Saat saya mulai merencanakan untuk hidup di negri ini, saya membayangkan suatu negara yang individual. Saya membayangkan kehidupan yang jauh berbeda dengan Indonesia dimana ‘ngumpul-ngumpul’ adalah suatu “keharusan”. Waktu itu saya berpikir bahwa di Singapore saya akan bisa bersikap sangat ‘individualis’ dan ‘tidak peduli sekitar’, tidak perlu ‘bersosialisasi’ meskipun bukan berarti ‘mengurung diri’. “Informasi” tentang lingkungan kerja di Singapore yang saya dapatkan dari sana sini pun sebagian besar mengatakan bahwa suasana kerja di sini akan dipenuhi dengan saling lempar kesalahan, menjilat atasan, tikam dari belakang, dll dsb yang buruk-buruk. Semua hal ini membuat saya berpikir bahwa saya mungkin tidak akan ‘berteman’ dengan rekan-rekan kerja di Singapore, atau minimum membutuhkan waktu sangat lama untuk bisa ‘menyatu’ dengan mereka.

Tetapi ternyata, tanggal 15 Juli kemarin.. hanya lewat 1 hari setelah saya melewati masa probation saya di tempat kerja dan mendapatkan confirmation letter :)^- , saya mendapatkan “undangan” untuk makan-makan di rumah ‘mantan manager’ saya yang bernama Debbie. Bukan Debbie yang mengundang saya, tetapi staff lain yang membuat ide ini. Dia mengajak teman-teman sekerja untuk makan-makan di rumah Debbie. Ide ini disambut baik karena kita memang cukup lama tidak bertemu Debbie sejak dia diberhentikan dari tempat kerja. Hm.. mungkin seharusnya saya juga menulis ‘cerita’ tentang saat dia diberhentikan. Tetapi kalau saya ceritakan, blog ini bisa jadi sangat panjang. Intinya, dia diberhentikan hanya dengan one day notice dari higher management level padahal dia sudah 10 tahun bekerja. Apapun alasannya, saya pikir harusnya mereka tetap memberikan pemberitahuan sebulan sebelumnya dan bukan hanya memberikan termination letter di hari terakhirnya meskipun untuk itu dia diberikan penggantian sebulan gaji. Well.. mungkin memang beginikah adanya? Welcome to Singapore?? :-/

Anyway.. mari kita masuk ke pokok cerita yaitu makan-makan nya. :D Saya lupa menghitung ada berapa orang yang datang ke rumah Debbie. Menurut sms yang saya dapat dari Ian (si pencetus ide) sehari sebelumnya sih ada 12 orang. Tetapi sepertinya lebih dari itu deh. Kita diminta untuk membawa masing-masing satu jenis makanan untuk dimakan bersama-sama.. Ide bagus untuk sebuah pesta. ;) Acara dimulai dengan ‘makanan utama’ yang sebagian besar berupa ayam. Ada ayam kari, fried chicken wings, dan jenis-jenis menu ayam lainnya yang saya tidak tau namanya. Saya sendiri membawa rujak selada buatan nyokap yang kebetulan sedang berada di Singapore. Makanan lainnya yang ada di situ antara lain bihun, sup ikan (yang disebut oleh Khalis si pembuat sup sebagai tom yam tanpa cabe :)) ), bakwa (bacon babi yang dibeli ‘dadakan’ di Compass Point dan sudah di’comot-comot’ sepanjang perjalanan :D ), makaroni, roti baguette, dan entah apa lagi. Yang jelas makanannya super banyak karena tiap orang mungkin menyiapkan makanan untuk sejumlah 12 orang. Ditambah lagi, Debbie sendiri juga menyiapkan makanan cukup banyak untuk kita. Jumlah orang yang ada pada photo di bawah tepat 12 orang, tetapi masih ada beberapa orang lagi yang ada di luar photo tersebut.

Setelah puas dan kenyang dengan makanan utama, meja makan pun dibersihkan. ‘Minuman-minuman’ pun bermunculan. Ternyata “isyu” yang mengatakan bahwa Debbie menyimpan banyak “minuman” di rumahnya bukan sekedar isyu belaka. ;) Saya bukan penggemar ‘alkohol’, jadi saya tidak begitu memperhatikan. Pusat perhatian saya hanya kepada minuman ‘Heaven and Earth’ (teh hijau manis botolan). :) Sekilas saya lihat ada 4 jenis minuman beralkohol yang dikeluarkan yaitu Jack D, Chivas, Absolut, dan 1 jenis minuman lagi saya lupa. Dan saya baru tau kalau ternyata whiskey itu cocok juga dicampur dengan teh hijau. :D

Acara dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol, haha hihi (sambil makan tadi juga sudah ngobrol dan haha hihi sih), dan main kartu. Saya tidak ikutan bermain kartu karena yang kalah harus “minum”.

Permainan kartu nya sangat sederhana. Mereka hanya perlu mengambil 2 buah kartu, lalu meletakannya di depan kepala mereka supaya tidak dapat melihat kartu mereka sendiri. Tiap pemain punya kesempatan untuk menukar salah satu kartu yang mereka miliki tanpa tau kartu apa yang mereka tukar (hanya bermodalkan kepercayaan pada kata-kata pemain lainnya yang mungkin berbohong). Pemain dengan jumlah kartu terkecil lah yang kalah dan harus menerima “hukuman”.

Selang beberapa saat, pengaruh dari ‘rangsangan alkohol’ dan ‘gerakan haha hihi’ menyebabkan perut menjadi kembali lapar. Saatnya untuk kembali menyantap hidangan. Dessert pun dikeluarkan. Calvin yang berulang tahun di keesokan harinya membawa 2 buah chocolate cake yang yummie dan kita tidak lupa untuk menyanyikan happy birthday untuk kue nya :)) sebelum kue itu dipotong. Jocelyn membuat dessert yang cukup unik dengan apel dan fungus (sejenis jamur) di dalamnya. Ian ‘mencela’ dessert itu dengan sebutan ‘auntie dessert’. Saya pribadi cukup suka dengan rasanya, tetapi mungkin saya lebih suka kalau dessert itu dimakan hangat.. bukan dingin. Oh ya, masih ada satu jenis dessert lagi yang tidak sempat ter-foto karena mungkin kita sudah sangat antusias untuk menghabiskannya… :D ice cream Ben & Jerry yang dibeli oleh Schenelle, lagi-lagi secara dadakan di Compass Point. Dua rasa.. ‘Chocolate Chip Cookie Dough’ dan ‘Strawberry Cheesecake’.. Dua duanya enak.. yummie. =P~

Tanda waktu menunjukan hampir pukul dua belas malam. Saya sudah harus pulang sebelum berubah kembali menjadi upik abu. :D Tepatnya saya harus pulang supaya tidak ketinggalan bis terakhir. Sebenarnya rumah Debbie tidak terlalu jauh dari rumah saya di Sengkang, masih bisa ditempuh dengan jalan kaki. Tapi… saya tidak tau jalan.. o^ Jadi lebih baik saya pulang sebelum bis terakhir lewat.. dan meninggalkan mereka yang masih asik bermain kartu dan ber-haha hihi. Nice dinner. Siapa bilang orang Singapore individualis… Sedangkan saya? :-??

Comments ♥3♥


Sebenarnya saya sedang tidak dalam ‘mood’ yang baik untuk menulis blog. Dan sebenarnya saya juga tidak terlau suka menulis sebuah review dalam blog saya. Tetapi berhubung sudah ada “bahan”nya.. biarlah saya masukan saja. ;) Sebagai akibatnya, tulisan ini tidak akan sepanjang blog-blog saya yang lain. :P

Dimsum adalah salah satu jenis makanan kesukaan saya. Awalnya saya belum mengetahui dimana saya bisa menemui dimsum yang enak (dan tidak mahal) di Singapore. Kebetulan beberapa saat yang lalu, kakak saya mengajak saya untuk ‘merayakan’ ulang tahun saya dengan makan dimsum di Geylang. Dari jauh, tempatnya terlihat sangat biasa, seperti restoran-restoran kecil pinggir jalan di Indonesia. Saya tidak menemui ejaan alphabet untuk menyebut nama restoran dimsum ini. Tetapi dengan modal foto di bawah dan ‘buka-buka’ kamus, akhirnya saya mengetahui nama restoran ini adalah Wen Dao Shi (dalam ejaan ‘pinyin’ yang benar) atau ‘wen tao se’ (dalam ucapan bebas bahasa Indonesia).

Sebenarnya kata pertama (Wen) dalam restaurant tersebut tidak bisa saya temukan di kamus. Tapi ada yang ‘bentuk’nya mirip seperti itu dan dibaca ‘wen’. Setelah “googling” sana sini, ternyata memang kata itu dibaca ‘wen’. Kata tersebut tidak ada di kamus mungkin karena memang tidak ada artinya. Setelah saya telusuri lebih lanjut, ternyata asal usul dari nama restaurant itu sangat simple yaitu Wen Dou Sek, bahasa Cantonese yang berarti 126. Mengapa 126? Karena lokasinya berada di 126 Sims Avenue (dekat Geylang lorong 17). Simple kan? ;)

Seperti yang sudah saya katakan, saya tidak terlalu suka untuk menulis sebuah review. Jadi, saya hanya akan mengatakan bahwa saat ini tempat dimsum terenak (dan murah) yang pernah saya kunjungi di Singapore (menurut saya) adalah Wen Dao Shi ini. Memang belum banyak yang saya jadikan bahan perbandingan sih. Salah satu pembandingnya adalah Victor’s Kitchen di Sunshine Plaza, Bencoolen Street yang mempunyai kelas hampir sama dan tingkat keramaian yang relatif lebih tinggi daripada Wen Dao Shi, padahal (menurut saya lagi) rasa makanannya masih kalah. Mungkin lidah Indonesia saya lebih menyukai makanan yang rasanya lebih ‘medok’ dibandingkan dengan para Singaporean.

Foto di atas adalah foto-foto makanan di Wen Dao Shi yang saya ambil dengan handphone berkamera VGA standard. Jadi yah.. begitu saja lah hasilnya. Yang unik dari restaurant ini adalah sambalnya yang benar-benar ok untuk dimsum dan minumannya yang agak ‘beda’ dari tempat lain. Kalau saya tidak salah, di sini tidak ada teh atau kopi. Hanya ada 4 pilihan minuman yaitu tebu, lemon kiamboi, barley lidah buaya, dan (kalau tidak salah lagi..) cincau. Dan, sekali lagi karena saya ‘agak malas’ menulis review.. lebih baik anda kunjungi dan coba sendiri ke sana. :D Oh iya, restaurant ini buka 24 jam loh. Kalau memang masih sangat ingin baca review-nya, saya refer ke blog orang lain saja yah.. yang saya dapat kan dari ‘googling’ juga :)^-

Comments ♥6♥