Satu minggu lebih saya menghabiskan waktu cuti di Jakarta, 9 hari tepatnya. Puas? Ya.. jujur, lebih dari cukup. Ternyata Jakarta sudah tak se”murah” yang saya bayangkan.. dan tak se”indah” yang saya bayangkan. ;) Jakarta tidak lagi seperti “rumah” untuk saya. Entah mengapa rasa memiliki itu sudah tidak ada. Bukan perasaan ‘pulang’ yang saya rasakan, melainkan perasaan ‘berwisata’.. berlibur.

‘Liburan’ ke suatu tempat “sendirian” bukan kebiasaan saya. Saya tidak pernah tertarik untuk berkunjung ke suatu tempat karena keindahannya, sejarahnya, obyek wisatanya atau apapun lainnya yang biasa menjadi alasan seseorang untuk mengunjungi suatu tempat. TEMAN.. itu biasanya yang menjadi satu-satunya alasan mengapa saya ber’wisata’ ke suatu tempat.. entah mengunjungi teman.. atau pergi bersama teman. Hm.. teman-teman saya memang banyak di Jakarta. Tetapi tidak terlalu mudah untuk menemui mereka. Selain mereka juga punya kesibukan masing-masing, saya kehilangan “kaki” ketiga saya di Jakarta.. mobil saya tercinta. :D

Karimun saya sudah dijual sekitar beberapa bulan yang lalu kepada om saya sendiri. :^ Jadi… dengan cukup sering nebeng sana sini (yang membuat beberapa teman saya agak nyasar saat menjemput) :-?? , satu kali naik taxi (yang baru datang hampir 2 jam setelah saya telpon) :-w , dua kali naik ojek motor (yang harus siap sedia terkontaminasi panas, debu, dan asap) X(^ , serta beberapa kali naik bis umum (yang rute-nya tidak jelas dan di mana berhentinya pun tidak jelas) ~X( …begitulah saya menjalani liburan saya kali ini. :)^-

Perlu rincian hari-hari yang saya lewati? Boleh.. akan saya ceritakan secara singkat, padat dan jelas. Saya usahakan hanya beberapa baris saja per hari karena saya tidak se”pakar” adik sepupu saya yang gemar bercerita detail tentang perjalanan wisatanya. :P Well…

Senin, 6 Okt:
Sampai di Soekarno-Hatta siang hari dijemput Nana (teman Dante); Pulang sebentar ke rumah; Diantar ke rumah Elin (teman SMA), lunch Pizza Hut delivery; Dijemput Nana lagi, ke Taman Anggrek untuk menemui Han, Rizky, Febby (teman-teman Dante) dan lanjut bersama mereka ke EX untuk dinner bareng di Chopstick, lanjut lagi plus Tika (teman Dante lainnya) main di Q-Billiard; Setelah itu, bareng Han nebeng mobil Nana dan dengan segala manipulasi dan tipu daya, kita berhasil membujuk Nana untuk mengantar kita ke Hotel Mulia.. membeli birthday cake untuk ulang tahun dia sendiri (ultahnya tanggal 7) dengan alasan dari Han yang sebenarnya sangat tidak masuk akal… beli roti untuk sarapan besok. :)) ..dan setelah itu, kita berdua main ke rumah Nana, menunggu jam 12 malam.

Selasa, 7 Okt:
Jam 00:00 teng, menyalakan lilin.. dan celebrate ultah Nana bertiga saja.. (Nana, Han, me); Ngalor ngidul sambil menunggu taxi yang sangat lama datangnya.. 2jam..; Pulang tidur sampai siang; Lunch di rumah; Pergi naik bis bareng mom ke Citraland, shopping time.. ;) ; Ke Taman Anggrek naik bis lagi, dinner di Ajisen sekalian ketemu Wewe (teman kuliah) dan menunggu dia sampai malam supaya bisa nebeng pulang. :D

Rabu, 8 Okt:
Bangun siang, lunch di rumah lagi; Dijemput Nana, mampir ke Puri untuk beli obat batuk dll; Mampir sebentar ke rumahnya, tunggu dia closing toko dan warnet; Lanjut dinner dan ngalor ngidul di Jet Ski Cafe, Pantai Mutiara; Setelah itu diantar pulang deh.

Kamis, 9 Okt:
Rencana pergi dari agak pagi bareng Elin ke Mangga Dua, tapi ternyata dia baru bisa menjemput setelah jam makan siang karena menunggu Yuna (sepupu Elin) dan anaknya. Jadi saya sempat ngemil makan nasi dan ayam goreng dulu deh di rumah. =P~ Lunch di food court ITC dan puter-puter plus belanja-belanja di seputar ITC dan Mangga Dua Mall; Sorenya mampir sebentar di rumah Elin dan lanjut jalan lagi, dinner di Jimbaran, Muara Karang; Mampir di Cosi, Pluit.. jemput Herry (teman SMP plus suami Elin) tapi sempat menikmati dessert ice-cream juga di sana karena Herry masih ngobrol dengan temannya. Hm.. mau juga tuh Herry mengantar saya pulang tanpa saya minta. Eh.. atau Elin yang suruh ya? ;)

Jumat, 10 Okt:
Ke Megamall.. eh.. sudah ganti namanya menjadi Pluit Village.. janjian ketemu Irene (teman SMA); Bareng dia lunch mie keriting di Pluit (lupa apa nama tempatnya) setelah putar sini sana mencari tempat makan mie lainnya yang masih tutup karena liburan lebaran. Setelah itu diantar Irene ke salon Alui, Pluit Sakti.. potong rambut dan smoothing. B-) ; Naik bis ke Puri, niatnya mau cuci mata dan dinner sendiri saja.. tapi coba telpon Elin dan ternyata dia mau nyusul ke Puri. Jadi.. dinner bareng Elin (ada Yuna juga.. ketemu mendadak di situ..) di food court Puri. Sebelum diantar Elin pulang, sempat belanja-belanja dulu di Carrefour Puri.

Sabtu, 11 Okt:
Dijemput Trin (teman SMA.. eh dari SD ding..); ke Grand Indonesia, lunch di Han Gang.. restaurant Korea tempat Epi (teman SMP) kerja. Lunch sekalian ngumpul-ngumpul.. ada Elin, Irene, Trin, Epi, Fenny, Chia, Devi (teman-teman TarQ); Lanjut jalan-jalan di Grand Indonesia dan berakhir ngalor ngidul di Coffee Bean. Oh ya.. satu-satunya tempat yang sempat saya foto selama di Jakarta.. di Han Gang restaurant… setelah semua makanan tandas! :))

Dari Grand Indonesia, saya diantar Devi ke Citraland; Dinner di Dante CL ditemani Qelli (teman Dante) dan menunggu malam saja di sana sampai Wewe datang menjemput. Wewe datang satu kompi saat menjemput.. 3 mobil.. :-? Meluncur lah kita ke Pecenongan dan makan lagi.. bersama “tangan-tangan kanan”nya Wewe.. si Sugi (plus ceweknya), Hendra, dan Sanles (plus istrinya). Malam-malam.. menunya sate babi dan bakut. :D Malam itu saya menginap di rumah Wewe karena besoknya mau jalan pagi-pagi ke Bandung.

Minggu, 12 Okt:
Start dari rumah Wewe menuju Bandung jam 6.30 pagi. Singkat cerita, kegiatan di Bandung adalah seputar belanja, makan, dan belanja, dan makan. :)) Rute singkat: Breakfast di tol KM 19 sekalian janjian bertemu Sanles dan istrinya supaya bisa “convoy” ke Bandung; Rumah cc-nya Wewe.. jemput Yuni (istri Wewe) dan Ken (anaknya); Duta Rasa (toko roti cc-nya Wewe); Heritage FO.. belanja dan ngemil di depannya; Prima Rasa.. beli kue lah; Bumbu Desa.. lunch; Rumah Mode FO.. belanja dan cuci mata lah; Lembang.. ngemil lagi; Sapu Lidi Sawah.. liat-liat villa; Cafe Sumur.. nimum susu murni; Balik ke kota tapi muacet buanget.. so sampai kota.. langsung makan lagi, hihi.. dinner di pinggir jalan.. lupa apa nama jalannya.. nama tempat makannya Cemar; Mampir ke Duta Rasa lagi; Pulang ke Jakarta.. home sweet home. :D

Senin, 13 Okt:
Lunch di rumah; Naik bis ke Muara Karang urus penutupan abonement handphone; Naik bis lagi ke ITC Mangga Dua, beli kaos-kaos murah di sana. $-) ; Naik bis lagi pulang disambung naik ojek motor dari Daan Mogot; Berhenti di tukang pecel lele deket rumah untuk dinner sebelum lanjut jalan kaki ke rumah.

Selasa, 14 Okt:
Lunch di rumah; Naik ojek motor PP ke rumah Diman (teman kuliah) di Citra Garden untuk mengambil titipan pempek dan jam tangan; Dijemput Elin dan diantar ke bandara… dan terbang kembali ke Singapore. :-h

Bagaimana? Cukup singkat dan padat? :)) Jujur… liburan ini.. hambar. Seperti yang saya katakan di paragraf awal, berwisata “sendirian” bukanlah suatu kenikmatan untuk saya. Memang saya tidak selalu sendiri selama liburan ini. Tetapi untuk benar-benar merasakan suatu liburan ke suatu tempat, hati kecil saya mungkin berharap untuk setiap saat setiap waktu, ada teman-teman di sekitar. Saat saya masih bekerja di Jakarta, mungkin liburan adalah saat yang paling menyenangkan untuk diam di rumah dan istirahat. Tetapi saat ini, Jakarta bukan lagi “rumah”.. bukan lagi tempat “istirahat”, tetapi tempat wisata.. tempat untuk dihabiskan bersama teman. Dan tidak adanya kendaraan pribadi, membuat saya sulit juga untuk mengunjungi mereka kapan pun saya mau.

Sebenarnya, saya mempunyai rencana awal untuk meminjam atau bahkan menyewa mobil selama saya di Jakarta kemarin. Tetapi setelah saya pikir kembali.. lebih baik tidak. Karena teman-teman saya tidak dalam kondisi “liburan”. Biar bagaimanapun, tidak mungkin saya habiskan waktu saya penuh dengan mereka. Hm.. selamat tinggal Jakarta.. Saya sempat berkata bahwa mungkin baru dua tahun lagi saya akan kembali ke Jakarta.. yah.. mungkin.. Bisa lebih lama, bisa juga lebih cepat. Mungkin saya akan menunggu sampai ada teman saya dari sini yang tertarik untuk mengunjungi Jakarta dan berwisata bersama saya ke sana.. Mungkin…

Comments ♥4♥


Kejadian ini sebenarnya sudah cukup lama berlalu. Yah, kira-kira hampir dua bulan yang lalu lah.. Tetapi “kesibukan” saya akhir-akhir ini menyebabkan saya baru sempat untuk menuliskan ‘kisah menarik’ ini di sini. ;)

Saat itu, saya bersama 3 orang saudara sepupu saya dari Jakarta berjalan-jalan di Sim Lim Square. Kali ini tujuan kami (saudara sepupu saya) adalah membeli sebuah kamera digital baru.. tanpa tau sama sekali spesifikasi seperti apa yang dia inginkan. :D Jadilah saya sebagai “guide” agak-agak bingung juga untuk membantu dia mencarinya. Satu-satunya petunjuk dari apa yang dia inginkan adalah kamera digital yang kecil dan enteng, ber”judul” Canon.

Perburuan dimulai.. Masuk ke satu toko dengan modal pertanyaan awal kamera digital Canon terbaru dan tertipis yang mereka miliki. Pertanyaan itu membawa perburuan selanjutnya ke kamera Canon Ixus 80-IS (8 Megapixel) dan Canon Ixus 85-IS (10 Megapixel). Singkat cerita, akhirnya kami mulai fokus ke Canon Ixus 85-IS dan mulai membanding-bandingkan harga.

   

Di salah satu toko terakhir (sebelum kami tertarik pada type yang lain), si pedagang memberikan harga SGD 420. Tetapi pada saat kami mau keluar dari tokonya dia langsung menurunkan harga cukup drastis menjadi SGD 300, dengan memory card 4GB. Entah lah apakah kamera tersebut benar bisa didapatkan dengan harga tersebut atau tidak. Kami tidak kembali ke toko itu karena ‘kisah menarik’ di toko berikutnya.

Di toko tersebut, tepatnya di toko Compact Electronics di lantai 2.. Saat kami mencari Ixus 85-IS itu si penjaga toko mengatakan bahwa model tersebut sudah kuno, sudah ketinggalan zaman. Kemudian dia mengeluarkan model yang lebih ‘canggih’ dan lebih baru yaitu Canon Ixus 970-IS. Kamera itu dia pamerkan dan banding-bandingkan dengan yang sedikit leibh ‘kuno’ yaitu Ixus 90-IS dengan menampilkan pengambilan gambar langsung di layar TV. Memang hasilnya 970-IS ini terlihat lebih tajam dan jernih bila dibandingkan dengan 90-IS. Setelah itu si penjual menjelaskan bahwa sebenarnya dari type nya bisa langsung terlihat model mana yang lebih baru dan canggih karena Canon tidak mengeluarkan type secara acak. Tentu saja 97 jauh lebih baru bila dibandingkan dengan 85 apalagi 80.. itu katanya, dan tentu saja kami percaya (dan hal ini memang mungkin saja benar, saya belum mengecek lagi kebenarannya sampai sekarang).

   

Kemudian dengan kata-kata yang meyakinkan dan (terdengar) tulus, si penjaga toko mengatakan bahwa dia mengerti kalau kami masih mencari type lama dengan alasan budget yang agak minim. Karenanya dia menawarkan ‘best price’ untuk kami, yang akhirnya setelah kami berpikir, berpikir, berunding, berunding, dan kembali berpikir.. :D dengan tidak sabar dia mengatakan bahwa harga terakhir yang bisa dia berikan untuk Canon Ixus 970-IS adalah SGD 380 dengan memory card 8GB. Karena kami benar-benar ‘buta’ harga, maka kami langsung melakukan cek harga ke kenalan yang ada di Mangga Dua Mall, Jakarta. Sambil menunggu SMS balasan tentang harga di Indonesia, kami berniat untuk mencoba mengecek harga di toko lain. Penjaga toko di Compact Electronics ini tampak tidak sabar dan tidak senang. Dia “mengancam” kalau nanti balik lagi, maka dia tidak akan memberikan harga yang sama.

Saya sih yakin kalau harga-harga di Sim Lim pasti bersaing. Kalau dia berani memberikan harga segitu, pasti ada toko lain yang juga berani. Jadi tetap saja saya tinggalkan toko itu untuk mencoba mengecek ke toko lain. SMS dari Jakarta masuk mengatakan bahwa harganya sekitar Rp 3 juta lebih (sekitar SGD 500) dan memory card nya pun bukan 8GB (saya lupa berapa GB, yang jelas lebih kecil). Wah, berarti toko itu benar-benar memberikan “best price”, jauh lebih murah daripada harga di Jakarta.

Kami masuk ke satu toko lagi, masih di lantai yang sama yaitu lantai 2, nama toko itu Darling Photo. Berbeda dengan penjaga toko Compact Electronics yang agresif, penjaga toko di sini terkesan tidak mau terlalu banyak ngomong. Saat kami menanyakan tentang harga Ixus 970-IS, dia hanya mengatakan kalau itu top model dan harganya SGD 540, harga pas. Waktu saya katakan kalau harganya sangat tinggi, kembali dia menegaskan bahwa itu top model dan wajar kalau harganya setinggi itu. Saya katakan saja terus terang bahwa saya mendapatkan harga yang jauh lebih rendah di toko lain yaitu SGD 380. Dia cuma tertawa dan mengatakan bahwa saya tidak perlu berpikir lagi, langsung saja kembali ke toko tersebut dan beli kamera tersebut kalau bisa. Dia mengatakan bahwa toko-toko seperti itu selalu memberikan “funny price” dan saat kita sudah benar-benar akan membelinya maka mereka akan memberikan barang yang lain dan mengatakan bahwa ternyata barang yang disepakati tidak ada stock. Dia juga mengatakan untuk jangan percaya kata-kata dia.. kembali saja ke toko sebelumnya dan buktikan saja sendiri.

80% percaya dengan kata-katanya, kami kembali ke toko sebelumnya. Si penjaga toko dengan muka asam mengatakan kalau dia kan sudah mengatakan bahwa tidak akan memberikan harga yang sama kalau sudah mengecek ke toko-toko lain. Saya bilang, saya tidak mengecek ke toko lain tetapi hanya menunggu SMS balasan dari Indonesia. Akhirnya dengan (pura-pura) marah dan tidak senang, dia mengatakan OK.. ya sudah.. bayar langsung sekarang.. cash. Tentu saja kami bingung diminta untuk membayar dulu sebelum barang disiapkan. Tetapi tetap kami bayar seperti yang dia minta. Setelah membayar, kami diminta menunggu beberapa saat untuk menunggu staff nya mengambil benda yang kami inginkan (entah dari mana).

Si penjaga toko mulai menerangkan cara-cara penggunaan kamera tersebut. Selesai menerangkan, barang yang ditunggu-tunggu belum juga datang. Si penjaga toko memulai “aksi”nya. Dia mengeluarkan satu kamera Nikon Coolpix (sayang saya lupa memperhatikan type-nya). Dia mengatakan kalau kamera tersebut adalah “best seller” di toko nya dan mungkin lain kali kita juga akan tertarik untuk kembali dan membelinya. Dia mulai memperagakan “kehebatan” kamera tersebut, memperlihatkan hasil ‘jepret’an nya di layar TV, dan membanding-bandingkan keunggulannya dari kamera yang akan kami beli. Kalau saja kami belum mendapatkan “peringatan” dari toko Darling Photo, mungkin kami akan termakan ‘bual’an nya dan mengubah pikiran kami ke kamera tersebut. Tetapi kami sudah memantapkan diri untuk ‘tak pindah ke lain hati’ ;)

Panjang lebar si penjaga toko menjelaskan dan mencoba mengubah ketertarikan kami.. dan hanya kami tanggapi dengan manggut-manggut. Saat pada akhirnya dia bertanya bagaimana pendapat kami mengenai kamera yang dia ‘bangga-banggakan’ tersebut, dengan enteng saya menjawab, “Well, it might be nice.. but I’m a fanatic of Canon.” Si penjaga toko langsung kembali menunjukan muka asam dan bergumam ngambek.. ya udah, fanatik Canon ya beli Canon lah, ga usah beli yang lain. Langsung dia membenahi semua ‘alat peraga’nya. Setelah itu dia mengatakan bahwa kamera yang kami inginkan masih sedang diambil, dan nanti jam 7 malam baru datang (saat itu baru sekitar pukul 5.30).

Nah… benar kan… :D Hm.. uang sudah di tangan nya, tidak mungkin kami pergi begitu saja untuk kembali nanti. Jangan-jangan dia malah mengatakan belum pernah menerima uang kami. Saya nekad saja minta barang display nya untuk diberikan kepada kami, tidak perlu yang baru. Dia panik, marah-marah dan mengatakan kalau itu cuma display.. tidak ada garansi, tidak diberikan battery dan tidak ada charger.. Walah! ;) Ya sudah lah.. saya bilang saja kalau saya akan kembali lagi jam 7 nanti tapi saya minta semua uang saya dikembalikan dulu. Si penjaga toko mengembalikan uang saya dengan tampang yang jauh lebih ‘asam’ lagi. :)) Jam 7 malam… apakah kamera baru yang kami inginkan sudah ada di tokonya? Tidak tau.. tidak perlu tau.. dan tidak mau tau. :) Saya tidak ingin ‘iseng’ menunggu satu setengah jam di situ untuk kembali ke tokonya sementara saya sudah sangat yakin kalau dia tidak akan menjual kamera itu dengan “funny price” tersebut. Lebih baik kami melanjutkan jalan-jalan ke tempat lain toh.. B-)

Comments ♥3♥


Mungkin ada yang berpikir bahwa saat ini saya akan mengulas panjang lebar mengenai manfaat kartu kredit dan bagaimana cara mempergunakannya dengan bijaksana. Kalau itu pikiran anda, maka anda salah besar. Saya hanya akan bercerita mengenai “pengalaman pahit” yang saya alami belum lama ini, yang menyebabkan saya harus mempergunakan kartu kredit satu-satunya yang saya miliki.

Saya sedang berniat untuk mengubah penampilan rambut saya. Saya sangat bosan dengan rambut panjang, saya ingin memotongnya sependek mungkin dan tentu saja tetap berharap bahwa potongan rambut tersebut cocok untuk saya. Awalnya saya mau nekad mencoba salon di bawah, di daerah HDB yang saya tinggali. Tetapi setelah bertanya sana sini, takutnya potongan di situ asal-asalan dan bentuk rambut saya jadi tidak keruan. Kakak ipar saya menyarankan untuk pergi ke salon bernama I-Con di Isetan dalam Wisma Atria. Di sana memang sedikit mahal, tetapi untuk pertama kali ganti model lebih baik cari aman. Untuk selanjutnya, mungkin bisa ke salon-salon yang lebih murah. Perkiraan harga adalah SG$40 untuk potong rambut di sana.

Dengan modal keyakinan penuh, saya mulai mencari salon tersebut. Wisma Atria tidak sulit untuk dicari. Isetan yang ada di dalamnya pun cukup mudah untuk ditemukan. Nah.. letak salon nya yang agak sulit untuk ditemukan. Salon itu terletak di dalam basement Isetan. Sebenarnya tidak terlalu sulit sih untuk mencarinya, tetapi saya membayangkan salon itu berada pada ruangan khusus yang tertutup kaca. Ternyata, posisinya terbuka di tengah-tengah ruangan Isetan, di tengah-tengah counter tas. Di bagian samping terpampang tulisan ‘ICON’ yang cukup besar. Sayang saya tidak memotret salon tersebut karena memang tidak berencana untuk memberikan review.

Sesuai dengan rekomendasi yang saya terima, begitu sampai di sana saya langsung minta untuk dipotong (rambutnya) oleh stylist yang bernama Michelle. Singkat cerita, permintaan saya kepada si Michelle ini adalah.. memotong rambut saya, makin pendek makin baik, tetapi tetap harus cocok dengan muka saya. Saya tidak mau hasil akhirnya membuat rambut saya mengembang (karena rambut saya keriting alam), dan sebisa mungkin keriting nya itu dibuang sebanyak mungkin. Saya tambahkan lagi pesan berikutnya bahwa saya tidak mau kalau nantinya saat saya menyisir harus memakai gel, hair spray, atau sebangsanya. Setelah berpikir-pikir dan mencari-cari (sepertinya susah juga dia mencari cara bagaimana mengikuti kemauan saya dengan rambut saya yang keriting itu), akhirnya Michelle berkata kalau dia akan memotong pendek rambut saya, kemudian dia luruskan dulu, baru kemudian dibentuk.

Mulailah proses pemotongan rambut saya. Seperti biasa.. dicuci dulu, kemudian dipotong pendek sesuai rencana. Pendek.. tapi rata begitu saja, tidak seperti yang saya harapkan dari salon yang tidak terlalu murah. Tetapi kemudian Michelle berkata bahwa dia akan meluruskan rambut saya. Begini tepatnya yang dia katakan dalam bahasa Inggris, “Now I will make your hair straight, and then I’ll continue with the model.” Oh.. ok.. berarti belum selesai. Bayangan saya dengan ‘make your hair straight’ itu mungkin di-blow, atau paling parah ya di-catok lah. Toh dia tidak memakai istilah bonding, smoothing, atau sejenisnya. Jadi, biarkanlah dia melakukan tugasnya.

Saat Michelle mulai mengambil cream berwarna putih, sebenarnya saya sudah mulai curiga. Tetapi kemudian saya berpikir, “ah.. paling cuma cream biasa.. biar gampang aja..” Jadi tetap saya biarkan dia melakukan pekerjaannya, dan mengoles-oleskan cream tersebut ke rambut saya. Waktu dia mulai mengambil aluminium foil, baru saya sadar… “Walah.. ini sih bonding nih urusannya…” Whaa.. OMG! Bukan, saya bukan takut di-bonding. Tapi.. bonding di Jakarta saja “lumayan” mahal, apalagi di Singapore?!?! Ya sudah lah, sudah terlanjur dimulai, tidak mungkin saya batalkan tiba-tiba. Waktu rambut saya mulai ‘dipanaskan’ degan alat dan didiamkan selama 20 menit, kebetulan receptionist mereka lewat di samping saya. Sambil harap-harap cemas langsung saya tanya, “Do you accept credit card?” Waktu dijawab iya.. lega.. (sedikit leganya.. ngga banyak).

Setelah itu, cuci lagi, catok, kasih obat lagi, didiamkan lagi 15 menit, cuci lagi, baru deh mulai si stylist ‘membentuk’ rambut saya.. dan.. selesai (setelah memakan waktu keseluruhan 4 jam!). Tibalah saat yang paling ditakutkan.. pembayaran. Waduu.. berapa nih.. Pasti mahal 3 proses begini.. potong, bonding, potong lagi. Sebelum masuk tadi saya sempat melirik daftar harga, tetapi hanya harga untuk potong yaitu $40 sesuai dengan kata kakak ipar saya. Dan saya tidak melihat harga-harga lainnya karena memang tidak berencana sama sekali untuk melakukan hal lain diluar potong tersebut. Berapa ya..?? Sebelum menyodorkan bill.. Michelle memberikan kartu namanya; ‘Icon by Shunji Matsuo’, kemudian mengambil sebuah kartu promosi. Biasa, jenis kartu yang ada 10 kotak, dan setiap kelipatan tertentu akan mendapatkan stempel di satu kotak, kemudian kalau semua kotak sudah ter-stempel maka kita layak mendapatkan promosi khusus. Nah.. dia mengambil stempel, lalu… memberikan stempel pada SEMUA kotak yang ada! Hwaaa… again… abis berapa nih!?!?!

Akhirnya.. bill yang “ditunggu-tunggu” pun disodorkan kepada saya….

   

Nah kan.. SG$300.70!!! :(( Ya sudah, sekali lagi saya bertanya pasrah, “Credit card ok?” Ok.. ok.. saya geseklah card tersebut. Ya.. memang pada saat-saat seperti inilah kartu kredit benar-benar dibutuhkan. Pengalaman pahit? Hm.. Tidak deh.. Saya mau berpikir positif saja. Bagaimana kalau saya anggap bahwa ini adalah ‘pengalaman lucu’? Atau.. mau lebih positif lagi? Ya.. ya.. ini adalah pertanda bahwa saya sudah siap mental untuk tinggal dan sukses di Singapore. Amin…

Comments ♥9♥


Sudah sebulan loh ternyata saya ada di Singapore sini. Lebih dari 80 CV sudah saya tabur kesana kemari. Belum.. belum ada hasil yang dapat dibanggakan. :-^ Meskipun sebagian orang mungkin berpikir bahwa apa yang saya lewati selama satu bulan ini cukup lumayan dengan beberapa interview yang ada. Banyak loh orang yang tidak dapat panggilan sama sekali dalam bulan pertamanya. Tapi kalau menurut saya sih.. untuk apa juga ya sering sering interview kalau tidak diterima. Mending sekalian nanti aja dipanggilnya, tapi sekali dipanggil langsung dapet.. jadi kan ngga buang buang ongkos. ;)

Apa saja kira-kira yang saya lakukan tiap hari selama jadi ‘pengangguran’ di negara yang lumayan mahal ini? (Lebih mahal lah pastinya kalau dibandingkan dengan Jakarta..) Yah, setidaknya saya mempunyai tiga ‘makhluk’ ini yang selalu menemani saya setiap hari…

Gambar pertama pasti sudah bisa ditebak dengan mudah. Siapa pun tau kalau saya ‘tergila-gila’ dengan computer dan hampir tidak pernah melewatkan seharipun tanpa itu sejak dulu. Nah, gambar kedua.. betul.. itu TV. :)^- Dan di layar terpampang film sinetron yang berjudul ‘Cahaya’. Hehe, itu bukan hanya kebetulan. Memang saya sengaja menampilkan sinetron itu.. karena jujur, memang sinetron itulah yang saya tonton setiap hari selama di sini. :D Lalu gambar ketiga? Perkenalkan.. itu Jumpie.. kawan setia yang selalu menemani saya ‘ngobrol’. o^ Ternyata.. seorang Prila juga suka nonton sinetron dan ‘ngobrol’ dengan boneka.. Sisi lain dari seorang Prila yang baru anda ketahui? :))

Begitulah hari demi hari saya lalui. Untungnya tidak sukar bagi saya untuk pergi kemana pun meskipun saya termasuk orang yang sulit untuk menghafal dan mengenal jalan. Jangankan di Singapore.. di Jakarta aja masih sering nyasar.. :D Fasilitas angkutan umum di sini yang sangat teratur membuat semuanya mudah untuk saya. Kapanpun saya pergi untuk interview, ke Gereja, atau sekedar bertemu siapa saja.. saya cukup membalik-balik segala macam buku petunjuk arah yang ada. Mereka lah ‘makhluk-makhluk’ lain yang sering menemani saya.. menjadi navigator yang handal untuk saya.

Memang Singapore ini bisa dikatakan daerah tujuan wisata. Padahal kalau mau jujur, tidak ada yang indah loh di sini. :D Tetapi cukup banyak orang (terutama orang Indonesia) yang suka ke sini, meskipun hanya berjalan dari mall ke mall. Buktinya, selama hanya satu bulan saja saya sudah bertemu dengan dua orang bayi teman saya yang belum pernah saya temui selama saya di Jakarta. Siapakah mereka? Hehe, tebak sendiri saja lah dengan melihat photo dan nama mereka. :-? Kedua bayi ini adalah anak-anak pertama dari teman-teman saya semasa kuliah dulu. Hm.. begitu cepat ya waktu berlalu.. 8-^

Demikian cepatnya waktu berlalu membuat saya mulai ragu akan langkah saya di sini. Saya akui, seharusnya saya bisa cukup berbesar hati dengan deretan interview yang telah saya jalani selama sebulan di sini..

Bagaimana.. tidak terlalu mengecewakan kan deretan di atas? ;) Tapi seperti yang saya katakan di awal blog ini.. Itu cuma sekedar interview. Tiga interview awal sudah dapat dipastikan kegagalannya karena saat ini batas waktu penentuan sudah lewat. Dua di sebelah kanan mungkin masih ada setitik harapan. Tapi saya tidak mau berharap terlalu jauh. Saya hanya bisa meyakini bahwa yang terbaiklah yang akan terjadi… [-O^

Comments ♥14♥


Akhirnya.. Blog pertama saya di tahun 2008.. :)) Blog pertama saya di daerah baru yang saya tempati baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Sudah lama saya bercita-cita untuk menambah sempit dunia maya dengan memasukan prilaquin.com saya ke dalamnya. Pada saat masih bekerja, hal ini agak sulit saya wujudkan karena pekerjaan yang cukup menyita waktu dan energi saya :)

Kebetulan sekali (hm.. bukan kebetulan sih, tapi memang sudah direncanakan ;) ) saya mempunyai waktu luang saat saya keluar dari pekerjaan saya dan “migrasi” dengan “modal nekad” ke negara tetangga, Singapura (kapan-kapan akan saya ceritakan perjalanan saya hingga sampai ke sini dan bagaimana hasilnya untuk melanjutkan cerita panjang hidup saya). Sambil berusaha untuk mencari pekerjaan di sini, saya punya waktu yang lebih dari cukup untuk membuat website saya sendiri dan memindahkan semua blog saya dari alamat lama ke alamat baru. Dan bagusnya memang saat konstruksi pembangunan website ini, saya berada di Singapore. Saya yakin kalau saya masih di Jakarta, dengan akses internet yang minta ampun lambat.. waktu yang saya butuhkan untuk mewujudkannya mungkin 2-3 kali lebih lama.

Dengan keyakinan 100% bahwa domain dengan nama asli saya pasti akan saya dapatkan ;) , saya mulai mencari hosting yang cocok untuk prilaquin.com saya. Saya ikuti saran dan masukan dari adik sepupu saya untuk mempercayakan web hosting saya pada tadulako. Dan untuk blog, pastinya WordPress yang jadi sasaran sarana yang paling pas buat saya. Yah, jujur.. waktu yang saya perlukan untuk membuat website yang sebenarnya sangat-sangat sederhana ini bisa dikatakan super lambat. :D Itu aja masih ada sentuhan bantuan sedikit dari kakak saya dan konsultasi yang cukup sering dengan adik sepupu saya. Maklum deh.. orang awam nekad bikin website, ya begitu lah jadinya. ;)

Apapun jadinya.. ya inilah hasilnya. Pasti masih banyak perbaikan dan penyempurnaan berikutnya. Tapi untuk sementara, saat ini saya sudah cukup berani kok untuk mulai melakukan ‘publikasi’ kepada umum. ;) Dan please lah.. hargai saya sedikit.. (berapapun harganya, hehe) dan mampir sebentar untuk menuliskan sesuatu di Guestbook saya.. okay.. :D

Comments ♥2♥


Blog ini adalah kelanjutan dari blog saya sebelumnya. Jika belum sempat membaca blog tersebut, ada baiknya untuk membacanya dulu supaya lebih mengerti apa yang akan saya tulis di sini.

Tanggal 29 Mei 2007, sesuai dengan yang tertulis pada surat tilang yang saya terima tanggal 17 Mei, saya mendatangi Pengadilan Negri Jakarta Pusat di Gajah Mada. Tepat jam 9.00 sesuai dengan surat tilang, saya memasuki kantor pangadilan. Entah ada berapa ratus atau berapa ribu orang di sana. Biasa.. sejak di parkiran langsung ada yang bertanya, “ngurus tilang ya… perlu dibantu..?” Karena saya sedang sangat ingin tau bagaimana proses sidang tilang dan ingin menjalaninya sendiri, saya tidak mempedulikan dan pura-pura tidak mendengar pertanyaan orang-orang yang berniat “membantu” tersebut. Sebagai orang awam, saya bingung menghadapi dan membaca tulisan di beberapa whiteboard mengenai jadwal sidang. Sepertinya ada yang mengerti kebingungan saya dan saya mendengar suara (tidak tau dari mana), “sidang tilang di lantai dua”. Oo.. ok.. terima kasih… Naiklah saya ke lantai dua.

Wah.. ramaaaaii sekali di sana, berjubel-jubel orang menyerahkan slip merah tilang ke petugas yang ada. Saya ikut berjubel, ikut menyerahkan slip merah. Tanpa ada pegangan apa-apa lagi si petugas bilang ‘ya udah, sana, masuk ruang sidang (yang juga sudah sangat penuh orang)’. Sempat bingung.. kalau slip saya hilang bagaimana jadinya ya.. Kan mungkin saja hilang di tumpukan slip yang menggunung. (Tips: Berarti ada baiknya slip tilang difotokopi sebelum diserahkan ke petugas).

Jam 9.30 hakim datang. Saya berpikir, tumben “on time” (terlambat setengah jam termasuk on time loh saya pikir untuk orang “penting” dan “sibuk” seperti mereka), dan mungkin tumben ‘datang’. Sidang dibuka, “terdakwa” dipanggil satu per satu. Hakim menyebutkan besar denda, mengetukan palu, dengan sebelumnya menanyakan/membacakan kesalahan orang yang di panggil sambil sedikit berkelakar. Tetapi tidak semua orang ditanya/dibacakan kesalahannya. Cukup banyak yang setelah namanya di panggil, hakim hanya berkata, “Tidak usah ke depan, langsung bayar aja biar cepat, 30ribu, ongkos perkara 2ribu.” tok.. tok.. palu diketuk. Nah lho.. sidang tuh? Untungnya hakim kali ini saya nilai cukup ok, doyan bercanda. Jadi seringkali ruang sidang riuh tawa. Tetapi terkesan bahwa dia cukup ‘ngasal’ dalam menyebutkan jumlah denda karena beberapa orang dengan kesalahan yang sama bisa dikenakan denda yang berbeda.

Ada satu kasus yang si hakim jadi bingung sendiri setelah “terdakwa” menyebutkan apa yang menyebabkan dia ditilang. Orang itu mengatakan dia ditilang karena melewati bekas trotoar pembatas di tengah jalan yang sudah dibongkar tetapi masih ada bekasnya. Hakim berkata, “Wah, ini ada undang-undangnya ngga ya..” Orang-orang yang ada di ruang sidang banyak yang iseng menjawab, “Ngga ada kali pak.. ya udah.. bebasin aja..” Si hakim nyengir dan bertanya kepada ybs, “Saya teliti dan baca kembali undang-undangnya nanti setelah sidang selesai, atau mau bayar denda saja?” Ybs pilih membayar langsung. Alhasil.. 30ribu, ongkos perkara 2ribu. Memang saya pernah baca di suatu website, jika kita tidak setuju dengan jumlah denda saat sidang tilang maka kita berhak mengajukan kasasi. Tetapi kasasi itu akan dilakukan di ruangan lain dan di waktu yang lain yang semuanya tidak jelas dan prosedurnya juga tidak jelas. (Tips: Berarti selagi mampu bayar, jangan iseng mengajukan kasasi).

Jam 11.30, hakim memutuskan untuk istirahat. Dari sabar dan “menikmati” suasana sidang, saya mulai tidak sabar karena tidak dipanggil-panggil. Saya mulai marah-marah ke petugas-petugas yang ada di sana (tidak perlu saya ceritakan bagaimana saya marah-marah, terlalu panjang untuk ditulis di sini). Hakim datang kembali pukul 12.30 dan melanjutkan sidang sampai jam 13.30 sampai akhirnya dia menyatakan sidang selesai dan meninggalkan ruangan. Saya semakin panas dan marah-marah. Sementara itu, masih banyak orang yang baru datang dan memberikan slip merah tilang, dan nama saya masih belum dipanggil. Saya mulai berteriak ke para petugas yang mengurus berkas, sengaja supaya suara saya didengar oleh seisi ruang sidang.
“Pak, yang bener aja, nyari berkas aja masa iya 4 jam lebih ngga ketemu, kan ada nomornya!?!”
“Kamu aja sini yang gantian cari tuh berkas!”
“Sini saya cari sendiri ngga apa2, kasih ke saya aja tuh tumpukan berkas sama slip merah saya”
Petugas itu terdiam, sementara saya liat masih banyak orang yang baru memberikan slip merah dan sebagian besar berseragam dinas.
“Gimana berkas saya yang udah dimasukin dari jam 8 pagi tadi mau ketemu? Terima aja terus tuh slip-slip yang baru masuk. Perasaan dari jam 10 tadi hakim udah bilang jangan terima slip merah lagi? Urusin aja tuh semua yang dari calo-calo. Tuh… emangnya bapak pikir saya ga liat?? Tuh, barusan diterima tuh.. ada yang ngasih lewat bawah meja.. tuh lagi dari samping… terima aja terus Pak yang diselip-selipin sama calo!! Gimana saya punya mau ketemu?”
Saya tidak asal bicara, memang itulah yang terjadi. Banyak slip merah yang baru masuk dan diurus terlebih dahulu dan saya yakin mereka itu memang calo yang berasal dari ‘orang dalam’.

Teriakan saya ada gunanya. Petugas langsung menolak slip-slip merah yang baru masuk, dan peserta sidang tilang lainnya ikut membantu saya mengawasi dan memprotes kalau petugas menerima slip merah yang baru datang. Satu orang petugas yang masih cukup sabar menghadapi saya menanyakan nama saya dan jenis SIM saya yang ditilang. Dia mencarikan slip merah saya sampai ketemu. Slip merah itu seharusnya dicocokan dengan berkas slip putih (asli) yang disatukan dengan SIM/STNK yang ditahan. Akhirnya… slip merah saya berhasil dia temukan. Tetapi….. “Bu, ini ternyata slip merahnya sudah kami beri tanda. Berkas ibu belum sampai ke sini, mungkin masih ada di Ditlantas.”

Apa??? Sekian lama saya menunggu, ternyata hanya untuk mendapatkan jawaban seperti itu. Saya hampiri seorang petugas yang sepertinya sudah merasa sangat tidak enak dengan suasana yang ada. Menurut petugas itu, sidang hari ini memang sangat kacau dan tidak terkendali. Berkas-berkas menumpuk, banyak orang yang harus menunggu lebih dari 4 jam. Mereka sendiri tidak mengerti mengapa “terdakwa” sidang tilang hari itu jauh lebih banyak daripada biasa. Mereka memang tidak mengerti, tetapi mungkin saya mengerti. Mungkin, para “polisi” di jalan sudah “pintar”. Mereka tau maraknya milis dan informasi mengenai lebih baik ditilang daripada mengambil “jalan damai” bisa mematikan “sumber uang” mereka. Ini mungkin bisa menjadi jawaban di comment blog saya sebelumnya yang menanyakan mengapa sidang harus menunggu lama sampai tanggal 29 sedangkan saya ditilang tanggal 17. Dengan kejadian ini saya mendapatkan kesan bahwa sejumlah besar “polisi” sudah membuat suatu “kesepakatan bersama” untuk tanggal sidang yang memang ditujukan supaya sidang tanggal tersebut sangat ramai, tidak terkendali, orang-orang kapok ditilang, dan kembali tersebar informasi dan milis bantahan terhadap informasi ‘lebih baik ditilang’. Ini memang hanya asumsi saya, apakah asumsi saya benar… hanya ‘mereka’ yang tau.

Setelah si petugas memeriksa kembali dan memastikan bahwa memang di berita acara penerimaan berkas tilang hari itu berkas saya tidak terdaftar, saya mendapatkan informasi bahwa saya harus ke Ditlantas Polda di MT Haryono untuk mendapatkan SIM saya. Saya meminta surat atau apapun pernyataan dari mereka bahwa saya sudah menghadiri sidang sesuai dengan tanggal yang ada pada surat tilang tetapi berkas saya tidak ada. Ini saya tujukan untuk mencegah kemungkinan STNK saya ditahan di hari-hari berikutnya karena saya tidak dapat menunjukan SIM saya (saya sering melewati jalan yang hampir setiap hari ada razia) sedangkan tanggal sidang pada surat tilang saya sudah kadaluarsa. Petugas itu meminta saya untuk menemui Pak B*****g. Setelah saya temui, akhirnya beliau memberikan stempel ‘Sidang Diperpanjang sampai dengan’ yang kemudian dilanjutkan dengan tulisan tangannya ‘5 Juni 2007′. Tetapi stempel Nama dan NIP yang ada di bawahnya bukan namanya. Saya meminta pernyataan lebih lanjut bahwa saya sudah datang sidang, dan memina nama dan NIP nya juga ditulis. Meskipun terlihat kesal, dan sempat berucap “ngga sekalian gaji saya juga ditulis disitu?” dia tetap menulis di balik slip merah tilang saya, ‘Ybs sudah menghadiri sidang tanggal 29 Mei, tetapi berkas tidak ada. B*****g.’

Keesokan harinya, saya minta tolong kepada staff saya untuk mengurus ke Ditlantas MT Haryono. Dari sana dia menelpon saya dan mengatakan bahwa bagian tilang Ditlantas menyatakan berkas saya sudah dikirim ke PN Jakarta Pusat (tempat saya sidang) sejak tanggal 22. Kemudian dia menuju ke PN Jakpus untuk meneruskan ‘mencari’ SIM saya yang “hilang”. Dari PN itu, dia kembali menelpon saya dan mengatakan bahwa SIM saya tetap tidak ada dan saat dia ngomel-ngomel bahwa berarti SIM itu hilang dan tidak ada yang mau bertanggung jawab, dia mendapatkan jawaban, “Bisa saja sih Pak kalau mau dibantu, tapi ada ongkosnya.” Dia tidak mau membayar ‘ongkos’ itu karena tidak jelas bagaimana prosedurnya, bagaimana prosesnya, dan dia tidak berniat meminta penjelasan. Menurut petugas wanita yang ditemuinya saat itu, mungkin SIM saya masih berada di polisi yang menilang saya, atau di Satpatwal di Sudirman. Yang jelas, saat itu slip merah tilang itu harus kembali ke tangan saya lagi.

Senin 4 Juni, saya berangkat sendiri ke Ditlantas MT Haryono. Nama saya cepat sekali dipanggil setelah menyerahkan slip merah ke bagian tilang. Petugas di sana menunjukan bahwa ada tulisan yang telah mereka tulis beberapa hari lalu di slip merah saya, bahwa berkas saya sudah dikirim ke PN Jakpus. Di sana tertera BA (Berita Acara) xxxxx/sid22. Saya mengatakan ke petugas itu, kalau saya sudah kembali ke PN Jakpus dan mereka tetap menyatakan tidak menerima berkas saya. Kemudian saya menanyakan apa yang harus saya lakukan. Mereka meminta saya menunggu sebentar. Tidak lama kemudian, ada seorang petugas berseragam kepolisian yang memasuki ruangan dan memanggil nama saya. Dia mengatakan, “Ibu ke PN JakPus, minta diperlihatkan berita acara penerimaan untuk sidang 22 Mei. Bilang kalau berkas ibu ini dikirim untuk sidang tanggal 22 Mei. Temui Pak B*****g, bilang kalau ibu sudah ketemu langsung sama Pak Haji N***o.” (Hm, sepertinya yang namanya Pak B*****g itu punya peranan penting di PN Jakpus).

Saya langsung menuju ke PN JakPus. Sampai di sana, langsung saya hampiri ruang sudut dekat mesjid, tempat dulu Pak B*****g memberikan stempel di surat tilang saya. Beruntung, orang yang saya cari ada di situ. Saya mengatakan seperti yang dipesankan oleh Pak Haji N***o.
“Pak, saya diminta kesini nemuin bapak langsung oleh Pak N***o. Katanya berkas saya sudah dikirim untuk sidang tanggal 22 Mei dan itu ada di Berita Acara.”
“Mbak datang tanggal berapa untuk sidang di sini?”
“Tanggal 29 Pak, sesuai dengan yang ada di surat tilang.”
“Jadi kalau kita ngga bisa nemuin SIM mbak di kumpulan berkas tanggal 29, karena berkas mbak dikirim ke sini untuk sidang tanggal 22, itu salah siapa?”
“Saya ngga mau tau lagi deh Pak itu salah siapa, yang penting SIM saya balik.”

SIM saya berhasil ditemukan dengan mudah di tumpukan berkas tanggal 22. Saya yakin petugas wanita yang ditemui oleh staff saya beberapa hari yang lalu seharusnya juga bisa menemukan berkas saya dengan mudah karena catatan dari Ditlantas MT Haryono tertulis jelas ’sid22′ yang berarti sidang tanggal 22. Tidak mungkin petugas itu tidak mengerti kode itu. Seharusnya dia bisa langsung mencari SIM saya di tumpukan berkas tanggal 22 kalau dia tidak begitu menginginkan ongkos untuk “membantu” mencari SIM itu. Tetapi saat pikiran itu saya utarakan, saya hanya mendapat jawaban,
“Mbak ketemu siapa saat itu? Mana orangnya?”
“Sayang bukan saya sendiri yang datang waktu itu, jadi saya ngga tau siapa.”
“Kalo ngga tau ya udah, jangan mengada-ada.”
“Ya udah deh Pak, saya juga udah males debat. Sekarang gimana deh?”
“Tinggal bayar aja, 52.000. Denda 50, administrasi 2ribu.”

Hm.. sebelum ke sana, saya sudah sempat membaca tarif denda resmi untuk pelanggaran lalu lintas yang saya dapatkan di website Masyarakat Transparansi Indonesia. Untuk kesalahan saya yang melanggar psl 61(1) yo psl 29.PP43/93 (Intinya ngelewatin lampu merah deh), seharusnya untuk denda resmi mobil pribadi hanya sebesar Rp25.000. Tetapi saat saya mengatakan kepada mereka bahwa saya tau denda resmi hanya 25ribu, saya harus dihadapkan pada tabel yang mereka keluarkan. Tabel itu berisi sama persis dengan print out yang saya miliki dari transparansi, tetapi semua angka dendanya berubah. Tidak ada satu pun yang sama, semua lebih tinggi. Saya lihat tahunnya, sama persis seperti yang saya print dari internet. Tadinya saya pikir itu undang-undang baru, mungkin keluaran tahun 2007 dan saya punya sudah tidak up to date. Ternyata… undang-undang yang sama dengan tahun yang sama, tetapi dengan isi yang berbeda. Hebat! Benar-benar teknologi yang mengerti anda. ;)

Berkecamuklah beberapa pikiran dan pilihan di otak saya.
1. Saya ambil dulu print out yang saya miliki (kebetulan saya tinggal di mobil) untuk kemudian kembali berdebat dengan mereka… Tidak, sepertinya percuma berdebat dengan mereka, pasti saya kalah karena biar bagaimanapun SIM saya ada di tangan mereka.
2. Saya ambil SIM saya yang tergeletak di meja dengan cepat dan lari kabur… :p Lirik keluar, wah banyak orang yang memakai seragam polisi. Sekali ada yang teriak, pasti saya langsung tertangkap.
3. Saya biarkan SIM saya di sana dan menyatakan bahwa saya mau ikut sidang besok sesuai dengan stempel mereka ’sidang diperpanjang sampai tanggal 5 Juni’… Hm, mungkin bisa irit 25ribu, tetapi ongkos bensin saya? Jalan tol? Waktu saya? Dan kalau SIM saya tiba-tiba “hilang” lagi??

Memang sih sempat terlontar dari mulut saya, “Tabel daftar denda kaya begini saya punya 10 di rumah, isinya beda semua.” Tetapi akhirnya saya menyerah tanpa syarat. Saya keluarkan uang 52.000 dari dompet saya, saya letakan di meja, saya ambil SIM saya, saya tinggalkan ruangan. Semua saya lakukan tanpa bicara sedikit pun (tidak tau apa lagi yang harus saya bicarakan) dan petugas di sana pun tidak mengatakan apa-apa lagi sampai saya pergi. Saya teringat perasaan saya saat saya ditilang tanggal 17 Mei (yang saya ceritakan di blog sebelum ini), perasaan yang bisa dibandingkan dengan orang yang membeli coin di TimeZone untuk main game, menyelesaikan game itu sampai finish dan menang. Saat ini saya tau, waktu itu saya belum menang, baru naik level. Sekarang saya baru ketemu ‘raja’nya, dan saya kalah. ‘Nyawa’ saya sudah habis, game over.. dan budget saya untuk membeli coin supaya dapat ‘continue’ dan memenangkan game itu sampai finish sudah habis. Saya tidak mau mengeluarkan uang untuk membeli coin lagi, biarlah permainan saya selesai di situ.

Comments ♥7♥


Sebagian besar teman-teman saya atau orang yang pernah melihat saya menyetir pasti menyatakan kalau saya adalah orang yang kalem dalam menyetir, sabar, dan tidak pernah cari masalah. Saya sendiri sebenarnya mengakui itu. Tetapi belakangan ini baru saya sadari bahwa ternyata saat saya sedang menyetir sendirian, tidak ada orang yang duduk di samping atau di belakang saya, saya malah cenderung lebih nekad dan suka memperpanjang masalah di jalan.

Saya tidak terlalu suka (kalau tidak dapat dikatakan benci) mendengar bunyi klakson. Saat sedang berhenti di lampu merah dan orang di belakang saya langsung memencet klakson saat lampu berubah menjadi hijau (kadang malah masih di kuning, belum sampai ke hijau), urat di otak saya mungkin ada yang langsung mem”bengkok” akibat dari bunyi klakson tersebut. Biasanya kalau kejadian itu terjadi saat saya sedang menyetir sendirian, saya malah sengaja untuk tidak menjalankan mobil saya sampai 1-2 menit kemudian biar orang di belakang saya itu puas memencet klakson. ;) Atau bila bunyi klakson sudah berhenti (tanda si pengemudi sudah “puas” atau malas memencet klaksonnya lagi) atau mobil tersebut sudah berhasil mendahului saya baik dari sebelah kiri maupun kanan, barulah saya menjalankan mobil saya.

Pernah suatu saat, saya sedang menyetir mobil akan keluar dari jalan sempit yang sebenarnya cukup untuk 2 mobil tetapi menjadi tidak cukup karena samping kiri kanannya banyak motor parkir dan gerobak tukang makanan yang mangkal. Mobil saya sudah hampir berbelok ke jalan besar ketika ada angkot yang berbelok ke arah mobil saya. Otomatis kami berdua tidak bisa maju, saya tidak bisa keluar ke jalan besar dan dia tidak bisa masuk ke jalan sempit. Sebenarnya di belakang saya ada area yang agak luas. Saya hanya perlu mundur sekitar 2 meter supaya angkot itu bisa masuk. Tetapi karena saya merasa posisi saya yang benar dan angkot itu yang mau berbelok mendadak, saya ngotot tidak mau mundur. Dalam hati saya bergumam, ’siapa suruh mau langsung belok aja.. kan bisa tunggu sebentar sampai saya ke jalan besar baru deh masuk..’ Saya pun memberi kode dengan tangan saya supaya dia mundur supaya saya bisa lewat. Sopir angkot itu berteriak menyuruh saya yang mundur. Saya ngotot diam di tempat, padahal saya tau kondisi jalan raya di belakang angkot itu cukup ramai dan akan sangat sulit bagi dia untuk mundur. Yah, begitulah ‘tabiat’ saya kalau sedang menyetir sendirian, sering keras kepala. Sekitar 3 menit saya diam di tempat, ada bapak-bapak yang menghampiri saya dan bilang, “Dik, tolong mundur sebentar dong. Angkotnya saya suruh masuk ke jalan ini buat ngangkut orang sakit.” Wah, ternyata… Baru deh saya rela mundur dan membiarkan angkot itu masuk.

Di lain waktu, ada kejadian “lucu” di depan ITC Roxy Mas yang jalanannya sedang kacau parah karena pembangunan jalan (entah apa) yang tidak selesai-selesai. Jalanan agak merayap saat itu. Saya sedang menyetir, merayap mengikuti arus perlahan-lahan. Mungkin saya terlalu perlahan. Kenek bus di belakang saya tidak sabaran, turun mengetuk kaca mobil saya dan meminta supaya saya jalan lebih cepat. Otak saya kembali “bengkok”, saya malah memberhentikan mobil saya dan tidak jalan sama sekali. Kenek bus itu mulai naik darah dan mengetuk kaca saya terus. Saya tetap diam di tempat dan pura-pura tidak mendengar sambil menggoyang-goyangkan kepala saya mengikuti irama musik di mobil saya. Sudah ada sekitar 10 meter area kosong di jalanan depan saya dan saya tetap belum menjalankan mobil. Kenek bus menghampiri bagian samping tempat saya menyetir, menggebuk kap depan mobil dengan tangannya sambil teriak ngomel-ngomel. Tau apa yang saya lakukan? Saya jalankan sih mobil saya, tetapi sebelumnya saya lihat dulu wajah si kenek dan saya julurkan lidah saya. Haha, kenek itu langsung berhenti berteriak dan menggebuk kap mobil loh. Hm.. mungkin dia pikir saya gila. :)) Mungkin teman-teman saya tidak percaya saya bisa seperti itu, karena seperti saya bilang tadi, saya suka nekad dan “iseng” hanya bila saya sedang menyetir sendirian.

Semua yang saya ceritakan di atas baru prolog. ;) Ada kejadian yang menurut saya sangat menarik yang saya alami dan menyebabkan saya sangat ingin menulis blog ini. Sayang kalau cerita ini tidak dibagi-bagi. Hari itu, 17 Mei 2007, tanggal merah. Saya bekerja di restaurant di kawasan Kelapa Gading yang hari itu juga sedang mengadakan acara puncak Jakarta Fashion and Food Festival. Alhasil restaurant tempat saya bekerja pun hari itu sangat-sangat ramai. Pencapaian omset di hari itu mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah berdirinya restaurant itu sejak tahun lalu. Hari yang cukup melelahkan karena selain ramai, 3 orang staff saya tidak masuk. Ditambah lagi ada penyumbatan di saluran drainage kitchen yang mengakibatkan luapan air, melengkapi kelelahan dan “penderitaan” saya di hari itu. Saya baru bisa meninggalkan restaurant hampir jam 12 malam untuk pulang ke rumah.

Dalam perjalanan pulang, sekitar jam setengah satu malam, saya melewati lampu merah di jalan Juanda. Saya mengarah ke kanan, ke arah Gajah Mada dan di titik ini lah ‘kejadian’ ini terjadi. Lampu sudah hijau untuk ke arah lurus, masih merah untuk ke kanan. Saya tidak menyadari itu, saya melewati lampu merah dan berbelok ke kanan. Tetapi saya sempat melihat mobil-mobil berjalan ke arah yang menghalangi saya untuk belok kanan. Saya baru sadar kalau lampu untuk ke kanan masih merah. Saya menghentikan mobil saya di posisi mobil saya sudah melewati tiang lampu merah. Di sebelah kanan saya pos polisi lengkap dengan 3 motor polisi gede di depannya. Nah, benar kan.. satu polisi menghampiri saya dengan motor itu, meminta saya untuk belok ke kanan dan meminggirkan mobil saya.

Biasa lah… periksa SIM dan STNK dan percakapan antara saya dan sang polisi. Sepertinya badan yang cape membuat otak saya juga error dan bicara asal-asalan plus agak ‘nyolot’. Kurang lebih begini lah percakapan kami..
Ps: “Sudah tau kan apa salahnya?”
Me: “Iya Pak, saya tau. Saya minta maaf Pak, saya salah liat lampu ijo buat yang lurus.”
Ps: “Ya sudah, lain kali jalankan peraturan. Sekarang saya buatkan surat tilangnya.” (sambil menulis-nulis)
Me: “Ngga bisa dibantu aja Pak?” (sambil cari-cari dompet).
Oh ya, ada yang lupa saya ceritakan.. Saya sedang dalam puncak “pelit” dan target saya di bulan ini adalah tidak mau mengeluarkan uang sama sekali kecuali untuk bensin dan jalan tol karena bulan lalu saya baru ‘habis-habisan’ mengeluarkan uang untuk jalan-jalan ke Bali. Niat saya saat itu untuk si Polisi pun tidak mau mengeluarkan uang lebih dari 10.000 rupiah.
Ps: “Dibantu bagaimana maksudnya ya?” (pura-pura tidak mengerti)
Me: “Yah.. Bapak yang bayarkan saja lah dendanya, tapi saya cuma punya uang segini.” (sambil menunjukan selembar 10ribuan)
Ps: “Ya udah, mbak bayar aja tuh di pengadilan di depan sana nanti tanggal 29″ (IlFeel abis deh tuh polisi liat duit 10ribuan. Iya lah, naek motor gede, depan pos polisi, banyak temennya… mana mau 10.000)
Me: “Yaelah Pak.. di sono juga buntut-buntutnya saya bayar juga ke calo. Udah lah Pak, saya baru pulang kerja nih.” (dalem hati mikir, apa hubungannya ya..)
Ps: “Saya malah masih harus kerja sampe besok pagi” (mulai menunjukan tampang kesal)
Me: “Itu sih urusan Bapak… Yang jelas, tolong dibantu aja lah Pak”
Ps: “Ya udah, mbak bayar aja sama yang di pengadilan. 10-15ribu mau di sana.” (udah kesel banget)
Me: “Emang bisa Pak saya bayar sekarang juga di sono?” (mengajukan pertanyaan bodoh yang saya udah tau jawabannya)
Ps: “Ngga sekarang. Tunggu nanti tanggal 29″
Me: “Tanggal 29 saya belum tentu ada di Jakarta Pak” (bohong banget, memangnya saya mau kemana…)
Ps: “Itu urusan mbak, bukan urusan saya.” (hahaha, saya dibalas)
Me: “Bapak bener-bener ga binta bantu saya?”
Ps: “Kalau semua masyarkat saya bantu ya jadinya ngga bener”
Me: “Yah.. alhamdulilah sih Pak kalau semua masyarakat bapak perlakukan seperti ini. Tapi saya yakin ngga semua masyarakat dibeginikan sih.”
Polisi itu diam sambil terus menulis-nulis.

Tiba-tiba ada satu mobil keren gaul yang melakukan pelanggaran persis seperti yang saya lakukan (hm.. berarti mungkin memang lampu merah di situ menyesatkan). Dia diberhentikan oleh motor gede yang lain di depan mobil saya. Wah, 2 motor gede dan 2 opsir polisi yang menghampiri mobil itu. Polisi yang sedang menilang saya seperti terpikir satu hal. Dia menghampiri rekannya sebentar di dekat mobil depan untuk mengatakan sesuatu, baru kemudian kembali ke dekat mobil saya untuk meminta saya menandatangani surat tilang. Hm.. saya “mencium” bau tidak benar. Saya tidak langsung menjalankan mobil saya saat polisi yang menilang saya sudah pergi dengan motor gedenya. 1 menit kemudian pengendara mobil depan keluar dari mobil mengikuti satu orang polisi menyebrang jalan menuju ke arah pos. Satu orang polisi tetap di tempat. Saya tetap tidak menjalankan mobil saya. Sebenarnya badan saya sudah cape sekali saat itu. Tetapi anehnya rasa cape itu malah tidak terlalu saya rasakan saat itu dan rasa kesal karena ditilang malah hilang. Saya merasa seperti sedang main game. :D Saya berpikir, saya sudah pasti akan mengeluarkan uang untuk menebus SIM saya nanti. Saya tidak mau keluar uang sia-sia, setidaknya saya harus puas dengan “game” yang saya mainkan sekarang.

Sekitar 5 menit kemudian saya masih di situ. Polisi satunya akhirnya membawa motor gedenya meninggalkan tempat itu. Saya tetap menunggu.. 5 menit.. 7 menit.. 10 menit.. Polisi yang tadi menyeberang duluan kembali mengambil motornya dan membawanya ke pos. Saya nyalakan mesin mobil saya (yang memang sudah sempat saya matikan). Tidak, saya tidak pulang.. saya hanya memajukan mobil saya mendekati mobil di depan saya untuk kemudian ‘parkir’ lagi di situ. Cukup lama saya menunggu. Bisa menebak apa yang saya tunggu? Saya mau menunggu pengendara mobil itu kembali ke mobil dan saya akan menghampiri pos untuk minta izin melihat SIM pengendara mobil tadi apakah benar-benar mereka tahan dan tilang. Iseng? Yah.. mungkin..

Hampir setengah jam saya menunggu. Teman si pengendara yang duduk di samping mobil depan tadi pun sepertinya sudah mulai tidak sabaran. Dia keluar dari mobil dan melihat ke arah pos. Akhirnya ada juga yang keluar dari pos, tetapi bukan si pengendara. Polisi penilang menghampiri mobil itu, kemudian masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankannya. Wah, saya bingung juga.. apa yang harus saya lakukan berikutnya.. Saya belum rela pulang begitu saja. Akhirnya.. saya keluar dari mobil, mengunci mobil saya, dan menyebrang menghampiri pos. Saya berdiri di depan pos di dekat motor-motor gede parkir. Yang saya takuti saat itu bukan dimaki-maki polisi, diisengin pengamen atau ditodong penjahat. Yang saya takuti cuma satu.. jangan sampai ada orang yang kenal dengan saya lewat jalan itu saat itu. Bisa malu saya kelihatan berdiri di depan pos polisi malam-malam buta. ;) Saya yakin pengendara mobil tadi masih ada di dalam pos. Sambil terus menunggu, iseng saya hampiri motor-motor gede yang parkir. Saya ambil handphone saya, saya lihat satu persatu nomor-nomor motor mereka sambil berpura-pura mengetikan sesuatu di HP saya. Jujur saya tidak tau juga apa manfaatnya berbuat seperti itu. Saya ingin sekali mengirim SMS ke teman-teman dekat saya untuk menceritakan sedang apa saya saat itu. Tapi niat itu saya batalkan. Saya takut mereka jadi khawatir, padahal niat saya hanya berbagi kegembiraan. Saya menikmati sekali pemainan saya malam itu. :)

Tidak lama kemudian, mobil “korban” tadi muncul dan parkir tepat di samping pos. Polisi yang menyetirnya tadi masuk lagi ke dalam pos. Saya tidak mau berdiri jauh dari mobil itu. Saya bisa melihat teman si pengendara sudah sangat tidak sabar. Jelas sekali saya melihat dia melirik berkali-kali ke jam tangannya karena kaca mobil itu dibuka. Cukup lama saya berdiri di situ. Akhirnya 2 orang polisi menghampiri saya, salah satunya adalah si penilang mobil depan tadi.
Ps: “Ada yang bisa saya bantu mbak?” (wah nada bicaranya sangat ramah)
Me: “Oh, tidak Pak. Tidak apa-apa, saya cuma mau tau aja apakah benar semua mobil yang salah ditilang, bukan cuma saya.” (sambil tersenyum)
Ps: “O iya mbak, pasti kita tilang.”
Me: “Wah, bagus kalau begitu. Seneng saya kalau memang semua polisi di sini taat peraturan”
Ps: “Iya, buku tilangnya tadi dibawa sama orang yang nilang mbak. Kita lagi nunggu dia” (memangnya buku tilang cuma ada satu ya tiap pos?)
Me: “Oh ya udah, ngga apa-apa kok Pak, saya tunggu.” (kenapa saya yang harus tunggu ya..)
Satu polisi lain mendekat. Polisi yang tadi berkata ke temannya “Ditilang aja tuh.” (kok pake kata ‘aja’ ya?)
Ps: “Udah ada belum buku tilangnya?” (bertanya dengan cepat dan suara keras seakan-akan baru sadar kalau “hampir” ’salah bicara’)
Si polisi yang baru datang tadi pergi lagi. Tapi sangat ramah loh polisi yang bersama saya saat itu. Dia malah mengajak saya ngobrol, bertanya dimana rumah saya, kerja di mana, dll dsb. Dan saat tau kalau saya kerja di restaurant dia malah bercerita kalau dia dulu pernah jadi koki, tapi nyasar jadi polisi.
Ps: “Mbak jangan salah sangka. Mobil ini prosesnya lama karena kita lagi nunggu balasan sms online dari Polda mengenai status STNKnya karena kita lihat ada kejanggalan. Status STNK itu bisa dicek melalui sms online loh mbak, mbak lihat deh” (sambil menunjukan handphone nya yang memang ada tulisan mobil nomor berapa, STNK tanggal berapa, dll dsb, saya tidak terlalu membacanya). “Mbak juga bisa cek online STNK mbak kalau mau. Tapi ya kadang begitu, responnya suka lambat. Nah mobil yang itu kita sms untuk cek status, belum ada jawabannya sampai sekarang makanya masih kita tunggu.”
Me: “Ooo begitu ya Pak. Tapi kok saya ditilang cepat sekali, kenapa yang ini lama ya Pak?”
Ps: “Ya itu tadi, karena STNKnya ada yang aneh, dan kita lagi nunggu data dari Polda”

Polisi yang tadi menilang saya datang dengan motor gedenya. Dia bertanya ke polisi yang sedang mengobrol dengan saya, “Ada masalah apa?”
“Ngga… ini.. lagi nunggu jawaban dari Polda.. lama belum masuk”
Tidak dijawab.. cuma diam beberapa saat lalu pergi lagi. Akhirnya si pengendara mobil “korban” keluar dari pos dengan muka entah dilipat berapa. Kesal sekali sepertinya dia keluar dengan membawa surat tilang berjalan ke mobilnya. Polisi yang mengobrol dengan saya mengatakan kepada saya kalau prosesnya sudah selesai. Saya masih iseng bertanya, “tapi dia bener-bener ditilang ngga Pak?”
Ps: “Benar kok mbak, itu sudah proses resmi” (sambil menghampiri mobil tadi dan meminta supaya pengendaranya menunjukan surat tilang yang dia terima). Pengendara itu benar-benar kesal. Saya yakin dia anak muda gaul yang malas ditilang dan niat sekali “berdamai” dengan si polisi. Dia melambaikan surat tilang itu ke arah saya sambil teriak, “Udah lah lu percuma.. Sama! Gue juga ditilang!” Hahaha, maap bung.. bukan maksud saya untuk merepotkan anda, anda cuma “korban”. ;) Mungkin dia berpikir saya tetap menunggu sekian lama di sana supaya SIM saya tidak jadi ditilang. Bukan kok, bukan itu tujuan saya (tapi kalau iya, bagus juga sih). Saya cuma tidak rela saja kalau si polisi berhasil mendapatkan uang dari orang itu.

Belum cukup sampai di situ, saya tanya lagi si polisi tadi, “maaf Pak, boleh saya lihat SIM orang yang ditilang barusan. Apa SIM nya benar-benar ditahan?” Hebat sekali loh polisi itu masih tetap sabar dan ramah, mengajak saya untuk ikut masuk ke dalam pos. Dia meminta SIM orang tadi ke temannya, tetapi temannya malah memberikan STNK. STNK itu ditunjukan kepada saya dan memang yang tertulis di sana sesuai dengan merk, warna, dan nomor mobil tadi.
Me: “Kok STNKnya yang ditahan ya Pak, bukan SIMnya?” (kasian orang tadi, mungkin dia lupa bawa SIM atau tidak punya SIM..)
Ps: “Kan pilihannya salah satu, SIM atau STNK. Mbak kalau mau SIMnya ditukar dengan STNK untuk ditahan juga boleh.” Ada 3 orang polisi di situ yang berusaha menjelaskan dan semuanya berbicara dengan sangat ramah, wow.. Tapi entah kemana polisi yang menilang saya tadi, mungkin tekanan darahnya naik karena saya dan tidak mau kembali ke situ sebelum saya pergi. ;)
Me: “Ya sudah lah Pak, terima kasih ya.. Saya senang sekali, ternyata memang polisi disini semuanya mengikuti prosedur” (sambil tersenyum lebar)

Bah, apa peduli saya polisi mau ikut prosedur atau tidak.. Jelas sekali mereka ‘terpaksa’ ikut prosedur malam itu. Tetapi saya cukup yakin polisi-polisi dalam pos itu (kecuali yang menilang saya) tidak terlalu kesal dengan saya. Paling mereka hanya geleng-geleng kepala dan berpikir kalo saya ceweq nekad (atau mereka pikir saya wartawan? haha). Tetapi saya tidak bohong waktu saya bilang ’saya senang sekali’. Saya benar-benar senang saat itu, lupa dengan cape saya di tempat kerja, lupa dengan perasaan kesal saat awal ditilang. Hm.. mungkin otak saya benar-benar sedang kacau malam itu. Kalau dipikir lebih dalam, tidak ada untungnya kan saya berbuat seperti itu, hanya memperlambat perjalanan pulang saya (saya baru sampai di rumah jam 2 pagi). Mungkin perasaan saya saat itu bisa dibandingkan dengan orang yang membeli coin di TimeZone untuk main game, menyelesaikan game itu sampai finish dan menang. Mungkin malah lebih senang daripada itu.. Mungkin saya memang kacau, tapi yang jelas saya melanjutkan perjalanan pulang saya dengan tersenyum puas.. sangat puas. Buat saya ini suatu ‘pengalaman’ yang sangat menarik dan mengesankan.

Comments ♥8♥


Sedikit menyimpang dari kebiasaan saya dalam menulis blog, kali ini saya hanya akan menerjemahkan ulasan yang saya temui dalam salah satu situs mengenai kepribadian berdasarkan astrologi. Tentu saja yang saya terjemahkan di sini adalah yang sesuai dengan bintang saya yaitu Aries. Tepat atau tidaknya ulasan ini, merupakan penilaian kita masing-masing. Menurut saya sih, kecocokannya (dengan diri saya) bisa mencapai 80%. ;)

Aries berada dalam urutan pertama dalam perbintangan, dan ini cukup melambangkan bagaimana orang-orang yang lahir dengan bintang ini melihat diri mereka sendiri: Yang Pertama. Para Aries adalah pemimpin-pemimpin dalam perkumpulan, maju terlebih dulu untuk menjalankan sesuatu. Apakah segala sesuatunya diselesaikan atau tidak, merupakan suatu pertanyaan lain. Para Aries jauh lebih suka untuk memulai sesuatu daripada menyelesaikannya. Bila anda mempunyai suatu pekerjaan yang harus dimulai dengan segera, hubungi seorang Aries. Kepemimpinan yang ditunjukan oleh para Aries sangatlah mengesankan. Jadi jangan heran bila mereka dapat mengerahkan pasukan untuk melawan rintangan yang terlihat tidak dapat diatasi, mereka memiliki kemampuan magnetik semacam itu. Para Aries juga tidak akan takut memasuki daerah baru. Mereka yang lahir dengan bintang ini sering disebut sebagai juara dalam perbintangan, dan rasa tidak takut mereka untuk terjun ke dalam sesuatu yang belum pernah diketahui sebelumnya membuat mereka menjadi pemenang. Aries adalah sekumpulan energi dan dinamika, serta penggerak dari orang-orang mereka. Dini hari dari suatu hari yang baru dan segala kemungkinannya, adalah kebahagiaan murni bagi seorang Aries.

Aries dilambangkan dengan domba jantan, dan ini bisa merupakan suatu kabar baik, sekaligus buruk. Aries yang selalu menuruti kata hati (dan ini tidak sedikit jumlahnya) mungkin akan cenderung memaksakan idenya kepada orang lain. Apabila hal ini ditujukan untuk sesuatu yang jauh lebih baik hasilnya, maka tidak akan menjadi masalah. Tetapi adakalanya suatu ide dipaksakan oleh seorang Aries untuk suatu alasan yang tidak jelas, dan pada saat itu kita akan sangat berharap agar mereka bisa sedikit melunak. Jangan terlalu berharap, karena Aries memiliki sifat untuk berbicara secara langsung dan tagas. Bersamaan dengan itu, Aries juga memiliki kecenderungan kuat untuk mencapai keberhasilan dalam hal-hal besar. Sebagian besar kendali untuk mencapai keberhasilan didukung oleh sifat kepemimpinan yang dimiliki oleh Aries. Simbol kepemimpinan sangat suka untuk membuat sesuatu berjalan, dan Aries memberikan contoh untuk ini lebih baik daripada siapapun.

Aries dikuasai oleh Planet Mars. Melihat sekilas pada mitos Romawi kuno, kita mengetahui bahwa Mars adalah dewa perang. Para Mars tidak takut untuk berperang, dan kurang lebih seperti inilah Aries dapat dikatakan. Mereka tegas, agresif, dan pemberani. Mereka dapat mengumpulkan kekuatan pribadi yang diperlukan oleh hampir setiap orang, dan kemungkinan besar mereka akan menang. Aries tidak kekurangan tenaga maupun kekuatan dan mereka dapat bertahan dalam suatu permainan lebih lama daripada kebanyakan orang lain, dan ini adalah kunci kemenangan.

Domba jantan ini juga mandiri dalam hampir setiap segi, dan sangat memperhatikan minat mereka sendiri dalam segala situasi. Pandangan sempit yang kadang terjadi ini mungkin bukan untuk setiap orang, tetapi ini sangat membantu Aries dalam membuat sesuatu dapat berjalan. Lebih jauh, sifat alami mereka untuk bersaing semakin mempertegas bahwa mereka akan melakukan permainan dengan semangat dan tenaga. Saat-saat tertentu, sikap mereka mungkin terkesan sombong dan mendominasi. Tetapi perlu konsentrasi penuh untuk menjadi seorang pemimpin (atau ini yang akan dikatakan oleh seorang Aries). Sayangnya, para Aries tidak sering hadir di saat kemenangan akhir (Menyerah? Tidak pernah). Mereka lebih menyukai untuk terjun ke pekerjaan berikutnya sebelum yang pertama selesai.

Elemen yang berhubungan dengan Aries adalah Api. Ini berhubungan dengan tindakan, sifat antusias, dan semangat membara untuk melakukan sesuatu. Aries mencintai kegiatan fisik, karenanya mereka tidak akan duduk diam di tepian untuk waktu lama. Mereka akan melompat ke dalam keramaian dengan penuh semangat dan ikut aktif dalam proses tersebut. Mereka adalah orang-orang yang sangat gigih. Memang, beberapa keputusan mereka terbukti dibuat dengan terburu-buru dan gegabah. Tetapi anda tidak akan pernah menemukan seorang Aries yang menyesali hal ini. Membuat sesuatu terjadi, inilah yang utama bagi mereka. Aries juga tidak takut untuk melangkah ke daerah baru. Tantangan untuk menguasai sesuatu yang belum diketahui adalah surga dunia untuk Domba jantan ini. Mereka mungkin memang terlihat sombong saat mereka berusaha menguasai dunia. Tetapi mereka akan memberitahukan anda dengan cepat bahwa itulah satu-satunya jalan yang dapat diambil. Kata-kata yang mungkin sering terdengar dari para Aries adalah ’saya terlebih dahulu’. Tidak ada gunanya berargumentasi dengan mereka tentang hal ini, karena dalam pikiran mereka, mereka adalah Yang Pertama. Apakah ini merupakan ego yang tidak terkendali? Mungkin saja, tetapi mungkin ini yang dibutuhkan untuk menyalakan suatu cahaya baru. Oh ya, mengenai berargumentasi, domba jantan ini lah yang akan mengeluarkan kata-kata yang terakhir. Jadi lebih baik hematlah nafas anda.

Aries dalam bermain terlihat sangat bersungguh-sungguh, sekeras saat mereka bekerja. Mereka paling menyukai permainan yang memerlukan semangat tinggi seperti sepak bola, atau berurusan dengan seni perang. Dalam permainan cinta, kobaran semangat Aries tidak perlu dipertanyakan, meskipun Aries juga dapat bersenang-senang dan bersikap romantis terhadap pasangan mereka. Karena Aries menguasai kepala, wajah, dan otak, mereka yang lahir dengan bintang ini harus waspada akan penyakit kepala dan harus sering mengambil nafas dalam-dalam. Warna dari bintang ini adalah merah menyala, yang semakin mempertegas simbol api yang ada padanya. Kekuatan besar yang dimiliki oleh para Aries adalah inisiatif, keberanian, dan ketegasan mereka. Mereka suka membuat sesuatu berjalan dan tidak mempunyai rasa takut dalam menjalaninya. Sifat dinamis dan semangat bersaing mereka patut diperhitungkan untuk setiap pekerjaan yang mereka ambil.

♥ Give comment ♥


Ini adalah pertama kalinya saya membuat blog. Pada awalnya, saya tidak tau apa yang dimaksud dengan blog. Jujur, sampai detik ini pun saya belum mengerti sepenuhnya. Saya coba cari di kamus, tapi tetap tidak menemukan artinya. Setelah membaca sekian banyak blog dari sekian banyak orang, akhirnya saya menyimpulkan bahwa blog itu adalah tempat seseorang untuk menuliskan/mengetik sesuatu secara panjang lebar tentang apa saja tanpa peduli apakah ada yang akan membacanya atau tidak, meskipun dalam hati kecil kita pasti tetap saja ada harapan bahwa apa yang kita tulis itu akan dibaca oleh beberapa orang tertentu.

Dari aneka blog yang pernah saya baca, dapat terlihat typical penulisan dari sang bloggers. Ada yang memakai bahasa baku, bahasa sehari-hari, bahasa gado-gado, maupun bahasa asal. Ada blog yang jelas arah tujuannya, ada yang berputar-putar sebelum mencapai tujuan, ada juga yang tidak tentu arah. Dari ilmu pengetahuan, informasi, gosip, sekedar iseng, atau malah hanya berupa go public diary, sepertinya semua bisa masuk ke dalam dunia yang satu ini. Saya sendiri lebih memilih bahasa yang setengah baku seperti sekarang dan mungkin termasuk dalam salah satu kategori yang tidak tentu arah. Sebagai seorang amatir, kesulitan saya yang utama adalah dalam pembuatan judul. Semoga dengan berjalannya waktu, kemampuan saya akan semakin berkembang dan judul-judul blog berikutnya tidak hanya akan berkisar pada blog kedua, ketiga, dan seterusnya..

Niat saya untuk mulai terlibat dalam dunia blog timbul beberapa detik yang lalu. Saya baru saja mengirim e-mail yang sangat panjang untuk seseorang. Kemudian saya log-in di friendster dan kembali menulis message yang sangat panjang untuk seseorang. Alhasil, saya kecewa karena ternyata jumlah character dalam message friendster itu terbatas dan saya tidak bisa menulis sepanjang yang saya inginkan. Tapi dari situ saya berpikir, pasti ada alasan dari si pendiri friendster untuk membatasi jumlah huruf dalam message. Penerima dari message/e-mail yang kita kirimkan belum tentu senang atau punya waktu untuk membaca mail yang panjang lebar dari seseorang. Pikiran yang timbul selanjutnya adalah, mungkin saja selama ini mail-mail panjang yang sering saya kirimkan sering tidak terbaca sepenuhnya oleh si penerima mail. Bila memang demikian adanya, rasanya cukup menyedihkan.. Saya menulis panjang lebar, berharap orang yang saya tuju membaca dengan seksama, padahal belum tentu orang itu punya waktu yang cukup. Lebih baik, kalau memang saya punya hobi untuk menulis/mengetik panjang lebar, saya tuangkan saja dalam blog. Ini akan menghindari resiko kekecewaan karena sejak awal pengetikan saya sudah menyadari bahwa apa yang saya tulis belum tentu ada yang membaca ataupun merespon. Bila ada orang yang pada akhirnya memberikan respon berarti orang tersebut memang menunjukan niat untuk membaca, karena orang yang tidak punya waktu tidak akan membuang lagi sedikit dari waktunya yang berharga untuk membaca blog orang lain.

Saya yakin seyakin-yakinnya kalau blogs yang akan saya tulis berikutnya tidak akan terlalu berbobot apalagi bila dibandingkan dengan blog dari kakak saya yang saya nilai sebagai salah satu blogger handal yang selalu bisa memberikan sumber-sumber ilmiah maupun link-link khusus dalam setiap blog-nya. Apa yang akan saya sajikan dalam ketikan saya kemungkinan besar hanyalah berupa pengalaman-pengalaman hidup saya maupun “teori-teori” yang datangnya hanya dari otak saya dan berdasar dari hati saya. Banyak teman dan rekan saya yang mengatakan bahwa saya mampu meyakinkan orang dengan pengalaman pribadi saya maupun “teori-teori” tertentu yang kadang aneh dan tidak terpikirkan oleh orang lain atau malah bertentangan dengan “teori” umumnya. Jadi sangatlah disayangkan bila “bakat” saya itu tidak saya pertahankan dan saya bina lebih lanjut :) Sebenarnya, itu adalah kalimat yang lebih halus daripada kalimat “kapan lagi saya bisa berbicara seenaknya tentang diri saya dan pikiran-pikiran saya dan berharap orang yang membaca bisa lebih mengenal saya..” ;)

Comment ♥1♥