tidak ada sesuatu dan lain hal dari teman baru saya yang membuat saya merumuskan lagi hal tersebut minggu lalu. Sebenarnya “teori” saya ini sudah saya post dalam bulletin friendster, tapi saya merasa sayang kalau tidak saya muat lagi di sini.
Someone u know can be ur FRIEND if they also know u.
GOOD FRIEND will have fun together, give their ears to listen each other and their heart to care each other.
CLOSE FRIEND always share their ups and down, happiness and sadness when they are together.
BEST FRIENDS keep others in their heart. They will know each other when they are needed even without saying a word. Happiness will be increased and sadness will be decreased naturally when they are together.
TRUE FRIEND expect nothing from u. No matter how bad u are, how ignorance u are.. true friend will still treat u as a best friend.
Mungkin terkesan sangat aneh bila saya mengatakan bahwa dalam hati kecil saya, seringkali saya sangat ingin mengetahui berada di tingkatan mana saya berada dari kategori-kategori di atas, di mata teman saya. Dan cukup mengagetkan diri saya sendiri bahwa saya pernah menanyakan itu langsung ke salah seorang teman dekat saya di SMA. Untungnya, saat itu sempat saya “cut” sebelum saya mendapatkan jawabannya. Semakin dalam saya pikirkan.. pertanyaan seperti itu tidak akan ada jawabannya. Hari ini just a friend, mungkin besok jadi best friend, lusa hanya good friend, bulan depan jadi true friend, tahun berikutnya balik ke close friend, 2 atau 3 tahun ke depan malah jadi musuh.. atau malah getting married.. ?!?
Kesadaran ini menyebabkan saya menjadi agak “anti” dengan kata “forever” apalagi kata “forever friend”.. Bukannya saya mau ekstrim dan mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang abadi di dunia.. (itu sih sudah terlalu jauh, dan saya belum sampai taraf menjadi seorang filsuf kok..) Tapi kata “forever friend” ini benar-benar tidak jelas dan sulit untuk didefinisikan apalagi kalau dilihat dari tingkatan-tingkatan yang saya “rumuskan” di atas. Ini yang menyebabkan saya menuliskan kalimat berikutnya yang juga sudah saya post dalam bulletin friendster edisi yang sama..
FOREVER FRIEND… is complicated. It consists of adverb of TIME, while TIME can change anything.. can destroy anyting, or build anything. It depends on a lot of aspects.. depends on both sides feeling instead of willing from TIME to TIME. Not only if u want to, but also if they want to.. and not only about how u feel but also about how they feel… from TIME to TIME. Anyway, it is NOT IMPOSSIBLE to have some ‘coz TIME will proof it to u. But NEVER BELEIVE the words of “Forever Friend”.. It’s easy to SAY but TIME is the ONLY ONE that have RIGHT to GIVE it to u.
Memang bulletin itu saya post untuk “menjawab” pernyataan dari seorang teman dekat saya mengenai kata “forever friend”. Dia menyatakan bahwa forever friend bisa “terwujud” bila kita mau. Wah, memang sih itu sejalan dengan motto “dimana ada kemauan di sana ada jalan..” Tapi untuk yang satu ini, sepertinya bukan hanya kemauan saja yang berperan. Apalagi, satu minggu setelah pernyataan teman dekat saya itu, saya menerima sebuah e-mail yang cukup panjang dari (ex) teman dekat saya yang lain. Inti dari e-mail itu adalah dia tidak mau berteman lagi dengan saya karena dia merasa terlalu sering “merepotkan” saya dan tidak pantas dianggap sebagai teman… Hahaha.. tidak masuk akal.. konyol.. 