Sudah saatnya untuk menceritakan lanjutan perjalanan panjang hidup saya. Saat ini saya kembali berada di tanah rantau, terpisah oleh laut dari negara asal saya. Bila ada yang pernah membaca dan masih ingat apa yang saya bayangkan sebagai suatu kenikmatan yang ingin saya raih pada akhir cerita saya satu setengah tahun yang silam.. Saat itu, saya mengatakan bahwa posisi seorang ‘Executive Trainer’ atau ‘Training Director’ yang handal akan terdengar sangat indah di kuping saya dibandingkan dengan posisi-posisi lain. Saat itu, saya masih bertanya-tanya apakah hal tersebut dapat terwujud. Saat ini.. saya akan bercerita bagaimana hal ini ternyata belum bisa terwujud, masih sangat jauh dari terwujud, atau malah tidak akan terwujud, bahkan mungkin saya sudah tidak ingin mewujudkanya. Jalan hidup saya ternyata tidak diatur ke arah sana oleh yang mengaturnya.

Keyakinan saya bahwa saya akan dapat maju bersama dengan cafe yang saya kelola membuahkan hasil yang tidak mengecewakan. Dibawah kepemimpinan saya (dan tentu saja manager saya) serta bantuan dari para staff khususnya opening team, cafe tersebut dapat maju secara perlahan tapi pasti. Tentu saja bukan tanpa kendala, tetapi hal tersebut tidak perlu saya ceritakan di sini. Pada bulan Agustus 2007, saya kembali terlibat dalam pre-opening. Pre-opening outlet kedua dipercayakan penuh kepada saya (tentu saja tetap dengan bantuan dan dukungan penuh dari manager saya). Pre-opening tiga outlet (sub-franchise) berikutnya pun melibatkan saya untuk terjun langsung ke dalamnya, bahkan sampai ke luar Jakarta. Cape? Ya.. pasti.. Saya bukan robot. Tidak suka? Oo.. siapa bilang.. Saya sangat menikmati hal tersebut. Saya sangat menyukai pre-opening time. Buat saya, memulai itu jauh lebih menyenangkan daripada menjalani.. apalagi mengakhiri. Dan kalau mau jujur, saya cukup bangga akan kepercayaan yang diberikan oleh BOD kepada saya.

Sebenarnya karir saya dapat dikatakan baru saja dimulai. Perlahan tapi pasti, saya mendapatkan promosi dan kenaikan gaji sejalan dengan berkembangnya outlet tersebut. Tetapi, kebimbangan kembali hadir dalam pikiran saya. Saya merasa lebih menikmati posisi di ‘belakang layar’ daripada harus bertemu dengan para pelanggan. Sedangkan sebenarnya posisi saya menuntut saya untuk sesering mungkin berada di ‘depan layar’. Saya mencoba ‘bersuara’ kepada BOD, saya mengajukan permintaan untuk ditempatkan di belakang layar.. sedikit menyerempet ke posisi indah yang saya bayangkan sebagai seorang ‘Executive Trainer’. Sebenarnya harapan itu tidak mustahil, arah ke sana tidak terlalu jauh. BOD sedang mencari lokasi yang tepat untuk dijadikan head office dan bila lokasi itu ditemukan maka ‘impian’ saya mendapatkan kemungkinan untuk diwujudkan.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan.. head office yang ditunggu-tunggu belum juga didapatkan. Sifat jelek saya kembali muncul ke permukaan.. kebosanan, ketidaksabaran, dan ketidakpuasan. Tidak, tidak ada yang (terlalu) salah dari tempat kerja saya. Sifat-sifat yang saya sebutkan di atas tadi yang memacu otak saya untuk kembali berpikir.. “Let’s go to Singapore?” :-? Mengapa Singapore? 1. Bila masih di dalam Jakarta, untuk apa keluar dari tempat kerja saya itu. Saya yakin saya masih dapat berkembang di situ. 2. Keluar kota? Hm.. sepertinya bikin susah hidup deh itu. :D 3. Keluar negri? Ok.. good.. nilai mata uang pasti lebih besar. Ke mana? Yang pasti bukan ke negara yang punya empat musim karena saya benci musim dingin. Aha.. ya.. Singapore. Memang negara itu adalah negara favorit saya. :) Lima tahun yang lalu saya pernah mencoba mencari kerja di sana meskipun gagal. Mungkin ‘buffer’ pengalaman saya selama 5 tahun sudah dapat dipergunakan untuk kembali mencobanya.

Baiklah, akan saya coba. Apa langkah selanjutnya? Mencoba melamar dari Jakarta dengan bantuan teknologi e-mail. Saya coba, dan.. tidak ada gunanya sedikitpun. Bidang, level, dan keterbatasan pengalaman saya sepertinya mengharuskan saya untuk pergi langsung ke negara tersebut supaya bila para employer itu membutuhkan saya untuk ‘meyakinkan’ mereka dengan interview langsung, saya bisa segera menemui mereka. Pemikiran ini menimbulkan dilema selanjutnya. Jika begini adanya, maka saya harus meninggalkan pekerjaan saya yang sudah sangat lumayan untuk berjuang mendapatkan sesuatu yang belum pasti. 5 tahun yang lalu, hal ini mungkin tidak terlalu saya pikirkan. Tetapi saat ini.. apakah saya harus mempertaruhkan pekerjaan dan kehidupan saya yang mulai mapan?

Sulit, sangat sulit untuk saya putuskan. Semakin saya pikirkan, semakin saya bingung dan tidak mendapatkan jawabannya. Akhirnya.. *-:) tidak.. saya tidak mau membuat keputusan. Biarkan orang lain yang membuat keputusan itu untuk saya tanpa mereka sadari. Bagaimana caranya? Pertengahan Desember 2007, saya lemparkan selembar e-mail kepada BOD. Saya utarakan terus terang kepada mereka bahwa saya berencana untuk mencari kerja di Singapore karena alasan keuangan. Saya katakan kepada mereka bila gaji saya tidak mencapai jumlah “xxx” maka akan lebih baik bila saya berusaha mencari kerja di Singapore. Dengan kata lain dan dipersingkat isi surat itu menjadi berbunyi, “Berikan saya gaji sejumlah ‘xxx’ atau saya akan keluar dari perusahaan.” Jumlah itu akan menyebabkan kenaikan gaji hampir mencapai 50% $-) , sesuatu yang saya yakin cukup sulit untuk mereka kabulkan. Tetapi biarlah, saya sudah nekad. Biarkan mereka yang memutuskan untuk saya. Bila mereka kabulkan, maka saya akan tetap tinggal di Jakarta dan bekerja di sana. Bila tidak dikabulkan, maka saya harus memulai kembali petualangan saya dan terbang ke Singapore.

Seminggu berlalu.. Saya agak kecewa karena dari 3 orang BOD yang aktif, hanya 1 orang yang memberikan tanggapan pada e-mail tersebut. Beliau (yang kebetulan adalah direktur utama) pada dasarnya tidak keberatan dengan permintaan saya. Tetapi keputusan tidak berada di tangannya, harus ada meeting BOD sebelum keputusan bisa dikeluarkan. Awal Januari 2008, saya tetap belum mendapatkan respon sedikitpun dari para BOD yang lain. Sebenarnya kata ‘iya’, atau ‘nanti’, atau bahkan kata ‘tidak’ dengan alasan yang kuat, mungkin masih dapat menahan saya di sana. Tetapi ketidakpedulian mereka membuat saya mulai berpikir untuk melemparkan surat berikutnya.. surat resign. Saat saya sudah merencanakan untuk menulis surat resign, kebetulan beliau yang masih peduli itu menelpon saya. Saya utarakan niat saya untuk mengajukan surat resign. Beliau meminta saya untuk berpikir kembali dan mengatakan bahwa permintaan saya dapat dikabulkan. Memang BOD yang lain belum tentu setuju akan jumlah yang saya minta. Tetapi beliau mengatakan bahwa bila jumlah yang mereka putuskan belum sesuai dengan permintaan saya, maka kekurangannya akan dia tambahkan secara pribadi dari perusahaan pribadi miliknya, dengan catatan.. saya boleh “dipinjam” kapan saja perusahaan pribadi nya itu membutuhkan.

Berat, pilihan yang berat untuk saya. Bekerja pada dua perusahaan pasti akan sangat menyulitkan posisi saya serta membuat saya sukar untuk membagi waktu dan prioritas. Bisa-bisa waktu makan dan tidur saya akan jadi korban bila saya nekad mengambilnya dan berusaha untuk tidak mengecewakan kedua belah pihak. Sebenarnya bila Pak ‘Dir-Ut’ meminta saya untuk pindah full ke perusahaan pribadinya, kemungkinan besar hal itu akan saya terima. Pola pikir dan cara kerja saya sepertinya jauh lebih cocok dan bisa diterima olehnya daripada oleh BOD yang lain. Selain itu peluang untuk go international pun sepertinya lebih terbuka di sana. Tetapi beliau tidak mau karena tidak enak dengan BOD yang lain bila terkesan mem-”bajak” saya. Selain itu, saya rasa beliau cukup keberatan juga bila harus menggaji saya sejumlah nominal yang saya minta, secara penuh dari perusahaan miliknya pribadi. Akhirnya kami menutup pembicaraan di telpon setelah beliau meminta saya untuk menahan penulisan surat resign dan mengatakan bahwa dia akan segera membicarakan hal ini dengan BOD yang lain.

Saya berpikir keras.. Dalam perhitungan saya, meeting BOD tidak akan mengabulkan permintaan saya. Seandainya sampai ‘Dir-Ut’ mengajukan usulannya untuk menambahnya dari perusahaan milik pribadi dengan catatan saya boleh “dipinjam” tadi.. saya yang tidak bersedia. Pindah ke perusahaan pribadi milik Pak ‘Dir-Ut’.. beliau yang keberatan. Berjam-jam saya habiskan untuk berpikir, menimbang-nimbang, dan minta masukan dari orang-orang terdekat. Saya pikirkan lagi alasan saya untuk pergi ke Singapore. Apakah hanya uang alasannya? Ternyata jawabannya.. tidak. Uang bukan satu-satunya alasan. Efisiensi hidup? Kebersihan? Mungkin.. tapi itu tetap bukan hal utama. Ada satu alasan tertentu, alasan pribadi yang tidak bisa saya ceritakan di sini yang menyebabkan saya berkeinginan untuk ber-’migrasi’ ke negara individual itu. Hal ini semakin lama semakin saya sadari.. karena saat ada yang bertanya apakah jumlah nominal gaji yang saya minta itu dapat membuat saya puas dan menahan saya untuk tetap bekerja dan tinggal di Indonesia? Jawaban saya enteng, “Ngga juga sih. Kalau saya yakin 100% bahwa saya akan bisa mendapatkan kerja resmi (legal) di Singapore… meskipun mereka menawarkan saya gaji 10juta atau bahkan 20juta sekalipun, maka saya akan tetap pindah ke Singapore.”

Nah.. kalau begitu, sebenarnya apa lagi yang saya pikirkan? Apa yang masih membuat saya bertahan di Jakarta? Rasa takut! Takut bahwa saya tidak bisa mendapatkan pekerjaan di Singapore.. cuma itu. Seperti saya katakan di atas, bila saya yakin 100% bahwa saya akan menapatkan pekerjaan maka saya tidak akan berpikir dua kali untuk segera terbang ke sana. Banyak orang yang memiliki keyakinan yang tinggi bahwa saya bisa mendapatkannya. Keluarga, teman-teman, bahkan para staf dan rekan kerja saya memiliki keyakinan yang tinggi atas diri saya. Tetapi, mungkin hanya diri saya sendiri yang sadar sepenuhnya akan “kualitas” yang saya miliki, akan kemampuan dan “daya jual” saya di “medan pertempuran” pencarian kerja. Jujur, keyakinan saya hanya berkisar pada angka 50%. Bila demikian, berarti kemungkinannya adalah fifty fifty. Dan bila saya nekad untuk berangkat berarti saya bertaruh, saya pertaruhkan pekerjaan dan hidup saya yang sudah mapan.. dan.. masa depan saya? Tidak, saya tidak mau mepertaruhkan masa depan saya.. Tetapi pekerjaan saya dan hidup saya yang sekarang, mungkin masih bisa saya pertaruhkan. Keputusan akhir.. saya akan mencobanya tetapi tetap dengan target yang realistis. 4 bulan! Itu waktu yang akan saya berikan kepada diri saya sendiri untuk mencoba mencari pekerjaan di Singapore. Bila waktu tersebut lewat dan saya belum mendapatkannya, berarti saya harus kembali ke Jakarta untuk bekerja.

Langsung saya angkat gagang telepon untuk menghubungi Pak ‘Dir-Ut’. Saya minta kepada beliau untuk melupakan niatnya membicarakan ‘masalah’ saya dengan BOD yang lain. Keputusan saya sudah mantap, saya akan segera mengajukan surat resign. Saya tidak menunda-nunda waktu, keesokan harinya surat resign sudah saya lemparkan kepada seluruh BOD lewat e-mail. Syarat ‘one month notice’ pasti saya patuhi. Bahkan lebih dari itu, saya masukan surat resign di awal Januari untuk keluar di pertengahan Februari. Sekitar satu setengah bulan saya berikan kepada mereka untuk mencari pengganti saya dan memberikan training dan serah terima yang cukup. Apa yang terjadi setelah saya memberikan surat resign kepada BOD? Apakah mereka menahan saya? Tidak sama sekali. Sama seperti yang saya alami saat saya mengajukan surat saya yang pertama.. tidak ada respon sedikitpun dari mereka. Tetapi mereka cukup cepat untuk menunjuk pengganti saya, bukti bahwa mereka tidak keberatan sedikitpun dengan pengunduran diri saya. Bahkan untuk managerial meeting pun saya sudah tidak “diundang” lagi. Semakin yakinlah saya bahwa saya sudah mengambil keputusan yang benar.

Menjelang akhir Januari 2008, saya melakukan pembelian tiket pesawat melalui internet untuk berangkat ke Singapore tanggal 17 Februari 2008. Sehari setelah saya membeli tiket, Pak Dir-Ut menelpon saya. Beliau meminta saya untuk kembali memikirkan keputusan saya. Beliau berubah pikiran dan meminta saya untuk bergabung penuh ke perusahaan pribadinya. Yah.. Pak? :-O Tiket sudah saya beli kemarin… Bapak terlambat satu hari. Apa memang jalan saya sudah diatur seperti itu? Mengapa tawaran itu baru datang setelah tiket saya beli? Maaf Pak… Tiket sudah ada di tangan, keputusan saya sudah bulat, tidak dapat diganggu gugat lagi. Tinggal lah hari demi hari terakhir saya di perusahaan itu saya lewati dan nikmati. Pada hari-hari itu pula, saya semakin menggiatkan usaha saya untuk mencari segala informasi dan “bala-bantuan” untuk dapat bekerja di Singapore.

Sarana yang cukup sering saya gunakan untuk mendapatkan segala informasi adalah website MOM (Depnaker Singapore) dan milis Indo-Sing. Jujur, milis tersebut malah semakin memperkuat keyakinan saya bahwa apa yang telah menjadi keputusan ini adalah benar-benar suatu taruhan, dimana kemungkinan saya untuk menang adalah hanya sebesar 50%. Untuk kualifikasi seperti saya, sepertinya kemungkinan saya untuk mendapatkan pekerjaan adalah “tergantung amalan”. Ini adalah istilah mereka (para Indo-Sing-ers) yang menggambarkan bahwa segala sesuatunya, apakah akan ada perusahaan yang merasa cocok dan mau mempekerjakan saya.. itu semua tergantung pada keberuntungan saya dan “kebaikan” perusahaan. Pertanyaan saya kepada mereka pun tidak mendapatkan respon yang berarti. Tidak ada yang menjawab apakah kualifikasi saya sudah cukup untuk bisa ‘menerobos’ lapangan kerja di sana. Saya tidak tau pasti apakah kurangnya respon ini disebabkan karena mereka sudah sangat bosan dengan jenis pertanyaan yang senada… atau karena memang hampir tidak ada di antara mereka yang bekerja di bidang F&B dengan status S-Pass. Tetapi setidaknya ada dua e-mail yang masuk ke e-mail pribadi saya (tidak melalui milis) yang menawarkan lowongan pekerjaan. Meskipun pada akhirnya kedua lowongan yang mereka informasikan itu ternyata tidak benar-benar ‘exist’, tetapi saya anggap saja bahwa setidaknya itu adalah pertanda awal yang baik.

Hari Minggu, 17 Februari 2008 malam hari, saya tiba di Singapore. Keesokan harinya dan hari-hari berikutnya saya isi dengan “kesibukan” mencari dan melamar pekerjaan. Bulan pertama saya lewati dengan cepat. Saya tidak mau bercerita panjang lebar lagi mengenai apa saja yang saya lakukan saat itu, karena hal ini sudah pernah saya ceritakan sebelumnya. Yang pasti, saya harus dihadapkan pada kenyataan bahwa begitu banyak kendala yang saya temui pada proses pencarian kerja ini.

Masalah pertama: Batas waktu kunjungan.
Proses pencarian kerja tentu saja memakan waktu yang tidak sebentar. Izin untuk tinggal di Singapore dengan memegang ’social visit pass’ (sebagai turis) secara umum adalah 30 hari sejak tanggal masuk. Hal ini sebenarnya dapat diatasi dengan permohonan EPEC (Employment Pass Eligibility Certificate). Apabila EPEC tersebut berhasil didapatkan, maka kita akan mendapatkan izin untuk tinggal dan mencari kerja di Singapore selama 1 tahun. Yang menjadi masalah adalah, permohonan saya langsung ditolak mentah-mentah saat mendaftar karena saya tidak memegang bachelor degree. Saya bukan sarjana, saya hanya lulusan D3. Berarti cara ini harus saya lupakan dan alternatif berikutnya adalah melakukan perpanjangan social visit pass. Untuk permohonan perpanjangan 30 hari, pada umumnya semua orang dapat dikabulkan. Saya pribadi bisa mendapatkan perpanjangan sampai dengan 60 hari karena kebetulan kakak saya tinggal di Singapore dengan status PR (Permanent Residence).

Masalah kedua: Ketentuan gaji minimum.
Pemerintah Singapore menetapkan ketentuan bahwa foreigner (selain PR) yang bekerja di Singapore harus memiliki izin kerja berupa EP (Employment Pass) atau S Pass (Special Pass) yang harus diurus oleh perusahaan yang akan menerima tenaga kerja asing. Untuk mengajukan permohonan EP, maka perusahaan harus memberikan gaji minimum SG$2500 per bulan, sedangkan untuk S Pass minimum SG$1800 per bulan. Sebenarnya hal ini cukup positif karena mungkin kehidupan kita memang tidak akan terlalu nyaman di negara ini bila harus mendapatkan gaji dibawah ketentuan minimum S Pass tersebut. Akan tetapi ini menyebabkan perusahaan yang berniat menekan cost, akan berpikir dua tiga kali untuk menerima tenaga kerja asing. Sebenarnya ada satu jenis pass lagi di bawah kedua jenis pass di atas yaitu WP (Working Permit). Saya tidak dapat menemukan sumber resmi tertulisnya, tetapi berita dari mulut ke mulut dan berdasarkan pengalaman dari beberapa orang yang sudah lama berkecimpung di dunia F&B Singapore.. entah mengapa Indonesian tidak bisa mendapatkan WP di bidang F&B. WP untuk F&B ini biasanya diberikan kepada Malaysian atau Phillipino. Sedangkan untuk Indonesian, WP biasanya diberikan kepada pembantu rumah tangga.

Masalah ketiga: Lamanya pengurusan izin kerja.
Untuk mendapatkan izin kerja seperti yang telah tertulis di atas, memerlukan proses yang memakan waktu 2-3 minggu. Hal ini lagi-lagi menyebabkan perusahaan lebih memilih orang lokal daripada orang asing. Terlebih lagi untuk restaurant berskala kecil yang tidak mempunyai ’stock’ karyawan yang cukup. Untuk restaurant-restaurant besar atau di dalam hotel, bisa jadi kemungkinannya akan lebih besar karena sumber daya manusia mereka biasanya lebih banyak. Karenanya tidak heran bila pertanyaan yang paling sering saya dengar saat interview adalah, “Are you a Singapore PR?” Dan saya sudah sangat terbiasa dengan perubahan raut wajah para interviewer yang berubah dari positif ke negatif saat pertanyaan itu saya jawab dengan kata tidak. Bahkan pada iklan-iklan lowongan kerja di koran pun sangat sering tertulis di situ “Only Singaporean and PR need to apply”.

Masalah keempat: Latar belakang pendidikan.
Seperti yang sudah saya utarakan, kualifikasi saya masih kurang. Pendidikan tertinggi saya hanyalah D3 (diploma), bukan S1 (bachelor). Ini sudah menimbulkan kendala pertama saat melakukan permohonan untuk EPEC. Selain itu, Singapore juga memiliki perguruan tinggi perhotelan lokal yaitu SHATEC yang juga menyediakan jenjang tertinggi Diploma. Ini akan menyebabkan Singapore untuk berpikir dua kali dalam mengeluarkan S Pass bagi pemegang Diploma perhotelan dari luar. Jika kualifikasinya sama dengan orang lokal, mengapa kesempatan kerja itu harus diberikan kepada orang luar? Jika berani nekad kesini hanya dengan modal diploma, itu berarti pengalaman kerja harus dapat diandalkan.

Oh ya, sebenarnya masih ada satu jalan untuk menghilangkan kendala pengurusan izin kerja yaitu pengurusan LPR (Landed PR) di Jakarta sebelum berangkat ke Singapore. Apabila LPR ini disetujui, maka pemegangnya diberi waktu satu tahun untuk tinggal dan mencari kerja di Singapore. Mereka ini berhak untuk bekerja tanpa jenis-jenis pass yang saya sebutkan di atas, karena begitu mendapatkan pekerjaan maka status LPR ini langsung berubah menjadi PR yang bebas dari segala ketentuan di atas. Resiko dari pengurusan LPR ini adalah biaya pengurusan sebesar sekitar SG$1500 yang akan hilang begitu saja bila permohonan tidak dikabulkan. Untuk pengurusan di Indonesia dapat dilakukan melalui SMC di Jakarta. Saya sendiri pernah mencoba bertanya-tanya ke sana, dan kembali harus menerima jawaban pahit, “Wah maaf, syarat untuk mendaftar LPR ini pendidikan minimum harus S1.” Ya sudah lah.. lupakan lah saja niat itu..

Masalah kelima: Pengalaman kerja.
Seperti yang sudah saya sebut, lagi-lagi kualifikasi saya ternyata masih kurang. Pengalaman saya sebagai restaurant manager di Jakarta ternyata dipandang ’sebelah mata’ di sini. Mengapa demikian? Karena saya hanya pernah menjabat sebagai manager dari suatu cafe.. sebuah casual dining room. Hal ini berkaitan dengan masalah kedua yang saya tulis di atas yaitu ketentuan gaji minimum. Setelah saya sedikit melakukan ‘penyelidikan pasar’.. untuk mendapatkan gaji yang sesuai dengan ketentuan minimum S Pass, jabatan sebatas Restaurant Supervisor dapat dikatakan belum mencapai jumlah itu. Assistant Manager? Hm.. ya, masih bisa. Tetapi itu hanya untuk level hotel-hotel berbintang, fine dining room.. dan hanya segelintir casual dining room. Masalahnya.. sepertinya para employer dari hotel berbintang dan fine dining room ragu akan kemampuan saya untuk menduduki posisi itu, karena saya samasekali tidak pernah ‘menjamah’ fine dining room. Dan sebagian besar casual dining room/cafe yang mungkin tertarik dengan kemampuan saya, standar gaji untuk posisi Assistant Manager nya masih di bawah ketentuan pemerintah untuk pemegang S Pass. Segelintir casual dining room yang standar gajinya lebih tinggi pun mungkin mempunyai harapan kualifikasi yang hampir sama tingginya dengan para hotel berbintang dan fine dining room. Saya hanya bisa berharap pada casual dining room yang masih bisa menghilangkan keraguannya akan kemampuan saya. Dan bila standar gaji mereka untuk posisi Assistant Manager tidak memenuhi syarat pemerintah, mungkin posisi sebagai Restaurant Manager dapat mencapainya. Tetapi lagi.. meskipun mereka bisa menghilangkan keraguan mereka akan pengalaman dan kemampuan saya, tetap saja sulit bagi mereka memberikan kepercayaan kepada saya untuk menjadi pemegang kemudi utama restaurant. Mengapa? Karena ini bukan negara saya. Karena bahasa saya dan kebudayaan saya berbeda dengan bahasa dan kebudayaan mereka. Hal yang wajar bila mereka tidak yakin bahwa seseorang mampu mengatur sekian banyak orang yang memiliki bahasa dan budaya yang berbeda dengan dirinya.

Menilik dan meninjau segala masalah seperti yang telah saya jabarkan, semakin hari saya semakin sadar.. ‘buffer’ pengalaman saya masih kurang. Seperti yang telah saya katakan, jabatan ‘restaurant manager’ yang saya miliki di masa lampau dipandang sebelah mata di sini. Tetapi saya tetap akan bertahan, saya akan terus berjuang sampai jangka waktu 4 bulan yang telah saya tetapkan habis masa berlakunya. Setidaknya ada sesuatu yang masih bisa saya ‘jual’ pada CV saya yaitu keikutsertaan saya dalam ‘franchise development’ di tempat akhir saya bekerja. Kesadaran akan kekurangan ‘buffer’ pengalaman yang saya miliki sebenarnya malah menimbulkan suasana hati yang positif dalam diri saya. Saya tidak lagi ngotot dan terlalu berharap untuk bisa bekerja di negara ini. Yang ada dalam otak dan pikiran saya tinggal ‘que sera sera’.. ‘whatever will be will be’. Jujur, saya malah sudah berpikir kalau saat ini saya hanya sedang liburan. Libur yang sangat panjang sebagai pengganti kekurangan masa libur selama saya masih bekerja di Jakarta. Tamasya yang panjang dan mahal untuk melupakan polusi dan kemacetan di Jakarta.

Demikian saja hari demi hari saya lalui. Mungkin ada yang masih ingat bahwa pada bulan pertama di sini, saya telah melewati sekian banyak interview. Waktu itu saya mengatakan, “Untuk apa sering-sering interview kalau tidak diterima. Lebih baik sekali interview saja tapi langsung diterima.” Entah karena memang saya sudah ‘pasrah’ sehingga pencarian kerja saya sudah tidak se-’giat’ bulan pertama yang menyebabkan panggilan pun menurun (sepertinya tidak juga deh.. memang lowongan nya saja yang entah kenapa jadi sedikit di bulan kedua).. Atau jangan-jangan ini efek dari kalimat saya yang mengatakan tidak mau sering-sering interview. Bulan kedua ini, saya hanya mendapatkan panggilan interview dari satu employer.. N.Y.D.C di Wheelock Place, Orchard. Akhirnya, dari sekian banyak interview yang sudah saya lewati, baru kali ini saya bertemu dengan interviewer pria. Beberapa interview sebelumnya, semuanya selalu dengan para kaum hawa. Mungkin pola pikir dan cara kerja saya memang lebih cocok dengan pria daripada wanita. Sejauh ini, bisa dikatakan interview kali ini saya mendapatkan tanggapan dan reaksi yang paling positif bila dibandingkan dengan interview-interview sebelumnya. Meskipun demikian, kalimat akhir tetap sama.. kalimat yang mengatakan bahwa mereka akan menghubungi saya kembali bila saya terpilih.

Ya, tidak ada interview lain di bulan kedua ini. Semuanya terasa begitu cepat.. telepon untuk interview di NYDC itu saya terima di hari Senin untuk datang di hari Rabu. Hari Senin berikutnya saya dihubungi kembali oleh interviewer saya yang menyatakan bahwa saya diterima dan akan dihubungi oleh bagian administrasi. Hari Rabu, si admin tersebut menghubungi saya dan melakukan aplikasi S Pass secara online. Hari Kamis minggu depannya saya hubungi kembali si admin untuk menanyakan kelanjutan tetapi belum ada jawaban. Yah.. seharusnya memang belum sih.. karena berdasarkan informasi yang saya ketahui, butuh waktu 2-3 minggu untuk pengurusan S Pass. Saya menelponnya hanya untuk menunjukan itikad baik bahwa saya berminat untuk bekerja di sana dan tidak berniat untuk mencari pekerjaan lain (padahal memang tidak ada panggilan lain ;) ). Tetapi ternyata keesokan harinya, di hari Jumat sore.. si admin kembali menelpon saya dan mengatakan bahwa S Pass saya pada prinsipnya sudah disetujui oleh MOM Singapore, hanya perlu melakukan medical check-up untuk pengesahannya. Hari Senin berikutnya, saya melakukan medical check-up. Hari Selasa sore, saya mendapat telepon bahwa hasil medical check-up saya sudah keluar dan dapat di ambil. Hari Rabu pagi, saya melanjutkan pengurusan S Pass ke MOM. Sore harinya di hari yang sama (Rabu), saya mendatangi Work Pass Division di Tanjong Pagar untuk melakukan pengambilan foto dan sidik jari. Hari Senin berikutnya, saya mengambil S Pass saya. Dan keesokan harinya.. di hari Selasa.. tanggal 15 April 2008 adalah hari pertama saya resmi bekerja di Singapore.

Ya.. benar.. Saya mendapatkan pekerjaan itu. Persis dua bulan saya ‘menganggur’. Surat referensi saya dari tempat kerja terakhir, menyatakan bahwa hari terakhir saya bekerja di sana adalah 14 Februari 2008. Surat perjanjian kerja dari tempat kerja baru, menyatakan bahwa hari pertama saya bekerja di sini adalah 14 April 2008. Segelintir casual dining room yang berani memenuhi standard S Pass dari pemerintah ternyata masih ada yang mau mencoba ‘menjajal’ kemampuan saya. Ternyata di bulan kedua ini, harapan saya untuk ‘cukup satu kali interview tetapi langsung diterima’ terkabul. Ternyata, di saat saya sudah ‘pasrah’, tidak ‘ngotot’ dan tidak ‘terbebani’ dengan pikiran bahwa saya harus mendapatkan pekerjaan di sini, saya malah menemukan pekerjaan itu. Ternyata, di saat saya mulai berpikir untuk pulang dan mencari pekerjaan baru di Jakarta, saya diberi jalan untuk tetap tinggal dan bekerja di Singapore. Saya masih yakin, sangat yakin.. bahwa jalan hidup saya ini sudah ada yang mengaturnya. Ada yang mengatakan kepada saya kalau ini adalah ‘hadiah ulang tahun dari Tuhan’ kepada saya.. dan saya sependapat dengan orang itu.

Comments ♥29♥


Setelah dua minggu absent dari kancah blog, saya dapatkan kembali “ilham” untuk menyambung cerita saya yang tertunda, “perjalanan hidup” saya yang telah diatur sedemikian rupa…

Bayangan kelam bekerja di sebuah cruise butut “memaksa” saya untuk putar haluan dari dunia perhotelan dan keluarga besar hospitality industry. Dengan sejumlah uang dolar yang saya kantongi, saya berniat untuk kembali ke Belanda untuk masuk lagi ke zona perkuliahan. Mengapa Belanda? Alasan pertama, saya suka belajar bahasa asing dan sudah tanggung sedikit bisa bahasa Belanda. Alasan kedua, untuk bisa kuliah di Belanda, saya harus mahir dulu bahasa Belanda yang berarti saya harus sekolah bahasa dulu sebelum kuliah yang sebenarnya. Sekolah bahasa tidak memakan waktu banyak setiap harinya sehingga saya bisa sekolah bahasa dulu sekitar 2 tahun sambil bekerja mengumpulkan uang. Alasan ketiga, beberapa orang yang saya kenal mengatakan bahwa di Delft, Holland ada satu kampus yang sangat baik untuk jurusan IT, jurusan yang menjadi incaran saya. Mulailah saya mencari informasi dan mengirimkan aplikasi pendaftaran melalui internet. Setelah melalui proses penungguan 2 bulan, akhirnya Univ Delft memberikan kabar yang sangat “sederhana”. Saya tidak dapat diterima di sana karena jurusan yang saya ambil di SMA adalah A3 (ekonomi). Hm.. kalau itu alasannya, kenapa ya mereka tidak langsung tolak saja saat awal saya kirimkan aplikasi. Sudah jelas tertulis kalau memang saya dari jurusan ekonomi, untuk apa juga diproses sampai 2 bulan untuk menentukan hasilnya..

Saya sempat bingung harus bagaimana lagi. Kalau memang saya tidak bisa mengambil jurusan IT karena lulusan A3 berarti di mana pun tidak bisa, bukan hanya di Belanda. Sasaran saya berikutnya adalah bahasa. Salah satu bahasa yang sejak dulu ingin saya pelajari adalah bahasa mandarin. Jadilah China menjadi target petualangan saya berikutnya. Tepat sekali saat itu ada teman yang bisa membantu pendaftaran dan keberangkatan saya ke China untuk sekolah bahasa di sana meskipun sebenarnya saat itu sudah lewat batas waktu pendaftaran untuk sekolah-sekolah bahasa di sana. Setahun saya habiskan untuk belajar di kota Beijing. Memang hanya “jatah” waktu setahun itu lah yang saya punya menilik dari kondisi keuangan saya. Waktu setahun itu saya pergunakan sebaik mungkin untuk mendapatkan hasil maksimal, lompat kelas 1 tingkat ditambah mempelajari bahasa “ajaib” lainnya yaitu Thailand yang menjadi mayoritas teman-teman saya di sana.

Sepulang dari China, dengan modal bahasa mandarin dan ijazah seadanya, saya “nekad” untuk mencari pekerjaan di Singapore, negara di mana kakak saya bekerja. Satu setengah bulan saya habiskan di sana dengan melewati entah berapa puluh kali interview. Sebenarnya cukup banyak tempat yang mau menerima saya, tetapi pada akhirnya selalu terbentur pada masalah izin kerja yang sulit karena kualifikasi saya yang tanggung, tidak cukup untuk memperoleh Employment Pass yang memerlukan kata “bachelor” pada ijazah saya, tetapi terlalu tinggi untuk hanya mendapatkan Working Permit yang ditujukan untuk para buruh pabrik atau pembantu rumah tangga.

Kesadaran untuk kembali ke Jakarta dan mulai mencari pekerjaan yang benar dan stabil di Indonesia timbul saat mendengar pernyataan seorang interviewer saya di Singapore saat melihat CV dan lampiran-lampiran sertifikat yang saya miliki. Pernyataannya sebenarnya cukup sederhana dan tidak bermaksud apa apa..

“Wah.. your father must be very rich. I see that you have travelled all around the world.”

Saya cuma terdiam saat itu. Pernyataan spontan, sederhana tapi sempat mebuat jantung saya “melompat” sesaat dan memaksa otak saya untuk berpikir keras. My father.. very rich? Dia sudah tenang di alam sana sejak saya di SMP 3.. My mother? Dia hanya melanjutkan usaha elektronik dari papa saya yang semakin menyusut karena penggusuran yang sebenarnya sudah dapat diprediksi karena posisinya memang di jalur rencana tol dalam kota, menyusut lagi saat perpindahan kedua karena habis masa kontrak, dan pada akhirnya harus benar-benar tutup karena kerusuhan 1997. My brother? Dia masih menata hidupnya di Singapore dan mempersiapkan diri dan “sejumlah uang” untuk getting married. Me? Hm.. seorang anak tidak tau diri yang “menghabiskan” sejumlah uang untuk “travelled around the world” ?? No way! Tidak bisa dibiarkan. Saya harus kembali ke Jakarta, go back to reality, mencari hidup yang stabil dan benar di sini.

Rasa anti saya akan hospitality industry belum hilang. Sambil mencari pekerjaan, saya sempat memberikan kursus privat mandarin ke 4 orang siswa SMU. Lamaran demi lamaran saya kirimkan sampai akhirnya saya mendapatkan posisi sebagai Management Trainee di salah satu distributor besar handphone dan kelengkapannya di Jakarta. Saya menyerah tanpa syarat setelah saya harus melewati sekian lama bertugas bolak-balik mengawasi 9 outlet yang menjadi tanggung jawab saya yang berlokasi di daerah seputar Blok M, Senayan, Pondok Indah, Lebak Bulus, Bintaro, dan Cinere. Habislah uang saya untuk bensin selama perjalanan dari Cengkareng - absen masuk di Tanah Abang (kantor pusat) - outlets di daerah selatan sana - kembali ke Tanah Abang untuk absen pulang - Cengkareng (home sweet home). Belum lagi jalan yang harus saya lalui adalah jalur jalur macet dan saya sering nyasar karena tidak bisa menghafal jalan ;) Alhasil, saya tinggalkan PT itu dengan pengalaman kerja akhir di supervisory level.

Kembali saya memberikan kursus privat mandarin ke beberapa kelompok. Pekerjaan yang cukup menyenangkan sebenarnya. Mungkin “cita-cita” saat saya SD untuk menjadi guru itu memang berasal dari dasar hati saya. Tetapi kursus tidak bisa saya jadikan pegangan karena peserta kursus bisa saja berhenti kapan saja mereka mau. “Stress” perjalanan panjang di pekerjaan terakhir membuat lokasi dan kode pos menjadi prioritas utama saya saat melihat iklan lowongan di koran sampai suatu saat saya menemukan lowongan Supervisor yang berlokasi di Soekarno-Hatta. Ternyata.. yang di cari adalah supervisor untuk salah satu cafe di bandara. Hm.. F n B Spv? Well, iseng saja saya kirimkan karena lokasinya hanya 15 menit dari rumah. Saya sih tidak berharap akan mendapatkannya karena saya belum pernah punya pengalaman di supervisory level untuk F n B dan bidang itu sudah saya tinggalkan cukup lama.

Ternyata saya diterima di sana karena beberapa alasan.. Rumah saya yang dekat dengan tempat kerja menjadi prioritas utama mereka karena jam kerja yang cukup “ajaib”. Bahasa mandarin bisa membantu saya untuk berkomunikasi karena guest di situ sangat international. D3 perhotelan dan pengalaman di supervisory (meskipun lain bidang) pun akhirnya membawa saya kembali ke hospitality industry di sana. Sebuah cafe yang sangat sederhana bila tidak bisa dikatakan sebagai “toko kelontong”.. dengan profit margin yang sangat sangat tinggi. Saya sempat “tertidur” dengan pendapatan saya yang cukup tinggi di sana apalagi setelah saya mendapatkan promosi sebagai Assistant Manager. Saya “terbangun” saat saya mengikuti meeting seorang teman dekat saya dengan para supervisornya yang juga berkecimpung di F n B. Pembicaraan para supervisor tidak bisa dimengerti sepenuhnya oleh saya yang mengaku seorang asmen. Jujur, tingkat pengetahuan saya sebagai asmen “toko kelontong” jauh di bawah mereka yang benar-benar F n B Spv. Teman saya meminta saya melihat 3 tahun ke depan, dan bertanya bagaimana kira-kira posisi dan penghasilan saya saat itu di sana. Saya berpikir dan menjawab.. tidak akan jauh berbeda atau mungkin tidak berubah sedikitpun. Dia gambarkan apa yang akan diraih oleh para spv-nya 3 tahun ke depan. Saya bayangkan hidup teman saya itu 3 tahun ke belakang, dan menjadi sangat yakin dengan apa yang dia katakan. Dia start dengan penghasilan yang jauh di bawah saya. Tetapi saat ini… dia sudah berada di tingkat posisi, pengetahuan, skill, dan penghasilan yang sangat jauh di atas saya.

Saya harus benar-benar “bangun” dari “mimpi indah” sesaat yang tidak akan pernah berkembang. Awal Oktober 2005 saya tinggalkan “toko kelontong” yang menamakan dirinya cafe dengan penghasilan dan profit margin yang wah tadi. Mulailah saya menggiatkan diri lagi membaca lembar demi lembar iklan lowongan di koran. Sangat tidak mudah.. mungkin kualifikasi saya membuat orang bingung. Pengalaman “internasional” tetapi hanya di entry level. Bukan sarjana, hanya diploma holder dengan cukup banyak certificate. Pengalaman supervisory di bidang yang tidak sesuai dengan education background, pengalaman managerial di bidang yang sudah sejalan dengan education tetapi belum sampai ke levelnya. Jangankan para pencari tenaga kerja ataupun interviewer, saya sendiri pun bingung di mana dan bagaimana seharusnya saya menempatkan diri saya. Ternyata lulusan D3 dari kampus yang cukup ternama dengan nilai cum laude sebagai salah satu peraih beasiswa karena prestasi, pemegang sejumlah sertifikasi lokal dan internasional dengan kemampuan beberapa bahasa (tingkat rendah), pengumpul beberapa piagam penghargaan di China karena tingkat kerajinan, bakat, dan prestasi… harus menghadapi kenyataan hidup bahwa dunia nyata dan dunia kerja itu tidak sama dengan teori-teori yang cukup dihafalkan. Saat itu saya benar-benar merasa sangat sulit mendapatkan pekerjaan yang tepat. Mungkin bukan sulit… tapi para employer dan diri saya sendiri pun tidak tau apa pekerjaan dan posisi (serta gaji) yang tepat untuk orang seperti saya.

Penghujung tahun 2005, persis tanggal 31 Desember.. sebuah iklan di koran menarik perhatian saya. Sesuatu yang sepertinya sangat pas dan memang ditujukan untuk saya. Kali ini saya kirim aplikasi via e-mail dengan niat total, bukan hanya “iseng” seperti yang sering saya lakukan. Real F n B industry.. Saya sudah tidak bisa anti dengan F n B. Saya harus kembali ke “jalan yang benar” sesuai bidang ilmu (dan hasil psikotest) saya. Pengalaman terakhir sebagai asmen “cafe” di bandara dan sedikit kemampuan berbahasa mandarin serta kerelaan saya untuk menerima penghasilan jauh di bawah tempat kerja saya yang terakhir sebagai start awal, membawa saya untuk “berjalan-jalan” lagi ke Taiwan. Saya diterima di perusahaan tersebut dan mereka mengirim saya untuk training ke Taipei yang menjadi pusat dari fanchise coffee shop milik perusahaan itu. Hm.. ke luar negri lagi.. Is my father very rich?? No.. tetapi entah “Siapa” lagi yang mengatur saya untuk kembali “travel around the world.”

Saat ini saya masih berjuang membangun coffee shop tersebut dengan segala kemampuan dan keterbatasan yang saya miliki. Tetapi bila teman saya bertanya lagi bagaimana saya melihat diri saya sendiri 3 tahun ke depan di sana.. kali ini mungkin saya berani menjawab.. akan jauh lebih baik dari sekarang. Restaurant Manager? Operational Manager? General Manager? Hm.. sepertinya tidak.. Executive Trainer atau Training Director yang handal.. posisi ini terdengar jauh lebih indah di kuping saya dibandingkan dengan posisi-posisi yang saya sebutkan sebelumnya. Mungkin cita-cita polos seorang anak SD untuk menjadi seorang “guru” itu lah yang memang berasal dari lubuk hati saya yang paling dalam. Suatu kesenangan tersendiri buat saya untuk bisa membagi ilmu dan “teori” yang ada di kepala saya dengan orang lain, dan akan menjadi kebahagiaan yang mendalam saat bisa melihat kesuksesan seseorang yang berhasil meraih suksesnya dengan menerapkan ilmu dan “teori” yang saya bagikan. Apakah ini bisa terwujud? Mungkin bisa.. bila ada salah satu share holder yang membaca blog ini. ;) Dan yang pasti.. kalau ada yang mengaturnya ke arah sana, karena.. dalam hidup saya, semua ada yang atur.

Comment ♥1♥


Akan saya sambung lagi cerita mengenai “sejarah” hidup saya di sini.

Kerusuhan di tahun 1997 membuat saya harus meninggalkan rumah saya dan (menumpang) tinggal di rumah saudara saya. Karena sesuatu dan lain hal, saya benar-benar tidak betah dengan status “menumpang” tersebut. Untuk itu saya putuskan untuk kost di tingkat akhir masa perkuliahan saya. Karena kost dan hidup tidak jauh dari kampus, membuat saya sering mendapatkan informasi yang lebih cepat dan akurat mengenai sesuatu yang ada di kampus bila dibandingkan dengan anak lain. Tahun 1999, saya mendapatkan informasi “rahasia” bahwa APT berkesempatan mengirimkan sejumlah mahasiswa dalam jumlah yang cukup banyak untuk melewati industrial training program di Belanda. Memang ini bukan tahun pertama kerja sama dengan Belanda, tetapi baru pertama kali itulah jumlah yang dikirimkan cukup “banyak”.

Suatu hal yang sangat menggembirakan hati saya karena ternyata saya mendapatkan “prioritas” lebih dari kampus untuk ikut serta dalam seleksi pengiriman trainee ke Belanda ini. Mungkin pihak kampus masih merasa sedikit “bersalah” karena tidak berhasil “mengirim” saya ke Singapore di semester 4. Selain itu memang prestasi saya cukup “lumayan” dan termasuk “aktifis” juga kok, karena daripada tidak ada kesibukan sudah terlanjur kost dekat kampus. ;) Dan saya menjadi jauh lebih gembira lagi setelah pada akhirnya saya benar-benar diberangkatkan ke Belanda untuk industrial training program ini dan beberapa teman dekat saya di kampus pun ikut berangkat.

Sekembalinya dari Belanda, sambil menunggu proses sidang KTA, saya iseng kirim e-mail ke agen recruitment untuk kapal pesiar. Prosesnya benar-benar cepat dan tiba-tiba saya sudah diterima dan harus berangkat ke tempat kapal itu melakukan dry dock di Piraeus, Yunani. Padahal saya ingat sekali kalau saat itu saya benar-benar cuma iseng kirim e-mail karena iklannya cuma iklan baris dan saya belum sidang KTA. Akibatnya, setelah diterima dan mengetahui tanggal keberangkatan, dosen penguji dan kajur di APT berhasil saya “paksa” untuk mempercepat masa sidang saya karena toh sebenarnya KTA itu sudah selesai dibuat dan di-ACC oleh dosen pembimbing setahun sebelumnya saat saya akan berangkat ke Belanda. KTA itu memang cuma saya buat dalam waktu 2 minggu dan bisa cepat selesai dari hasil proses “memaksa” juga ke dosen pembimbing supaya bisa selalu memeriksa bagian per bagian dari KTA saya dengan cepat. ;) Saya tidak mau saat balik dari Belanda masih ada pending paper yang harus saya selesaikan. Makanya terkadang saya heran kalau mendengar ada orang yang memerlukan waktu sampai setahun atau lebih untuk menyelesaikan KTA atau skripsi. Sayangnya saya tidak berhasil memaksa para pembesar kampus untuk melaksanakan sidang KTA saya sebelum saya berangkat ke Belanda..

Proses cruise recruitment sampai saya akhirnya bekerja di kapal pesiar itu pun cukup menarik. Agen meminta saya untuk memilih antara 2 posisi, cabin stewardess atau bar waitress. Hm.. between housekeeping dan F n B.. lagi-lagi saya tidak tau mana yang harus saya pilih. Hati saya condong untuk memilih bar, tetapi akhirnya saya serahkan kepada agen untuk menentukan pilihan. Agen memilihkan posisi cabin stewardess untuk saya karena menurut mereka kesempatannya jauh lebih besar.

Setelah melalui berbagai proses dan penundaan keberangkatan, akhirnya saya berangkat bersama sekitar 18 orang lainnya dari Indonesia. Wah, sampai di Yunani ternyata kami belum seharusnya diberangkatkan. Agen nekad mengirim kami karena penundaan yang terlalu lama. Mungkin mereka pikir, kalau sudah diberangkatkan mau tidak mau pihak cruise harus menerima dan sudah bukan tanggung jawab mereka lagi. Ternyata pihak cruise sangat tegas, kami dipulangkan lagi ke Jakarta setelah menginap 2 malam di Yunani dan semua kerugian dibebankan ke agen.

Setelah akhirnya benar-benar diberangkatkan, ternyata baru setengah dari kami yang bisa berangkat. Saya termasuk yang berangkat karena ternyata cabin stewardess termasuk yang diperlukan di sana. Tidak saya bayangkan sebelumnya, ternyata kondisi kapal itu benar-benar parah. Kapal itu harus menjalani waktu sekitar sebulan untuk wet dock dalam rangka perbaikan, pembersihan, dan renovasi di Piraeus sampai akhirnya bisa berlayar menyeberangi Lautan Atlantik untuk menuju Caribbean yang menjadi rute cruise tersebut. Berlayarlah kami selama hampir 1 bulan lagi dari Yunani menuju Dominican.

Yang menjadi keprihatinan saya yang terbesar adalah setengah dari kami yang belum berangkat itu ternyata tidak jadi diberangkatkan karena kondisi cruise yang tidak terlalu baik. Agen menghilang tanpa mengembalikan uang mereka yang tidak jadi berangkat. US$1700, bukan jumlah yang kecil.. 90% dari yang tidak berangkat itu adalah para pelamar posisi bar waitress. Saya berpikir, seandainya saya membiarkan diri saya yang menentukan pilihan dan memilih posisi di bar.. mungkin saya termasuk bagian dari mereka.

Bekerja sebagai cabin stewardess di kapal yang kondisinya cukup parah menjadi pengalaman pahit buat saya. Sering saya mengeluarkan air mata diam-diam sambil bekerja dan berpikir.. lulusan D3 kampus yang (katanya) cukup terkenal pun akhirnya hanya mampu bekerja membersihkan kamar dan toilet.. berapapun gajinya.

Kondisi cruise tidak terlalu baik, passanger tidak terlalu banyak, sementara pihak cruise beberapa kali harus membayar denda karena ada kebocoran minyak di perairan Jamaica. Akibatnya uang gaji dan service pun seringkali terlambat dan terhambat. Galley (kitchen) crew yang tadinya didominasi oleh Egyptian mulai mogok kerja dan akhirnya minta dipulangkan. Saya melihat sebuah peluang di sana untuk terlepas dari rutinitas pembersihan toilet yang saya lakukan setiap hari.

Begitu senangnya hati saya saat permintaan saya untuk transfer ke galley dipenuhi. New chef dari Philippine menempatkan saya di cold kitchen dan saya harus mengajarkan beberapa orang Cuba yang baru masuk.. padahal, jujur saya sendiri baru belajar.. Mereka saja yang tidak tau.. ;) Rekan-rekan cabin stewardess (sebagian besar Rumanian) mengatakan saya bodoh karena permintaan transfer itu. Mereka mengatakan bahwa uang yang akan saya dapat dari galley yang hanya berupa gaji pokok mungkin hanya seperempat dari apa yang akan mereka dapatkan dari uang tips dan service charge di cabin. Tapi saya masa bodoh, tidak mau tau.. Persetan dengan uang! Ilmu dan ego harga diri saya di dapur akan jauh lebih banyak daripada di toilet, itu saja yang saya pikir.

Kondisi kapal makin memburuk. Crew yang tidak tahan dengan “kerja rodi” di kapal mulai mogok kerja atau pulang satu persatu. Saya sendiri mencoba bertahan meskipun kadang harus berdiri dan bekerja nonstop dari jam 6 pagi sampai jam 1 malam. Bayangan uang sejumlah US$1700 yang telah (orang tua) saya keluarkan itu saja yang menyebabkan saya mampu bertahan. Saat itu sempat terlintas di otak saya suatu pikiran, sampai kapan pun saya tidak akan pernah mau lagi bekerja di cruise apapun di manapun. Bahkan timbul pikiran yang lebih parah bahwa saya tidak mau lagi menyentuh dunia F n B maupun dunia perhotelan.

Beberapa crew yang punya hubungan luas mulai tidak sabar. Akhirnya ITF (organisasi internasional yang punya kuasa besar untuk membela hak para crew kapal pesiar) pun dilibatkan dan bertindak. Hasil akhirnya, 80% crew kapal dipulangkan dengan diberikan pesangon 3x gaji pokok. Jumlah yang cukup besar buat saya untuk dibawa ke Jakarta bila dirupiahkan. Beberapa rekan cabin stewardess berbalik memuji saya, mengatakan saya hebat dalam “meramalkan”. Pesangon itu yang jadi patokan mereka.. Gaji pokok saya 4x lipat gaji pokok mereka yang hanya mengandalkan uang tips dan service. Apalagi di saat-saat terakhir, passanger pun tidak banyak dan akibatnya uang tips + service mereka pun tidak mampu mengalahkan gaji pokok saya. Saya tidak merasa bangga dengan pujian itu. Hanya bersyukur, itu saja.. bahwa jalan saya memang sudah diatur begitu adanya. Bahwa akhirnya saya bisa pulang tanpa harus menahan perasaan lebih lama lagi sampai kontrak saya habis dan saya tetap bisa membawa hasil yang lumayan.

Cukup banyak sudah perjalanan hidup saya yang sudah saya ceritakan. Tetapi itu belum habis, masih ada lanjutannya.. Kalau sempat saya sebutkan tadi bahwa saya tidak berminat lagi dengan dunia F n B maupun perhotelan, dan ternyata saat ini saya masih berkecimpung di bidang itu.. tentu saja masih ada ceritanya. Akan saya sambung lagi di blog berikutnya. Anyway, saya janji kok kalau blog tentang ini tidak akan sampai lewat dari part 3 :) Tenang saja, saya selalu berusaha menepati janji saya dan tidak menjanjikan apa yang tidak bisa saya usahakan. Janji itu kata yang cukup sakral untuk saya kok. Hm.. mungkin suatu saat akan saya buat juga blog tentang “janji”.. Tapi saya tidak janji loh..

Comments ♥2♥


Menginjak usia saya yang sekarang, saya sering melihat ke belakang dan sekedar mengenang apa saja yang sudah saya lewati sampai saya mencapai hidup yang seperti sekarang ini. Setelah saya renungkan, saya tidak pernah mencita-citakan apa yang telah saya lewati atau saya raih. Semuanya berjalan begitu saja tanpa saya rencanakan dengan seksama, seakan-akan sudah ada yang mengaturnya begitu rapi.

Kalau saya mulai bercerita dari saat saya duduk di bangku SD, sepertinya terlalu jauh dan terlalu panjang. Lebih baik langsung saja saya mulai dengan apa yang telah saya lewati saat saya sudah ada di bangku SMA (sekarang sudah jadi SMU).

SMA kelas 1 semester 2, saya diminta mulai menentukan penjurusan untuk naik ke kelas 2. Dengan mudahnya saya pilih jurusan A3 (ekonomi). Ini saya pilih bukan karena nilai saya tidak cukup atau tidak mampu untuk masuk ke A1 (fisika) atau A2 (biologi). Orang tua dan beberapa teman saya pun menyayangkan mengapa saya mengambil A3 padahal nilai (dan mungkin otak) saya lebih dari cukup untuk masuk ke A1. Tetapi dengan enteng saya menjawab mereka.. Ah, untuk apa sih ceweq ambil A1 kalau akhirnya saat kuliah pun jurusannya tidak jauh dari ekonomi, akuntansi, atau sejenisnya.. karena jujur saya tidak berminat dengan mesin dan anti dengan kedokteran. Padahal saat itu saya benar-benar belum tau jurusan apa yang akan saya ambil saat saya kuliah nanti dan apa cita-cita saya. Waktu SD sih, kalau ada yang bertanya apa cita-cita saya, langsung saya jawab.. mau jadi guru. ;) Tapi cita-cita itu hilang dengan sendirinya saat saya makin besar.

Saat hampir lulus SMA, saya masih belum yakin jurusan apa yang harus saya ambil di bangku kuliah. Untungnya di saat saya bingung begitu, sekolah mengadakan psikotest untuk semua siswa kelas 3 untuk membantu kami menentukan penjurusan. Entah dari mana psikotest itu menilai saya.. akhirnya beberapa prioritas penjurusan yang menurut mereka baik untuk saya adalah.. Pertama: Sastra, Kedua: Bahasa Inggris, Ketiga: Pariwisata.

Hm.. saya langsung berpikir keras.. Karena saya benar-benar tidak tau apa yang akan saya ambil, saya putuskan saja untuk mengikuti hasil psikotest. Pilihan pertama saya abaikan karena saya tidak yakin sastra bisa menghasilkan banyak uang ;) Pilihan kedua pun saya lewati karena saya yakin untuk menjadi penerjemah handal atau ahli bahasa Inggris, saingan saya adalah para expatriat dan orang-orang yang memang kuliah di negara asal bahasa itu. Tidak mungkin saya bersaing dengan mereka. Akhirnya tinggal pilihan ketiga itulah yang tersisa, pariwisata.

Setelah bertanya kiri kanan, hanya ada 2 kampus pariwisata yang menarik minat saya.. kampus Enhaii di Bandung, dan APT di Jakarta (sudah jadi STPT sekarang). Alhasil saya daftar di kedua kampus itu. Pemilihan sub jurusan di Enhaii bikin saya bingung lagi, dan akhirnya saudara saya yang memilihkan untuk saya (saya sudah lupa jurusan apa yang dia pilihkan). Tetapi untuk pemilihan sub jurusan di APT saya bisa menentukan dengan mudah. Cuma ada 2 pilihan.. hotel atau travel. Wah, saya paling tidak bisa menghafalkan jalan, sering nyasar.. tidak mungkin saya ambil travel. Jadilah jurusan perhotelan menjadi pilihan saya. Test pertama Enhaii sudah saya lewati. Saat menunggu test kedua, saya juga telah melewati test APT yang ternyata hanya sekali dan hasilnya telah keluar sebelum jadwal test kedua Enhaii. Not bad, saya mendapatkan ranking 2 di test masuk APT.. which mean.. uang masuk agak murah sedikit.. :) Ternyata batas akhir pembayaran uang masuk dan BPP di APT lebih awal daripada pengumuman penerimaan di Enhaii. Ya sudah, saya putuskan saja untuk masuk ke APT dan tidak mengkuti lagi test kedua di Bandung.

Semester 4 saat saya harus mengikuti job training, bagian pengurusan training di kampus sangat yakin bahwa saya bisa mengikuti job training di Singapore. Tetapi ternyata itu bukan jalan saya. Saat itu, tahun 1997 nama Indonesia sangat jelek di mata negara lain dan banyak hotel di Singapore menolak masuknya trainee dari Indonesia. Selain itu, saat itu juga bersamaan dengan transisi mengenai masa training di kampus saya. Angkatan saya adalah angkatan awal yang harus mengikuti job training di semester 4, sementara angkatan-angkatan sebelumnya di semester 6. Alhasil saat itu ada dua angkatan yang harus mengikuti job training di saat yang bersamaan. Di saat Singapore meminimalkan jumlah trainee dari Indonesia, jumlah yang harus diberangkatkan oleh kampus saya malah melonjak 2 kali lipat dari biasanya karena masa transisi tersebut. Meskipun pihak kampus meminta saya menunggu lebih lama dan masih yakin bahwa saya akan mendapatkan kesempatan itu, akhirnya saya putuskan untuk training di Jakarta karena saya tidak mau kuliah saya tertunda hanya untuk sesuatu yang tidak pasti. Jadilah Quality Hotel, Jakarta sebagai tempat job training saya dan saya di tempatkan di bagian F n B service.. bukan karena saya memilih di sana (lagi-lagi saya belum mengetahui dimana minat saya sebenarnya), tetapi karena memang di bagian itulah mereka membutuhkan trainee. Inilah awal dari “karir” saya di dunia F n B, pertama kalinya saya benar-benar terjun ke industri ini dalam kehidupan nyata dan bukan sekedar teori atau praktek bayangan di kampus.

Yang saya ceritakan di atas tadi benar-benar baru awal dari begitu banyak hal yang saya lewati sampai kehidupan saya yang sekarang. Masih banyak peristiwa berikutnya yang meyakinkan saya bahwa hidup saya ini sudah diatur sedemikan rapinya entah oleh “Siapa”. Cerita yang lebih “seru” akan saya sambung pada blog saya berikutnya supaya saya bisa punya waktu untuk berpikir dan merangkai kata-kata yang lebih indah ;)

Comments ♥2♥